Rumah 7 Turunan

Rumah 7 Turunan
180. Kemudian


__ADS_3

Rasanya langit berputar dan suara semakin lama semakin menghilang dan aku sadar aku sangat pusing dan tak sadarkan diri. Masih lirih terdengar teriakan Ana yang khawatir memanggilku tetapi semakin lama semakin lenyap dan gelap. Kemudian aku terbangun dan lagi terjadi rasanya sangat marah, aku terbangun dirumah itu dan ada Asmirah didepanku. Badanku lemas tak berdaya rasanya tak bisa bergerak, pandanganku kabur dan terdengar suara sangat bising sekali dan ternyata sekelilingku sudah ada keluarga besar menatapku dengan benci sembari tertawa cekikikan dan menggelikan.


Asmirah mendekat, aromanya sangat busuk bahkan bunga melati yang dia pakai sebagai pemanis dirambutnya terlihat ada ulat mengeliat, rasanya mual, pusing serta jijik yang aku rasakan, kenapa aku ada disini padahal aku sebelumnya baru masuk rumah Ana. Rasanya ada perasaan sedih yang tak tertahan, rasanya hatiku hancur entah mengapa aku ingin menangis, sakit sekali hatiku ini dan jantungku berdetak semakin keras semakin lama semakin nampak wujud menyeramkan mereka. Aku berusaha teriak tetapi sungguh tak ada suara yang keluar dari teriakanku, aku menangis, terisak rasanya perih tak bisa berkata tak bisa bergerak hanya terdengar suara tawa penuh kebencian.


"Nak Acaaaa.... kamu mau matiiii seperti anakku? " ujar Asmirah dengan nada yang lembut yang membuatku merinding, ini adalah ajakan yang menyeramkan.


Namun aku menjawab tapi tak ada suara yang keluar dari bibirku, hanya tangisan yang kian lama makin deras.


"Nak Acaaaa.... mati yuk.. kamu harus mati! hahahaha.... " ujarnya lagi dengan nada yang lirih dan tawa yang melengking membuat telingaku sakit.


"Kamu sudah menganggu ketenangan keluarga saya, nak Aca... " ujarnya lagi.

__ADS_1


Lalu dia mendekatkan wajahnya yang busuk itu didepan wajahku dan aku sontak merasakan kengerian yang entah bagaimana aku deskripsikan. Wajahnya yang putih namun matanya hitam semua dan sangat menakutkan, bau bangkai yang menyengat dan rambutnya yang amburadul, dia semakin mendekat dan mendekat sampai panas yang aku rasakan disekitar tubuhku terasa terbakar dan membuatku berteriak kepanasan, tapi mereka malah semakin tertawa karna aku berteriak tanpa suara sampai akhirnya aku merasa letih dan lemas, akhirnya aku tertidur, entah tertidur atau pingsan lagi aku juga tidak tahu.


Aku terbangun, tubuhku sudah terbungkus kain jarik coklat serasa dibedong, dililit dan susah sekali dilepaskan, aku dalam ruangan kosong tak ada siapapun, hanya ada lukisan-lukisan didinding, dan aku fokus pada lukisan wanita pribumi yang hanya memakai kain sebagai penutup dadanya, sangat cantik natural tetapi lukisan itu bekas dibakar namun seperti terselamatkan dari bakaran dan lagi aku tersadar kalau kain itu yang dipakaikan padaku saat ini, aku hanya berdoa minta pertolongan agar aku keluar dari sini, suaraku tak ada aku hanya diam dan berusaha berpikir jernih, melihat sekitar dan harus waras agar aku bisa kembali kedunia nyata.


"Kenapa kamu ada disini? " tanya Amini yang heran.


"Amini, tolong aku... " ujarku tapi suara tak ada.


Aku hanya menangis dan meminta dia menolongku, dia membuka kain itu dan ternyata aku tak memakai pakaian dan dibuatnya kain itu sebagai penutup tubuhku mirip seperti dilukisan itu. Amini menyuruhku untuk keluar dari sini, karna diruang utama sedang ada pesta keluarga, jadi aku harus keluar lewat samping rumah. Tetapi aku teringat sebuah perhiasan dan ingin mencari dimana itu tersimpannya, tetapi Amini melarang karna terlalu berbahaya jika aku keluyuran dirumah ini, katanya aku bisa saja mati karna keluarganya sedang berpesta yang otomatis mereka sedang bagus energinya.


Aku menurut saja ke Amini karna memang aku sudah lemas, tapi saat itu aku menemukan kaca, dan aku tak menemukan bayanganku sendiri dikaca itu, hanya Amini yang ada bayanganya, aku berteriak ketakutan, apakah aku sudah mati, atau aku ini apa. Aku tak bisa berpikir lagi karna badanku sangat lemas, Amini bilang energiku diserap untuk menjadi makanan mereka karna aku adalah santapan yang lezat dan jika aku berlama-lama disini bisa jadi aku tak bisa keluar selamanya, tubuhku didunia nyata akan mati namun jiwaku terperangkap disini.

__ADS_1


Aku ketakutan dan minta Amini segera mengeluarkanku dari sini, hanya saja dia tidak tahu bagaimana caranya aku keluar, apakah harus keluar dari rumah ini dan mencari jalan kembali, atau aku harus diam disini menunggu dijemput oleh teman-temanku.


"Aminiiii... Anakku sayangggg.. Dimana kamu... " teriak Asmirah mencari anaknya terdengar dari bawah dan langkah kaki Asmirah tepat ada diatas kami.


"Gawat, ibuku mencariku, kamu tunggu disini ya, cari jalan keluar dan pergi jauh dari rumah ini. " ujar Amini dan berlalu pergi.


Dia bilang dia akan membuat keluarganya sibuk sampai lupa ada aku disini dan aku pun mengiyakan, dengan tangan dan kakiku yang bergetar karna ketakutan, aku mencari jalan keluar sesegera mungkin, karna semakin lama maka semakin banyak energiku terkuras. Aku mencoba keluar dari ruangan ini malah masuk dalam ruangan lain, aku mencoba mengingat peta ruang bawah tanah ini, namun aku sama sekali tidak ingat, menurut pandanganku ukuran bawah tanah malah lebih besar daripada rumah utama, aku kebingungan dibawah aku takut dan aku hanya berputar-putar disini. Bukankah harusnya ada tangga keluar dari ruang bawah tanah ini, tetapi aku tak menemukan tangga, disini rasanya dingin dan lembab, aku berusaha mencari dan mencari lagi agar aku bisa keluar.


Aku menemukan lorong dengan cahaya yang pas-pasan, lorong ini mungkin akan membawaku keluar dari ruangan yang ini, karna sebelumnya aku seakan hanya berputar-putar disitu saja, lorong ini tak begitu panjang hanya saja sempit dan aku mencoba menengok kekiri ternyata ada ruang yang hanya gundukan tanah seperti bekas sumur namun ditutup. Aku berjalan lagi dan rasanya tak ingin membuka banyaknya ruangan disini, tapi jika tidak dibuka aku tak bisa mengetahui dimana tangga keluarnya dan aku sebenarnya ada dibawah bagian rumah yang mana, apakah aku dibawah dapur atau aku dibawah kamar mandi karna ada sumur disini, kalau saja otakku di tengah himpitan kekacauan ini bisa digunakan dengan baik, hanya saja aku bodoh otakku tidak berfungsi karna tekanan ketakutan ini.


Kalau aku ada dibawah kamar mandi aku hanya harus berjalan ke kanan agar aku bisa ada dibawah pohon dan pasti aku menemukan tangga disitu. Aku mencoba menggunakan akal sehat yang harus waras dan meyakinkan diri sendiri kalau aku pasti bisa pintar di moment mencekam seperti ini. Aku berusaha tetap tegar dan berupaya berpikir jernih, dan aku menemukan tangga keluar, saat aku naik tangga dan mencoba membuka pintu kecil atap ini, rasanya sangat berat dan susah sekali dengan tubuhkh yang kecil dan lemas ini. Aku paksa untuk dorong keatas dan bisa dibuka, kagetnya aku melihat muka Asmirah dengan senyumnya melebar berkata,

__ADS_1


"Kamu mau keluar? " ujar Asmirah sambil tersenyum, lalu membuatku kaget dan terperosok lagi kedalam dan gelap.


__ADS_2