Rumah 7 Turunan

Rumah 7 Turunan
59. Roh


__ADS_3

Aku shock dengan senandung Ana dengan rambut berantakan, dalam hatiku berpikir pasti Ana kesurupan, rasanya aku ingin bilang ke Toby tapi aku coba sapa Ana dulu dan melihat reaksinya.


"Na... Ana... woi! " bentakku.


"Ah.. iy.. iyaaa? " jawabnya kaget dengan mata yang merah.


"Ngapain? duduk sambil nyanyi-nyanyi gajelas? " tanyaku.


"Hah? perasaan aku tidur kok. " Jawabnya.


"Keknya kerasukan," bisikku.


"Mungkin, emang aku tadi ngapain? " tanya nya santai seakan tak terjadi apa-apa.


"Ya.. kek bersenandung, tapi anehnya aku pernah dengar nyanyian itu. " Jawabku.


"Aku cuma ngerasain tidur sih, tapi tadi berasa ada hawa jahat. " Ucap Ana.


"Tadi ada Amini datang kemari. " Jawabku.


Lalu aku menceritakan apa yang terjadi tadi, bagaimana Amini datang dan ada bayangan Asmirah. Membuat Ana makin yakin kalau hawa jahat itu berasal dari Asmirah. Sebenarnya Ana tidak mau menfitnah atau menuduh Asmirah, mengingat dia sebagai seorang ibu tak mungkin melakukan hal jahat karna beliau adalah ibu, jadi gak mau berburuk sangka dan gak mau nantinya plot twist. Tetapi mendengar Amini sampai minta tolong dari cengkeraman ibunya kan berarti sudah gawat.


Karna sudah semakin malam, kami tertidur entah sampai mana cerita kami tadi. Aku bangun lebih dulu karna harus berbelanja dan menyiapkan makanan buat bapak sarapan dan teman-temanku. Saat masak Toby bangun dan menanyakan apakah tidurku nyanyak, dia merasa takut kalau aku kenapa-kenapa karna dia tau bagaimana rasanya tidak enaknya dapat merasakan makhluk yang tak kasat mata.


Bapak keluar kamar dan langsung mandi, beliau mendengar percakapan kami dan menatapku khawatir juga dan bapak bilang kalau keluarga kami memang ada yang bisa merasakan yaitu nenek buyut dan tak ada keturunan nya yang bisa merasakan lagi, jadi menurut bapak, bisa saja aku yang meneruskannya dan kenapa tiba-tiba bisa merasakan karna lama kelamaan mata batin bisa terbuka karna suatu situasi. Kami bercerita sambil sarapan dan bapak berangkat ke kantor, sampai lupa kalau Ana belum bangun.


Tak lama Ana keluar kamar dan merasakan badannya sakit semua entah mengapa. Ana juga menanyakan ke Toby apakah Amini memberikan cara agar kita dapat menolongnya. Sayangnya tak sampai dijawab Amini sudah menghilang dengan tanggisannya. Aku sangat sedih dan seakan ikut merasakan kepedihan Amini, karna aku juga perna merasakan sebagai Amini walau hanya sebentar.


Kami semua bergantian mandi, dan aku juga harus membersihkan rumah sebelum berangkat ke kantor. Tiba-tiba Ambar menelepon.


"Halo ca.. " Ucap Ambar.


"Iya mbar? " jawabku.


"Dimana? " tanya nya.


"Dirumah nih, kenapa? " tanyaku.


"Aku kesana yaa.. aku bolos kerja kesana, " jawab Ambar.


"Loh, kenapa? kita nih mau berangkat ngantor. " Jawabku bingung.

__ADS_1


"Gatau nih, perasaanku kek gak mood dan gak enak, udah kamu wfh aja kan kemaren dari luar kota. " Ucap Ambar.


"Masalahnya bos kedua ada disini. " Ucapku.


"Toby? lah itukan calon lakimu, bisa-bisa. " Jawab Ambar.


"Yauda, datang aja kesini, kerjaanmu dah beres emang? " Tanyaku.


"Beres, udah diurus bos besar. " Jawabnya.


"Lah, itukan bos besar disuruh-suruh? hahahha. " Tawaku.


"Iya, yauda aku otw kesana. " Ucap Ambar lalu menutup telepon.


Aku gak tau apa yang bikin Ambar gak mood sampai dia backup kerjaan, padahal dia orang yang rajin dan perhitungan.


"Loh ca, gak siap-siap. " tanya Toby.


"Hari ini aku wfh aja yaa.. " Ucapku.


"Kamu gaenak badankah? " tanya nya sambil memegang dahiku.


"Gimana sih? professional dong.. " Ucap Toby.


"Please yaa.. gapapa yaa bii, " ucapku dengan nada lembut dan tatapan memelas.


"Yauda, selama kerjaan ga terbengkalai gapapa, asal hatiku juga dijaga jangan dibiarin terbengkalai juga. " Ucapnya dengan nada serius seakan berkesempatan untuk membalasku.


Lalu aku hanya tertawa aja, aku tau dia kesal dan menahan amarahnya karna tingkahku yang tidak jelas, aku menyadari itu hanya saja aku memang begitu, antara siap dan tidak siap menjadi istrinya. Apalagi dia sampai membangun rumah dan kantor yang bersebelahan, tapi aku juga tidak rela meninggalkan bapak sendirian dirumah ini, meski rumah ini kecil dan sederhana, bapak memang sengaja membuat rumah ini open space dan minimalis dibuat nyaman tanpa ada ruangan yang tak terpakai.


Ana dan Toby pun berangkat bekerja, sedangkan aku mau bikin puding untuk Ambar yang lagi pusing, tak lama Ambar datang dengan cemberut. Aku menduga dia lagi haid mangkannya moodnya jelek dan pusing kerjaan mungkin ya.


"Makasih yaa, bikinin aku puding. " Ucapnya.


"Iya dong, buat temanku yang lagi manja nih. " Jawabku sambil tersenyum.


Dia memang sedang menstruasi dan aku menyuruhnya untuk istirahat dikamarku, sedangkan aku mulai bekerja, aku juga menyiapkan drama dan cemilan buat dia agar merasa tenang. Entah mengapa aku berusaha menjadi teman yang baik, karna aku tau Ambar yang perhitungan itu jarang sekali manja, jika dia sudah begini pasti ada apa-apa, aku tak bertanya lebih lanjut dan membiarkan dia duluan yang bercerita.


Saat jam makan siang ternyata Toby datang kerumah.


"Kamu kenapa kesini? " tanyaku kaget dia datang.

__ADS_1


"Kenapa emang? aku gabisa kalau ga liat kamu dan ada disampingmu. " Jawabnya.


"Dahlah bi, gausa lebai. " Ucapku kesal.


"Asal kamu tau, yang ada dikamarmu saat ini bukan Ambar. " Ucapnya.


Aku terbelalak kaget dan langsung bergidik mulai merasa takut dan tidak nyaman.


"Maksudmu? " tanyaku.


"Memang itu Ambar, tetapi dia diikuti oleh hawa jahat, jadi sebagian dirinya bukan dia, bisa saja kalau dia kehilangan kendali, hawa jahat itu bisa masuk. " Ucap Toby.


"Gimana kamu bisa tau? " tanyaku.


"Karna Roy bilang Ambar menyuruh dia backup kerjaanya, sedangkan dia izin ingin menghabisi seseorang. " Ucap Toby.


"Apa? " sontak aku kaget.


"Dia dikuasai roh jahat itu, mungkin dia sedang halangan jadinya dia lemah karna mood yang gabaik. " Ucap Toby.


"Astaga bi, kita harus gimana? " tanyaku.


"Tenang aja, tantenya Ana sedang perjalanan kemari. " Jawabnya.


Aku kaget dengan ucapan Toby, bagaimana bisa Ambar yang sangat tidak peka sampai ada yang mengikutinnya, apakah ini ulah Asmirah lagi? kenapa dia sering sekali bikin ulah, apa yang dia mau lakukan sampai mengganggu teman-temanku.


Tak lama Ana datang dan khawatir apa yang terjadi pada Ambar, sedangkan tantenya Ana tak bisa kemari karna ada urusan genting. Ana mencoba membuka kamar dan mendapati Ambar sedang tertawa terbahak-bahak menonton drama komedi.


"Loh, na... ngapain kesini? " ucap Ambar.


"Gapapa, mau bolos juga pulang lebih cepet. " Jawab Ana.


"Kamu nonton apa? " tanya Ana.


"Ini nonton ini, " jawabnya.


Ana menghampiri dan melihat hanya layar kosong yang ditonton Ambar, Ana langsung menepuk bahu Ambar.


"Mbar, bangun... " Bisik Ana sambil menepuk bahunya.


Seketika Ambar seperti kaget badan nya, dan mata anehnya kembali normal. Aku yang melihatnya sampai bisa membedakan mana yang Ambar asli dan mana yang menyerupai.

__ADS_1


__ADS_2