
Karna saat ini minggu pagi, aku santai-santai dengan Ana, tetapi dia di telepon ibunya disuruh bantuin kateringnya, dan aku lagi masak dan Ana mandiin si bocil Sunny, setelah itu dia pamit pulang dan bapak juga pamit mau jalan sama sahabatnya, dan aku sendirian sama bocil kucing gemoy ini, kami berdua hanya asik nonton tv dan bersantai ria sambil ngemil sampai ketiduran lagi lalu ada orang ketok pintu ternyata Roy datang yang katanya kesepian di rumahnya yang besar itu, padahal bilang aja mau numpang makan, aneh-aneh aja nih orang, aku langsung menyuruhnya mengambil makanan sendiri dia malah asik sama Sunny.
“Ambilin makan lah ca, kamu kan tau porsi ku,” ujarnya dengan nada manja dan asik fotoin Sunny.
“Haduh, manja kali laki satu ini.” jawabku tapi tetap berdiri ngambil makanannya.
Dia makan dengan lahap seperti semalam gak makan saja, dia juga cerita apa yang dibicarakan kemarin padahal aku juga udah tau, aku cuma iya-iya aja karna malas super malas bahasnya, Ana minta aku buat pegang pipanya aja aku malas dan gak punya tenaga, jadi Ana hanya nurut aja, dan kata ibunya akan dicoba dulu untuk dikomunikasikan apakah bisa berhasil langsung ke yang punya tanpa bertemu penjaga lain.
“Enak bangetsih masakanmu ca,” ujar Roy sambil makan dengan lahap.
“Ya emang enak, padahal cuma sayur asem aja yakan, sama goreng ikan.” jawabku.
“Iya, enak banget, seger.” jawabnya.
“Makan dah, habis ini, kalau kurang tambah lagi,” jawabku.
“Bapak kemana?” tanyanya.
“Jalan, bernostalgia sama sahabatnya yang baru pulang dari Belanda,” jawabku.
“Jalan kemana?” tanyanya.
“Kurang tau, bapak juga gak bilang, langsung berangkat aja.” jawabku sambil mengelus Sunny.
“Ca, andaikan aku punya perasaan sama kamu gimana?” tanya Roy tiba-tiba yang membuatku kaget tapi juga santai, pasti dia cuma bercanda.
“Paansih, gak mungkinlah, orang kita juga sahabatan dan tumbuh gede bareng,” jawabku santai.
“Ya bisa aja, karna tumbuh bersama maka rasa juga tumbuh,” jawabnya.
“Gak tau!” jawabku singkat.
“Ya andaikan ada, gimana?” tanyanya.
“Gak mungkin, karna aku bukan tipe cewek kesukaanmu, jadi ya aman aja,” jawabku.
“Ya bisa jadi sih,” jawabnya sambil menghindari tatapanku.
__ADS_1
“Kenapa lagi? Galauin siapa?” tanyaku.
“Galauin Alca madisa,” jawabnya.
“Huh, kumat nih anak,” jawabku.
“Kalau serius gimana?” tanyanya.
“Ya atas dasar apa? Kok tiba-tiba? Disaat aku udah berpunya lagi, mau ngapain emang, temen ya temen,” jawabku.
“Dulu sama Toby juga cuma temenkan,” jawabnya.
“Ya terus apa maksudnya ini Roy?” jawabku ngegas.
“Ya gimana menurutmu?” tanyanya.
“Ya atas dasar apaaaaa?” jawabku emosi.
“Kok kamu marah?” tanyanya.
“Emang kalau timbul rasa sayang dan cinta harus ada dasarnya, ya dasarnya rasa itu ada dan tumbuh,” jawabnya dengan serius dan berusaha menatap mataku dengan seksama, dan aku memikirkan sepertinya ini serius dan dia tidak bercanda, perasaanku langsung gak enak.
“Roy,” jawabku dan menatapnya dalam dan matanya mulai berkaca-kaca.
“Iya,” jawabnya.
“Jangan pernah mengharapkan aku sama sekali Roy, coba renungin dalam hati kita nih, apakah bisa kita sama-sama dalam posisi aku punya seseorang yang gak bisa aku tinggalin,” jawabku dan menatapnya dengan penuh kesedihan pancaran matanya.
“Kamu bisa ninggalin dia,” jawabnya.
“Mungkin suatu saat kamu ngerti Roy, kalau cinta itu gak mesti harus bersama,” jawabku.
“Gak, aku gak bisa lupain gak bisa lepasin,” jawabnya.
“Jangan ngarepin cintaku Roy, astaga, perasaan ini kamu pendem sejak kapan? Rasanya aku pengen marah, sangat marah!!” jawabku kesal.
“Aku tetap berharap akan itu ca,” jawabnya.
__ADS_1
“Jangan pernah harap aku buat mencintaimu Roy!!” jawabku tegas dan jadi gak enak karna melihat matanya yang merah menahan air mata padahal sudah berkaca-kaca.
“Kenapa ca, emang kamu secinta itu sama Toby?” tanyanya nyolot.
“Iya, aku sayang dan cinta sama dia, aku nyaman dan aku khawatir sama dia,” jawabku tegas.
Dan dia hanya diam seribu bahasa dan mengelap air matanya yang hampir jatuh, dan dia kebelakang buat naruh piring makanannya, dan aku jadi khawatir karna aku juga gak enak hati, disisi lain dia sahabatku dan disisi lain aku punya Toby yang sudah berkomitmen, terus aku kalau tidak tegas seperti saat ini lama-lama bisa goyah dan rusak.
“Ca, maaf ya, tapi aku serius dan aku beneran baru menyadari rasa sayangku ini, aku baru sadar dan aku mau memperjuangkannya, sebagaimana apapun nanti, dan gak tau bakal gimana nanti sikapmu, aku bakal tetep berusaha meyakinkan perasaanku ini bener adanya, kalau kelak aku bukan pilihan hatimu, mungkin itu udah takdirnya. Aku pamit pulang, makasih sarapannya.” ujarnya dan pergi berlalu dan aku cuma melongo ditempat berusaha mengartikan maksud Roy ini, seketika dia mengirim lagunya ungu yang aku bukan pilihan hatimu, dan seketika aku sedih dan entah perasaan apa ini.
Aku gak pernah sama sekali berpikir kalau salah satu dari kami menyadari perasaan cinta atau rasa sayang yang melebihi pertemanan kami, karna memang aku dan Roy sama-sama menjaga perasaan masing-masing dan tau batasannya, dan aku gak tau bagaimana tiba-tiba Roy menyadari perasaanya, karna sebenarnya aku sudah ngefans sama Roy jaman SMA karna dia memang lelaki yang pandai, bukan hanya pintar tapi dia cerdas, akademiknya bagus, olahraganya keren, seolah semuanya bisa, hanya yang gak bisa adalah mengerti diri sendiri dan orang lain dan yang dia tidak bisa dan tidak beruntung adalah hubungan dengan orangtuanya. Makanya bapak sudah menganggap dia anak sendiri dan juga sering menginap disini bahkan sudah menjadi kakakku sendiri.
Aku marah dan emosi sekali, kenapa Roy mengungkapkan disaat aku seperti ini, seketika Toby telepon.
“Halo sayang, kamu ngapain?” tanyanya dan aku gak nyaut karna masih shock.
“Ca, halo,” ujarnya lagi.
“Iya bi, aku lagi nonton sama Sunny,” jawabku.
“Sendirian aja dirumah?” tanyanya.
“Iya, bapak keluar sama temannya, kamu ngapain?” tanyaku.
“Aku bangun tidur, karna semalam aku begadang sama temen-temen baru, nongkrong,” jawabnya.
“Oh gitu ya, mabuk? Atau pergi ke club, nongkrong gaya ala ibu kota!” jawabku emosi.
“Gak sayang, cuma nongkrong di cafe aja, sambil ngenal lingkunganlah yaa, harus bersosialisasi,” jawabnya.
“Serahmu, entar lama-lama juga kegaet cewek-cewek sana yang pakaiannya serba kurang bahan,” jawabku makin emosi.
“Kamu kenapa sayang? Kok sensi bener,” jawabnya.
“Gak usah sok sosialisasi!!” jawabku dan mematikan telepon
Dan Toby telepon lagi tapi gak aku angkat karna entah mengapa bayanganku sudah aneh-aneh dan bisa aja bakalan kejadian, sungguh rusak kehidupan disana dan bayanganku sudah terlalu jauh, padahal aku marah gara-gara Roy tapi Toby yang kena imbasnya, lagian ngapain juga dia sok-sok an bikin makin marah. Karna pikiranku kacau, akhirnya aku bersepeda keliling kompleks aja dan mampir ke tempat Nilam, karna dia ada didepan rumah sama ibunya ternyata lagi bikin rujak buah dan diajaknya aku untuk makan bersama mereka.
__ADS_1