Rumah 7 Turunan

Rumah 7 Turunan
157. Perfume


__ADS_3

Beberapa minggu kemudian setelah aku healing dan mereset diri bahwa aku cukup pantas dicintai dengan baik dan aku segera move on dan gak mau terlalu terpikir hal-hal yang tidak penting, aku isi dengan pekerjaanku yang sudah lama aku tinggalkan, dengan ada kerjaan diluar kota dan juga aku langsung handle pekerjaanku langsung ditemani dengan anak divisiku yang sudah semakin jago dan membuatku happy. Aku juga heran mengapa hal itu yang sebenarnya sederhana bisa membuatku begitu terpuruk, ternyata memang seperti kita menyukai parfum, maka aromanya akan selalu melekat dan posisi kemarin aku berupaya dengan tangguh untuk tak menyukai parfum itu lagi. Aroma yang kuat sekaligus membunuh dengan ketajaman aroma, aku akan berganti aroma, aroma itu bukanlah favoritku lagi, dalam artian aku tak akan memakai parfum itu lagi.


Perjalanan bisnis beberapa hari lalu sangat menyenangkan dan juga membuat kenangan tersendiri, dan terlebih pendapatan kami semakin bertambah dengan bertambahnya channel juga agar lebih dikenal, aku dan Ana sangat mengupayakan itu, dan juga bulan depan kami sudah harus bersiap untuk pindah kantor ke rumah Roy, aku dengan terpaksa dan meminta maaf kepada teman-teman yang sudah nyaman dengan kantor baru, tetapi Roy yang berjanji akan membuat suasana rumahnya menjadi tempat yang nyaman, kan memang rumahnya bagus dan dikawasan elit jadi jelas nyaman aja, dan anak-anak juga suka-suka aja, aku belum menghubungi Toby dan dia pun tak ada niatan untuk menghubungiku jadi memang ini sudah selesai dan aku ingin menyerahkannya ke pihak keluarganya karna dia jauh, tapi kami masih pelan-pelan merombak rumah Roy dengan persetujuan orang tua Roy. 


Malam ini ada dirumah Roy setelah rapat dan semuanya pulang, aku masih memikirkan ruangan yang disekat untuk ruangan produksi dan juga barang-barang asli rumah Roy ini dikemanakan karna cukup banyak, dia dengan santainya yang tidak perlu taruh gudang aja sedangkan kek sayang banget gitu terlebih pasti barang-barang rumah ini mahal. Roy membuatkan kopi dan dia bermain gitar dengan menyanyikan lagu Aligate yang berjudul Moonlight, dia menyanyikannya dengan sangat menjiwai sekali, seakan menghibur dirinya sendiri dan tak langsung memberikan kode kepadaku kalau tidak ada orang lain yang mencintaiku seperti dia mencintaiku, aku mendengarkannya dengan seksama dan sesekali tersenyum dengan suaranya yang bagi wanita lain suara macam enak buat sleep call. Aku tau kalau anak-anak kantor mengharapkanku cepat move on dan liat yang ada didepan mata saja, tak perlu lihat ke belakang ataupun mencari-cari yang tak ada, padahal ada didepan mata siapa yang paling sayang dan melindungiku, dan aku hanya mendengarkan saran mereka yang menyuruhku jangan tutup mata melulu dan buka hati, aku hanya tersenyum dan berusaha memahami maksud mereka dan menerapkannya. 

__ADS_1


“Enak gak suaraku?” Tanya Roy.


“Enak dong… “ jawabku sambil tersenyum.


“You the reason I believe that love is real (love is real) Ain't nobody make me feel, the way you make me feel Darling, tell me is it real? Or was I lying to myself just to make it feel so real?” jawabku dengan nyanyi lagunya dan kami duet lagu itu bersama.

__ADS_1


Setelah menyanyi bersama aku pamit pulang dan dia mengantarku pulang dengan mobilnya akhirnya motorku di tinggal dirumahnya karna sedikit gerimis dan dia sudah heboh gak karuan padahal aku punya mantel. Di perjalanan aku bertanya bagaimana bisa orang tuanya menyetujui rumahnya dijadikan kantor, dan katanya dari pada aku selalu sendirian lebih baik memang rumah itu dipergunakan dengan baik toh memang cukup luas dan lantai pertama bisa memang benar-benar untuk kantor dan lantai atas dibuat benar-benar rumah. Dia juga bercerita kalau keluarganya ingin dia ke kantor papanya untuk jabatan pekerjaan karna memang tidak ada penerus dan harus dia yang meneruskan, tetapi Roy bilang dia mau dengan syarat kalau dia tidak tinggal disana dan tetap bisa mengurus pekerjaan disini, dan hal itu menjadi perdebatan, tetapi dia sudah jujur kepada kedua orang tuanya kalau dia mencintai dan menyayangiku, dia tak ingin meninggalkanku, padahal posisi aku ada tunangan bisanya dia bilang gitu ke orang tuanya, aku jadi kaget dan dia cukup sedih dan banyak bahagianya kalau aku sudah tak lagi bertunangan dan dia punya kesempatan, akhirnya orang tuanya mendukung dan menyemangatinya kalau memang benar-benar serius mengasihi maka kasihi dengan sungguh-sungguh. Aku yang mendengar itu sangat shock terlebih aku sudah hafal dengan keluarganya karna memang aku sering diajak ke acara keluarganya dan sangat tau bagaimana kerasnya keluarganya, karna memang Roy kurang kasih sayang hanya dihujani uang yang sangat stabil tapi dia juga tak manja selama aku berteman dengannya, mungkin benar kalau dia mencoba merasa dicintai dengan mantannya yang banyak itu, tetapi dia tak mendapatkannya karna orang-orang tau dia memang tampan dan kaya, jadi belum tentu tulus dan dia masih mencari dan mencari, ternyata yang dia sayangi ada disampingnya, dan aku juga selama berteman dengannya tak tahu dengan hal ini dan tak pernah juga kepikiran.


Hanya saja dulu dia pernah bilang dengan bercanda, kalau kelak kita belum menemukan jodoh mungkin kita yang berjodoh, dan itu hanya konteks bercanda, aku gak tau kalau dia berbicara dengan serius karna memang ni anak terlalu konyol dan humor untuk aku yang cukup cuek dan sedikit galak dalam menjalani hari, jadi pertemanan kami bertiga aku, Ana dan Roy memang diisi dengan hal-hal konyol. Ana yang primadona dan Roy yang terkenal dimanapun dan aku yang cuek dan sedikit dingin dan sebagai sosok pendengar sedangkan kedua temanku ini doyang ngomong menjadikan kami berteman dengan rasa yang tulus, memang banyak perdebatan banyak pertengkaran tetapi tak pernah sampai bermusuhan, paling teriak-teriak satu sama lain, habis itu diem dan berteman lagi seperti biasanya, aku baru menyadari hal ini dan patut disyukuri kalau aku tak sendirian karna banyak cinta di sekelilingku, beberapa minggu aku lupa dengan kisah-kisah horor yang aku jadikan hal wajib adalah aku yang merasa bisa menerima diriku dengan diriku yang seperti ini, aku patut mencintai diriku sendiri sebelum menerima cinta dari orang lain.


Sesampainya dirumah ternyata aku terkejut kalau ada Toby menunggu didepan rumah, sedangkan bapak belum pulang, Roy langsung emosi dan Toby pun kepancing dan aku hanya melihat pertengkaran mereka, hanya melihat tanpa memisahkan, ku tinggal masuk rumah sampai akhirnya mereka dipisahkan bapak kebetulan juga bapak baru pulang. Mereka masuk rumah dengan keadaan babak belur karna baku hantam yang cukup seru mungkin. Aku hanya diam aja karna giliran aku sudah berdamai dengan diriku sendiri sosok yang tidak diharapkan malah datang.

__ADS_1


__ADS_2