
Akhirnya aku berhasil memanas-manasin si setan dan aku menjadi tau dengan jelas, siapa setan ini dan bagaimana dia suka dengan Andreas, aku juga sudah mengkonfirmasi Andreas kalau dia sama sekali tidak memili kemampuan untuk merasakan makhluk lain, bahkan dia juga tidak tahu kalau aura dia dan aromannya disukai oleh para mbak-mbak kunti dan kebetulan sekali tuh setan yang menang nempel ke Andreas. Pulang dari ngopi aku minta Andreas buat main kerumahku karna aku mau Surti aku adu dengan kunti tempelan ini, niat hati begitu tetapi sayangnya Andreas tidak bisa karna dia harus membuat soal untuk anak muridnya ujian dan aku pun menantikan dia tidak sibuk.
Sesampainnya dirumah aku bercerita pada ibuku dan ibuku senang sekali aku sudah mulai membuka diri, aku juga diskusi dengan Surti agar dia bisa bertarung menghempaskan setan yang ngikut Andreas. Karna aku lelah sendiri aku langsung tidur karna tenagaku seakan habis begitu saja, tau-tau sudah pagi dan bangun dan ternyata ada om Ismail diantar tetangga mencari rumahku, kebetulan ibuku ke pasar jadi rumah masih tutupan, aku pun kaget kenapa om ada disini dan aku mempersilahkan masuk.
"Om, kaget sekali aku om pagi-pagi ada disini, duduk om, mau minum apa? " tanyaku.
"Tidak perlu repot-repot nak, air putih saja. " jawabnya.
"Repot apanya om, tunggu yaa, ibuku juga masih ke pasar. " jawabku dan aku ke dapur membuatkan teh hangat dan juga mengiriskan roti bolu.
Di dapur banyak makanan sih, aku coba panasin dan memberikan teh hangat ke depan dulu. Muka om Ismail nampak kelelahan dengan baju lusuhnya dan juga rasa sungkan muncul tiba-tiba dirumahku. Sekarang masih jam setengah tujuh pagi, aku mengambil nasi dan lauk pauk dan aku bawa kedepan buat sarapan, pasti om malu jadinya aku juga sarapan dan kami ngobrol sambil makan.
"Ada apa om jauh-jauh kemari? tante juga gak hubungi aku, kan bisa aku jemput di stasiun om, " ujarku.
"Iya, HP nya lagi tidak ada pulsanya nak, ini aja om modal nekat tidak bawa HP. " jawabnya dan aku juga kasihan gimana bisa orang berpergian tanpa HP tuh pasti sulit kalau aku bayangkan.
"Ada masalah apa om? " tanyaku.
"Bisa tidak nak, kamu kasih tau ayahmu untuk tobat dan kalau sakit itu nurut saja jangan keras kepala, jujur om kasihan sama istri om yang sudah sabar hidup sederhana sama om, ini ketambahan harus merawat kakak om itu rasanya sedih sekali melihat istri begini." Jawabnya.
"Itu kakaknya om minta apa lagi? " tanyaku.
"Minta menggadaikan rumah untuk biaya berobat dan menikah, " jawab om.
"Jadi nikah? " tanyaku.
__ADS_1
"Kakak om percaya setelah nikah dia akan sembuh dan pasti bisa kembali bekerja. " jawab om.
"Jadi om mau aku ngobrol gitu kasih tau? " tanyaku.
"Iya nak, karna tiap hari istri om selalu menangis dan rasanya om tidak tega, padahal dulu dia anak orang yang mampu tapi menikah sama om malah seperti babu, " jawabnya sambil mata berkaca-kaca.
"Usir saja kakak om, kalau mau menikah ya keluar saja dari rumah om, toh dulu rumah itu memang diwariskan untuk om, " jawabku.
"Om tidak tega buat begitu nak, " jawabnya.
Lalu aku menelepon kakakku dan menyuruhnya untuk datang ke rumah karna ada om Ismail, kamipun menunggu sambil makan dan cerita yang ringan-ringan saja dulu agar om bisa tenang dan istirahat. Setelah makan om aku suruh tiduran aja dulu di ruang tengah sambil nonton TV sambil nunggu kakakku datang, karna ibuku pasti kalau belanja lama apalagi kata tetangga baru aja pergi. Om tidur aku mandi dan tak lama kakakku datang dengan Kirana yang masih tidur dan ditidurkan di kamar, kakakku juga menyuruhku untuk bersiap ke kantor saja jangan bolos juga, dan aku mengiyakan lalu pergi ke kantor.
Dikantor pun rasanya hati tak tenang, apalagi aku juga gak lihat gimana respon ibuku saat bertemu om Ismail, tapi ibuku kan ga punya dendam kepada keluarga mantan suaminya, jadi aku harus tenang saja semuanya akan membaik, berlahan namun pasti.
"Cie, dah jalan aja nih sama Andreas. " Ujar Roy sambil tersenyum nakal.
"Ya gimana? apa dah deket sampai mana? " tanyanya.
"Dah deket sampai bikin tuh setan cemburu, " jawabku.
"Buset, serius? " tanyanya.
"Iya, apalagi? " tanyaku balik.
"Ya bagusdeh na, good job. " jawabnya sambil pergi ke arah dapur.
__ADS_1
Rasanya aku pengen cepet-cepet pulang, kerja tapi pikiran ada dirumah itu gak enak banget rasanya. Lalu Kris ngajakin aku buat ngambil souvenir costumer, karna aku kebetulan udah bilang dia kalau mau ambil ajak aku karna aku mau ketemu sama ownernya, tapikan karna kami berdua gak bisa bawa mobil jadinya sama Adam buat jadi supir kami berdua, dijalan Adam tanya kenapa pada diam dan melamun masing-masing kan jadi gak enak seperti canggung. Kris kepikiran pernikahannya yang sudah makin dekat, akupun kepikiran dirumah, sedangkan Adam lagi santai saja dengerin lagu.
"Gapapa dam, nikahanku kan udah deket jadi pikiran tuh kemana-mana, " Jawab Kris.
"Ya kamu harus tenang dan selalu berpikir positif, " jawab Adam.
"Mampir beli kopi dulu dong dam, haus nih. " ujarku.
"Mau dimana? " tanyanya.
"Ya kalo ngeliat kopian ya disitu dah bebas, " jawabku.
Lalu Adam pun melipir ditempat kopi dan aku membelikan untuk mereka juga, ini baru pertama kali aku ketempat kopi ini, bangunan ala-ala belanda dan dibuat vintage, tatanannya cukup bagus tapi pembeli bisa dihitung, kemungkinan mereka cuma buat nongki foto-foto aja soalnya penunggunya serem juga, apa mereka ga izin dulu bikin kopian atau gimana kok hawannya panas gini. Aku pun berusaha untuk cuek saja jangan sampai mata saling bertatapan dengan para mahluk halus disini dan langsung balik ke mobil cepat-cepat.
"Wah makasih ya na, " ujar Adam sambil mengambil kopinya.
"Iya sama-sama, " jawabku.
"Bagus ya bangunannya, " jawab Kris.
"Bagus sih bagus, tapi penunggunya gak bagus hahaha... " jawabku sambil tertawa.
"Ih apaansih na, orang bahas bangunan kok jadi bahas yang lain, gak mau ah gak suka. " Jawab Kris kesal.
"Kebiasaan dah Ana nih, gak usah kasih tau begituan kenapasih hahaha... " jawab Adam.
__ADS_1
"Iya-iya maaf, kan kalian kepoan jadi ya aku kasih tau aja. " jawabku sambil menyeruput kopi yang menurutku rasanya kurang oke.
Sampai akhirnya datang ketempat souvenir dan Adam sama Kris angkat barangnya sementara aku ngobrolin kerjaan dulu sama ownernya, gak lama kami balik lagi ke kantor dan menata packing-packing bantuin kerjaan Kris sampai akhirnya terpaksa harus lembur padahal aku pengen pulang tepat waktu.