Rumah 7 Turunan

Rumah 7 Turunan
81. Toby [11]


__ADS_3

Kira-kira cukup lama kami bertamu dan tiba saatnya kami kembali ke kantor, saat kami pamit pun dibawakan singkong dan berterimakasih terus-terusan karna mereka suka sekali jika ada orang yang berkunjung kerumahnya. Kami pun juga menyampaikan terimakasih sebanyak-banyaknya karna diberitakan beberapa wejangan yang sangat berguna bagi kami.


Saat perjalanan pulang aku dan Aca hanya bisa diam tak berbicara apapun hanya diam saja, banyak yang harus dipikirkan dan ditelaah dalam-dalam, sesampainya di kantor anak-anak sudah bersiap untuk pulang ternyata. Mereka penasaran dengan kunjungan kami tadi, jadi kami berencana untuk ngobrol sekalian makan. 


Roy langsung reservasi makanan di restoran deket sini karna jaga-jaga biasanya restoran itu ramai sekali. Menunggu balasan dan akhirnya kami semua segera bergegas kesana dengan bahagia karna makan enak dibayarin kantor. Padahal gak meeting juga tapi emang ini demi kebaikan kantor. Karna selalu ada dana untuk keperluan makan seperti ini dan kebetulan untuk bulan ini belum dipakai. 


Kami pesan ikan bakar dan lain-lain yang menyedapkan lidah dan mata, asik makan jadi lupa ngobrol, makan sudah habis baru dah kami ceritain apa saja hasil konsultasi dengan kakek. 


Jadi kakek meminta kami untuk lebih berhati-hati karna masih samar antara musuh dan kawan, jangan sampai lengah karna posisi mereka adalah keluarga sedangkan kita hanyalah orang luar, jadi pastikan dulu anak-anaknya bu Hartanti ini berpihak pada siapa, walaupun sebenarnya masih bingung ya bagaimana cara memastikannya padahal kan kita gak terlalu deket untuk ngulik-ngulik seperti memancing kan sangat susah jadi kakek ngasih solusi untuk harus ada salah satu dari kita yang masuk kedalam circle mereka, harus ada pembaca situasi sekaligus mata-mata. 


Itu adalah jalan pertama yang bisa kita lakuin paling awal dan harus berhasil, sangat-sangat harus berhasil karna jika gagal akan gagal semua pertahanan kita. Anak-anak pun setuju dan memutuskan untuk siapa yang bisa masuk kedalam lingkup Laras dan Sekar, sebenarnya yang paling cocok adalah Ana, tapi Ana gak mau khawatir dia akan emosi dan gak sabaran, jadi yang paling gampang membaur adalah Roy dan Kris. 


Akhirnya kami memilih Roy sebagai mata-mata dan Kris sebagai informan juga membantu Roy, tentu tak ada sesuatu yang melindungi mereka karna makhluk gaib akan tau, jadi mereka seratus persen bersih dan hanya bisa mengandalkan kepekaan. 


Selanjutnya kata kakek, kita harus meyakinkan mereka bahwa kita sangat-sangat percaya pada mereka sampai-sampai menjadi sahabat. Karna dengan situasi yang dekat seperti itu kita akan tau bagaimana kondisi dalamnya, kita harus bermain taktik yang bagus agar bisa melangsungkan rencana dengan baik. Terlebih kita harus tau kalau lawan kita sangat berbahaya jadi melawannya juga harus dengan smart. 


Setelah semua dirasa berjalan dengan baik, baru kita bisa memilih harus bagaimana, untuk sekarang itu dulu. Roy dan Kris merancang cara agar bisa menjadi dekat, untuk pekerjaan mereka akan di handle oleh kami jika dirasa mereka ada perlu dengan yang namanya kita sebut moon project, kenapa moon project karna kita ingin memandang bulan dan malam dengan tenang tanpa kekhawatiran. Lusa juga ada intern yang akan interview, ada sekitar 3 intern yang dipilih untuk interview, ada 1 anak IT, anak marketing dan juga satunya bagian pemasaran dan distribusi, anehnya Aca tak meminta intern bagian desain visual, entah karna apa dia tak memintanya belum aku tanyakan.


Karna besok masing-masing dari kami akan interview jadi aku berusaha mengenal sosok ini dari CV nya dan apakah dia cocok untuk membantu kami, karna tidak sekedar intern mereka juga di gaji oleh ibu Ambar bagian keuangan kita semua. Setelah menghabiskan minuman kami semua bersiap pulang ke rumah masing-masing karna Aca ingin, kami bisa healing dengan hoby masing-masing, jadi jam pulang ya harus pulang, padahal dia sendiri hoby lembur kenapa kami yang disuruh pulang. 

__ADS_1


Aku mengantar Aca pulang dan seperjalanan Aca terlihat sangat murung, mungkin juga kepikiran macam-macam.


“Bi, kenapa kau pengen nikah banget sama aku?” tanya Aca tiba-tiba.


Aku yang shock ditanya seperti itu hanya bisa bengong gatau mau jawab apa.


“Yaa .. kenapa emangnya ca?” tanyaku.


“Kok malah kenapa? Selalu ada alasan kan di setiap suatu maksud.” Ujar Aca.


“Ya gimana ya, emang kek sudah terpatri aku ingin menikahimu, sudah nyaman dan sudah siap dari seorang pria.” Jawabku berusaha tetap cool.


“Yakin donh, kenapa gak yakin, orang udah jatuh cinta dari dulu, udah kek aku maunya sama kamu aja.” Jawabku.


“Kamu gak pengen sama yang lain? Coba kenal dan jalani sama yang lain ?” tanya Aca memastikan.


“Gak lah, udah stuck with you.” Jawabku penuh keyakinan.


“Aku takut aja di masa depan kamu akan menyesal karna buru-buru menikahiku, padahal kamu belum mengenal tipe wanita lain, dan bisa jadi akan macam-macam di masa depan contohnya kek bermain dibelakangku.” Ujar Aca khawatir.

__ADS_1


“Kamu gak perlu khawatir tentang itu, karna gak mungkin juga aku aneh-aneh, aku nih sayang sama kamu tanpa alasan, gaada alasan juga ninggalin kamu.” Jawabku dengan percaya diri.


“Aku hanya takut bi, aku takut dengan komitmen dan menjalin sebuah hubungan, karna kamu tau sendiri banyak sekali orang-orang yang tidak bisa mempertanggung jawabkan perasaannya.” Jawab Aca murung.


“Percaya aja sama aku ca, aku bisa mempertanggung jawabkan perasaanku.” Jawabku sambil menatap matanya yang sayu karna kelelahan itu.


“Oke, aku akan berusaha untuk percaya, kasih aku waktu untuk deal with myself, apakah aku benar-benar siap dengan pernikahan ini, bukan hanya itu aku harus yakin dengan diriku sendiri kalau aku juga membalas perasaanmu.” Jawab Aca secara lugas.


Memang seperti itulah Aca, selalu tegas dan lugas meski kadang tak berbicara banyak tapi dia sangat suportif dalam hal apapun, dia juga tak pernah membahas Dina ataupun masalah kemarin karna memang dia percaya sama aku, lebih tepatnya berusaha untuk percaya dan aku pun harus semaksimal mungkin dalam meyakinkannya.


“Bi, nanti di depan mampir ke warung abah Adi yaa, aku pengen makan mie aceh.” Ujarnya tiba-tiba.


“Kupikir kamu udah kenyang.” Jawabku.


“Eh iya ya, kita barusan makan.. Hahahaha… gatau pengen aja bungkus kali aja bapak juga mau.” Jawabnya dengan ketawa riang.


“Iya … emang enak banget mienya, aku juga mau bungkus buat mama dan mbah putri.” Jawabku.


Akhirnya Aca turun untuk memesan mie aceh aku pun juga nitip tetapi Aca tak membiarkanku ikut turun menemaninya memesan, mie nya juga semua dia yang bayar dan tak membolehkanku untuk membayar walaupun itu bagianku seharusnya. Aca memang sudah biasa sendiri dalam hal apapun, dia belum biasa mendapatkan kasih sayang.

__ADS_1


__ADS_2