
Rasanya aku cukup murka dengan apa yang mereka lakukan, nampak memang om orang baik serta keluarganya, cuma melihat si ayahnya kakakku ini resek banget entah masa mudanya bagaimana ibuku bisa menyukainya padahal juga menyebalkan sekali, harusnya ibu tahu dong bagaimana kehidupan kedepan, udah dikasih kepekaan ekstra malah kemakan cinta ya gini. Aku bangun dan masih termenung dikamar melihat ke langit-langit yang mata kita bisa kejatuhan debu karna terlihat banyak debu diatas. Rupanya mantan suami ibuku juga bukan orang yang kaya kalau ini adalah rumah peninggalan orangtuanya, rumah sederhana di desa tetapi tanahnya memang luas, aku keluar kamar dan menuju halaman depan, seperti mendengar suara air sungai dan ternyata dibelakang rumah ini ada sungai, aku berjalan ke belakang melewati sapi dan kambing peliharaan lalu ada pohon bambu dan gak lama ada sungai dengan bebatuan yang besar-besar, dan ternyata bebatuan itu digunakan kalau ingin menyeberangi sungai tersebut karna ada anak kecil dengan ibunya yang menyeberang dengan senangnya sang anak, kebahagiaan disini cukup sederhana, lalu mereka menyapaku dan bertanya apakah nyasar, dan aku jawab tidak karna aku adalah keponakan om Ismail, lalu sang ibu kaget dan senang karna sering sekali bercerita tentang keponakannya di kota, ngobrol basa-basi lalu ibu itu dan anaknya pamit untuk pulang.
lalu angin sudah mulai ribut dan akupun kembali kerumah om, karna banyak penunggu disana ingin berkomunikasi dan aku lelah. Saat kembali aku disuruh makan dan masakannya sangat enak tapi tidak seenak masakan ibuku, ternyata memang istrinya om berguru dengan ibuku, dulu katanya saat baru nikah ibuku pernah tinggal disini lalu pindah. Kakakku dan mereka cepat sekali akrabnya sedangkan aku hanya kebanyakan diam sambil melihat-lihat situasi. Kakakku juga membantu mencuci piring sehabis makan sedangkan aku duduk-duduk didepan karna merasa panas ada didalam dan keponakanku menghampiriku.
"Tante, tante cantik sekali, " Ujarnya sambil tersenyum lebar.
"Makasih, kamu juga cantik, siapa namamu? " Jawabku yang tidak tahu nama keponakan sendiri.
"Tapi aku tidak secantik tante, tante seperti berbi. Namaku Ayu kalau tante Ana kan? " jawabnya dengan senyum yang merekah.
"Iya kok kamu tau? namamu saja sudah Ayu apalagi parasnya juga cantik, " jawabku sambil mencubit pipinya yang chubby itu.
"Tahu dong, pakde sering cerita anaknya kok, ada tante Tari dan tante Ana, " jawabnya.
__ADS_1
"Ohyaa? besok jalan-jalan sama tante ya, kita beli barby. " jawabku kepada anak kecil yang gemoy ini.
"Mauu tante, Ayu suka sekali dengan berbi, ayah gak pernah belikan Ayu mainan, karna katanya Ayu bisa bermain dengan pelepah pisang. " Jawabnya dengan raut muka bahagia sekaligus sedih.
"Okey, besok kita jalan-jalan yaa... " jawabku dengan tersenyum.
"Asikkk... makasih ya tante," jawabnya langsung lari dan mengumumkan ke orangtuanya kalau dia akan dapat barby.
Lalu om Ismail tiba-tiba datang dan duduk disampingku.
"Gak repot kok om, Ana kan belum pernah bertemu Ayu, jadi bahagiain keponakan juga gapapa dong. " jawabku dengan senang hati.
"Makasih ya nak, " jawabnya.
__ADS_1
"Motor ini bisa pinjem kan om buat besok jalan-jalan? " tanyaku.
"Bisa nak, pakai aja. Ayu tau kok jalan kepasar, tapi kamu ngapain diluar sini? gak krasan ya nak? " tanyanya.
"Oh bukan om, anginnya enak sekali seger jadinya enak diluar. " jawabku.
"Nanti masuk angin nak, " jawabnya.
"Iya om, bentar lagi masuk rumah, " jawabku.
Lalu om pamit keluar karna ada orang telpon katanya disuruh buka bengkel ada yang motornya gak bisa nyala, ternyata om kerjanya di bengkel, istrinya dagang cilok tiap pagi didepan SD, kalau ayangnya kakakku nih gak tau ngapain disini, jangan bilang hanya menyusahkan adeknya saja dan jangan bilang kami sebagai anak yang harus merawat ayahnya. Aku lihat ternyata kakakku dan tante sedang ngobrol dikamar ayahnya, aku nonton TV bareng Ayu, aku lihat baju Ayu juga bolong-bolong dan memang tidak ada mainan dirumah ini, besok harus borong baju dan mainan, dia juga diusia masih kecil, mau SD tapi tingkahnya gak kayak bocil pada umumnya, dia termasuk anteng dan pengertian. Kalau kakaknya dia katanya mondok jadinya tidak ada dirumah, yah aku sudah terbayang kehidupan sederhana ini mirip denganku dimasa kecil, bedanya hanya orangtua Ayu sangat menyayanginya sedangkan aku hanya ibuku saja.
Lalu aku dipanggil kakakku karna Ayahnya ingin bicara, dan aku ogah-ogahan tetapi kakak udah kode harus, aku masuk kamar dan tante keluar kamar. Aku hanya diam dan meles melihat ayahnya kakakku tapi beliau ini sangat senang melihat kedua anaknya sangat cantik-cantik sekali, beliau merasa bersalah meninggalkan kami dan menyesal, dengan pikiran itu menjadikan dia sakit. Dia cerita kalau dia berdagang di pasar dan juga merawat kambing dan sapi tapi karna sakit dia jadi belum bisa berdagang, untung sekali adeknya masih baik merawat abangnya yang sakit, lalu dia ingin bertemu anak-anaknya agar cepat sembuh dan dia bercerita itu sambil menangis, sebelum dia di judge dia juga cerita kalau sudah pernah ingin mengunjungi kami tapi dilarang sama ibuku karna ibuku jika bertemu mantan suami lagi takut kasihan dan malah dibolehkan menginap dirumah, atau bisa kembali lagi, jadi ibuku menegaskan jangan pernah bertemu lagi.
__ADS_1
kadang juga beliau katanya melihat kami pulang sekolah dan hanya melihat dari jauh saja sebagai obat kerinduan. Dia juga bercerita kalau dia susah sekali mendapatkan uang yang cukup, sehingga tidak enak untuk pulang karna tak bawa uang padahal ibuku tidak merasa pulang harus bawa uang, dia bekerja mati-matian tapi malah kena tipu temannya, kadang ada yang fitnah, pokoknya kehidupan keras orang miskin yang jujur akan kalah dengan orang dalam yang banyak nipunya. Keadaan yang sulit menjadikan rasa sayang dan cinta yang dulu berlahan menjadi hilang karna ekonomi menjadi faktor kerenggangan. Dia tau kalau ibu adalah sosok yang pengertian dan sabar, tetapi juga manja dan selalu ingin disayang, sedangkan kalau pulang kerumah, dia ini tidak bisa memisahkan masalah pekerjaan dan harus bersikap bagaimana dirumah, sebab itulah lama-lama menjadi hilang perasaan karna istri yang tidak mengerti dia dan dia yang tidak mengerti istrinya, dari cerita itu aku bisa tau kenapa kakakku masih tetap baik sama ayahnya ya karna memang ayahnya dimasa lalu masih ngobrol sama dia sedangkan aku kan masih kecil jadinya gak ada memori bareng dia. Dia meminta maaf berkali-kali karna egonya jadi membuat ibuku memutuskan berpisah dengan dia, karna dia sebenarnya gak mau tapi juga gak punya uang jadinya dia memilih diam dan biar diurus sendiri sama ibu dan yang ada hanyalah penyesalan karna mereka berdua gak ada komunikasi yang baik, sampai mereka tua pun tak ada kejelasan gimana harusnya sosok istri dan suami dalam membina rumah tangga, dan dia merasa gagal sebagai kepala rumah tangga.