Rumah 7 Turunan

Rumah 7 Turunan
94. Scream


__ADS_3

“Halo, apakah saya berbicara dengan Aca?” tanya seseorang via telepon dengan nomor privat, bodohnya aku langsung angkat tanpa ngecek ini siapa.


“Maaf, ini siapa ya?” tanyaku.


“Hahahaha…… hhhwahahahaahihi…” terdengar lengkingan suara tawa aku langsung berteriak kaget dan melempar HP ku.


Bapak masuk ke kamarku dan bertanya kenapa aku berteriak, lalu aku menjelaskan kalau barusan ada telepon masuk tapi nomornya di privat dan dia malah ketawa melengking mirip suara kuntilanak di film-film. Tapi bapak bilang mungkin itu hanya orang iseng dan menyuruhku untuk tidur karna nampak sekali mataku sangat lelah.


Akhirnya Hp ku yang aku lempar tadi tak kuambil, aku biarkan dia di lantai sampai keesokan harinya, saat aku melihat HP ku ternyata banyak sekali pesan dari client ataupun dari anak-anak lain, termasuk dari tante Maren, hari ini tante mengajakku untuk ke salon bersama dengan mbah putri juga, aku juga sudah lama tidak ke salon, di hari minggu yang cerah ini sepertinya aku harus memangkas rambutku yang sudah panjang sebahu. Karna janjinya siang langsung bertemu di salon itu, aku menghabiskan waktu di pagi hari hanya dengan sarapan roti dan kopi sambil melamun di teras rumah. Nampak bapak-bapak lingkungan sini sedang kerja bakti, bapak juga sibuk mengecat pos katanya saat tadi kutanya sebelum berangkat. 


Aku menyalakan laptop dan ingin sekali mengedit foto di pantai karna sudah lama tak ku pegang dan belum juga ku posting di feed ig, saat aku melihat filenya lucu-lucu dan ada juga banyak dokumentasi video, akhirnya aku edit video itu menjadi video estetik ala-ala, setelah jadi langsung aku posting dan langsung banyak sekali yang komen termasuk anak-anak intern yang baru tau kalau aku dan Toby itu pacaran. Seketika Toby langsung video call, dia bilang dia kaget dan bertanya aku ada dimana dan ada acara apa hari ini, saat aku lihat dengan detail ternyata dia sedang ada di pos lingkungan rumah ini, ternyata dia sedang bersama bapak, saat dia beristirahat dan senang sekali dia melihat updatean feed ku, bapak juga berpesan untuk membuatkan kopi dan teh panas disuruh bawa ke pos, akhirnya aku membuatkan minuman itu dan berjalan ke pos, tak lupa aku juga mampir ke warung untuk membelikan mereka cemilan, tapi karna cemilannya gaada yang cocok karna harusnya cocoknya dengan gorengan, gak ada yang jual gorengan, akhirnya aku membeli pisang dan aku goreng lalu aku berikan kepada bapak-bapak.


“Bi, kamu kok bisa pagi-pagi disini sama bapak-bapak lingkungan sini lagi, kek akrab banget?” tanyaku.


“Iya dong ca, kan aku juga calon warga sini juga,” jawabnya.

__ADS_1


“Setelah kita nikah kita tinggal disini? Gak di rumah sebelah kantor?” tanyaku.


“Iya disana boleh, disini boleh, di rumahku juga boleh.” Jawabnya sambil mengunyah pisang goreng.


“Nanti aku mau nyalon sama tante Maren dan mbah putri, ya..” ujarku.


“Mau spa ya?” tanya nya.


“Bukan, mau potong rambut, aku udah gerah nih udah panjang.” Jawabku.


“Tapi risih.” Jawabku.


“Kan bisa dikuncir rambutnya, mending kamu spa aja sama pijet, nanti ke rumahnya bareng aku aja pulang dari sini” Jawabnya.


“Janjian langsung di salon kok, jadi gak ke rumahmu.” Jawabku

__ADS_1


“Kenapa gitu? Kenapa gak bareng-bareng aja.” Tanya nya.


“Ya gapapa, aku udah bilang ketemuan di salonnya aja.” Jawabku.


“Iya terserah, tapi aku minta dong foto-foto yang udah kamu edit, aku juga pengen posting, kenapa kamu gak tag aku?” tanya nya yang entah kenapa hari ini cerewet sekali.


“Ya, kamu ngecat aja dulu, nanti ambil aja ada di laptop, aku balik ke rumah dulu.” Jawabku lalu meninggalkannya.


Aku galau, apakah aku harus memotong rambut atau menurutinya, saat aku pulang kerumah tiba-tiba entah mengapa perasaanku gak enak, jantungku berdegup kencang seakan gak enak aja perasaanya. Lalu tiba-tiba aku melihat diriku di cermin bersimbah darah dengan suasana rumah yang gelap dan begitu suram, banyak sekali darah di lantai, di dinding yang turun bagaikan saus ada dimana-mana, aku masih tertegun berkaca lalu telingaku ada yang berbisik.


“Berhenti …… berhenti…” Ujarnya lirih.


Berkali-kali dia berucap itu sampai akhirnya suaranya semakin lantang semakin keras membuatku pusing dan ketakutan karna aku tak bisa menahan suara yang begitu menggelegar itu. Telingaku sakit sangat sakit dan berdengung, aku hanya jongkok dan menutup telingaku, menutup kedua mataku, sampai suasana dirasa aman aku coba membuka mata, perlahan kubuka namun aku melihat mata sesosok wanita dengan kulit putih pucat yang menyeramkan ada didepan mataku dengan jarak yang sangat dekat. Sontak aku yang awalnya jongkok langsung jatuh terduduk. Aku berteriak namun tak bisa aku keluarkan suaraku ini, sosoknya tersenyum menyeramkan melihatku, dia berdiri tepat di dadaku membuatku menjadi berat dan susah untuk bernapas. Aku kesakitan aku tak bisa menahannya aku hanya menangis dan berusaha untuk meminta pertolongan tapi tak bisa, tak ada yang mendengarku, sampai aku tak sadarkan diri.


Aku sudah terbaring di kasur saat aku membuka mata dengan ketakutan aku lihat bapak dan Toby yang khawatir menungguku sadar, yang utama yang aku tanyakan adalah jam berapa sekarang dan harus ke salon, tapi Toby sudah bilang ke mamanya kalau aku sedang tidak enak badan. Mereka bertanya bergantian kenapa aku bisa pingsan dan aku menceritakan semuanya secara detail dengan kondisi telingaku yang masih berdengung. Bapak sangat marah karna mereka sudah keterlaluan mengganggu anaknya, lalu ditenangkan oleh Toby dan Toby juga berjanji agar segera menyelesaikan dan tidak ada hal seperti ini lagi, aku menceritakan dengan rasa takut karna  masih terbayang tatapan matanya yang begitu bengis dan seakan penuh dendam, sayangnya aku tak mengenali siapakah sosok itu, kenapa dia menyuruhku berhenti dan membuatku kesakitan. 

__ADS_1


Toby menyuruhku untuk beristirahat saja dikamar, dia akan menjaga agar tak ada lagi makhluk yang mengganggu, dia meminta maaf berulang kali karna tak bisa menjagaku, Toby juga menghubungi Ana agar Ana kesini dan membersihkanku agar aku tak lemah dan gampang didatangi mereka. Aku merasakan hawa yang sangat gelap sedang mendekat, apakah mereka tau rencana kami dan menyuruh kami berhenti ataukah ini suruhan dari anak-anak bu Hartanti atau dari Asmirah, aku tak tau kalau hal ini akan berlarut-larut dan merusak mentalku, aku benci situasi ini membuatku lemah dan tak berdaya karna aku tak memiliki kunci untuk lepas dari jerat mereka dan aku juga tak memiliki kekuatan untuk memutus tali ini.


__ADS_2