
Ibunya Ana sudah mempersiapkan alat untuk melindungi mereka yaitu sebuah kalung, Kris pakai kalung dan Roy berupa gelang yang masih dibuatkan, meskipun aku tak percaya dengan jimat tapi Ana meyakinkan kalau hal ini adalah bentuk pencegahan agar secara fisik atau mental mereka tetap baik-baik aja meskipun mereka gak bisa melihat makhluk lain. Jadi aku ngikut aja, toh semua ini demi kebaikan mereka dan memang berbahaya jadi jika hal itu membuat mereka bisa sedikit tenang jadinya gak apa.
Setelah rapat selesai, ternyata para intern sudah kembali dan dilanjut rapat dengan intern karna kita harus mulai membagi kegiatan dengan resmi, rapat itu aku percayakan dengan Ana dan Kris sedangkan aku ada janji temu dengan bos di kantor satunya. Memang cukup repot ya bekerja double-double tapi gajinya tidak mengkhianati, aku pamit ke semuanya dan mulai pergi, aku lihat Aca sibuk dengan pekerjaanya sampai-sampai dia tak melihatku pergi, cukup menyebalkan tapi yasudahlah.
Aku pergi menemui bos dan lanjut ngobrolin hal yang penting dan akhirnya selesai ternyata bertemu dengan Dina, dia meminta waktu sebentar untuk mengobrol denganku, sedangkan saat ini posisi sudah hampir jam 5 sore, aku harus segera balik kantor agar bisa bertemu dengan Aca, tapi karna Dina memaksa dengan raut muka yang tidak mengenakkan jadinya aku setuju saja, kita ngobrol di kantin kantor.
“Kamu apa kabar ?” Tanya Dina.
“Baik kok, kamu sendiri gimana ?” tanyaku basa-basi.
“Kurang baik sih, kamu udah beneran sama Aca ya? Kemarin aku lihat snap ig mu.” Jawab Dina.
“Ya emang sama Aca, kenapa gak percayaan banget?” tanyaku heran.
“Bukan gak percaya sih, tapi lebih ke kek impossible gitu.” Jawab Dina sambil mengernyitkan mukanya.
“Kenapa bisa impossible?” tanyaku.
“Aca kan keknya gak suka kamu, waktu terjadi salah paham juga dia biasa aja,” jawab Dina.
“Bukan diam aja sih, lebih ke bisa mengontrol emosi.” Bantahku
“Hmm… jadi dia bisa mengendalikan emosinya, tapi emang nampak happy banget yaa di story mu.” Jawabnya.
“Ya tentu happy, terus inti nya kenapa nih?” tanyaku.
__ADS_1
“Gak kenapa-kenapa sih, cuma mau memastikan apakah masih ada tempat untukku?” tanyanya dengan sangat percaya diri yang tinggi.
Dina memang cantik, mirip cewek korea karna bertubuh tinggi dan kurus serta rambut panjangnya, apalagi stylenya emang korea banget. Banyak sekali lelaki yang menyukainya karna dia memang fashionable dan friendly tapi mengapa dia suka aku tuh aneh juga.
“Maaf ya Dina.” Jawabku berusaha tidak menyakiti hati cewek dengan meminta maaf secara tulus.
“Apa yang kamu suka dari dia? Dia tidak begitu cantik, berbadan tidak proporsional, wataknya juga keras dan seperti cuek sekali dengan penampilan dan dirinya sendiri.” Tanya Dina.
“Ya gimana, aku kan bukan laki-laki yang suka karna body, menurutku pribadinya Aca yang mungkin orang luar tak mengenal dia akan dianggap tidak menyenangkan, padahal dia sangat-sangat diluar ekspektasi orang kebanyakan.” Jawabku dengan tenang padahal gak terima Aca di gituin sama nih cewek sok tau banget.
“Tapi Kan kamu bisa dapet yang lebih baik agar nampak sebanding.” Ujarnya yang membuatku sakit hati mendengarnya.
“Sebanding? Manusia memang hanya pandai menilai dan mengkotak-kotakkan manusia lainnya ya? Maaf ya Din, aku harus segera balik karna ada yang menungguku.” Ujarku lalu meninggalkan Dina.
“Halo bi, kamu dimana ?” tanyanya.
“Di jalan sayangku, kenapa? Aku udah hampir sampai kantor kok.” Jawabku.
“Tante Marenta sama mbah putri nyuruh aku ke mall, nemenin mereka nonton bioskop,” jawabnya.
“Hah? Jam berapa ?” tanyaku.
“Bioskopnya sih jam 7 katanya dimulainya, aku juga gak tau nonton apa, kamu diajak juga gak ?” tanyanya.
“Gak tuh, kamu sekarang di kantor kan? Tunggu aku ya, biar kita kesana bareng-bareng.” Ujarku.
__ADS_1
“Terus motorku gimana ?” Tanya Aca.
“Tinggal aja di kantor, sayang.” Jawabku.
“Eh.. eh Toby, kau balik ke kantor kan? Aku masih mau nginep rumahmu, entar motor Aca biar aku pinjem yak, terus kunci rumahmu kasih aku.” Ucap Roy yang tiba-tiba pegang HP Aca.
“Iya dah serah mu.” Jawabku.
“Oke, bye!” Jawab Roy langsung matiin telepon.
Punya temen ngeselin bener sih, heran dan bikin jengkel, tapi dia sahabat terbaikku. Jadi seperti sudah memaklumi segala tingkahnya. Sampailah di kantor, aku langsung bersih-bersih dulu ke kamar mandi sebelum nonton bioskop sama Aca, kasih kunci rumah ke Roy dan Aca pun juga udah bersiap buat ke mall. Anak- anak yang lain masih sibuk dengan urusan sendiri, jadinya mereka seperti tak peduli karna mereka memang banyak sekali jadwalnya, sedangkan anak intern sudah dipaksa Aca untuk pulang, karna mereka harus pulang tepat waktu.
Sampailah kita di mall dan menemui mama dan mbah putri yang lagi asik di food court makan ice cream, mereka kaget karna ku juga datang padahal mereka hanya mau jalan sama calon menantunya aja, ngeselin sih ini keluarga bisanya aku dibuang dan mereka cuma mau nonton dan belanja sama-sama wanitanya.
“Nak kamu ngapain disini? Cuma mau nganter Aca kan?” tanya mama.
“Gak, aku juga mau nonton bioskop.” Jawabku.
“Ngapain nak? Kami mau nonton film india lagi diputar hari ini.” Jawab mbah putri.
“Kok ngapain? Aku juga bisa nonton segala genre kok.” Jawabku yang gak terima.
Sedangkan Aca dan semuanya hanya tertawa karna merasa aku lucu, akhirnya Aca dan aku membelikan tiketnya dan menyuruh para orang tua untuk menunggu aja, Aca juga gak menyangka kalau mereka hanya mau pergi dengan mereka, malah anak sendiri diusir itu kan gemesin, ngeliat Aca senang dan ketawa gini aku juga ngakak sendiri sih ngeliat keluargaku yang hangat dan menganggap calon mantunya adalah anak sendiri itu aku bahagia dan bersyukur, Aca bisa diterima di keluarga dan merasa bahagia.
Akhirnya kami semua nonton film india yang entah kenapa filmnya sedih sekali, aku jadi ikut masuk ke dalam filmnya, mbah putri menangis karna terlalu ikut ke ceritanya, mama juga merasa sedih, dan saat aku melihat Aca, mukanya sangat mendalami dengan mata yang berkaca-kaca, lalu aku menggenggam tangannya, dan Aca membalas dengan memeluk tanganku, rasanya senang banget. Ternyata Aca juga bisa semanis ini.
__ADS_1