
Kami mengamati satu persatu, foto demi foto lalu ada satu yang nampak tidak asing. Sebuah foto lama tak berwarna yang sedikit pudar, aku pun melihat Ana, apakah dia menyadari sesuatu, Ana pun melihatku dengan tatapan yang tau siapa yang ada di foto ini.
"Tante, siapakah beliau? mengapa begitu nampak berbeda dari yang lain? " tanyaku.
Lalu tante melihat dan memakai kacamatanya yang selalu dikalungnya itu.
"Hmm... ini kalau tidak salah orang yang berpengaruh dilingkungan sini. Soalnya jaman dulu itu kan susah ya, mau belajar pun tuh susah, nah suami beliau ini yang membantu kalau jaman sekarang tuh kek umkm gitu, ngasih pelajaran agar warga punya keterampilan yang bisa dijual untuk hidup sehari-hari. " Jawab tante.
"Oh, jadi gitu ya tante, pantesan cara berpakaiannya beda sendiri. " Jawabku.
"Iya, beliau ini sangat modis pada masanya, eyangku diajarinya menjahit, kala itu janda perang dan hidup tak ada cukupnya, makan seadanya, lalu suaminya itu katanya asli sini dan ngebantu orang sini banget pokoknya, itu sih cerita turun temurun. Beliau ini sudah 50 tahun di foto ini tapi nampak awet muda yaa.. " Ujar tante.
"Hah? " Ucap Ana spontan.
"Kaget kan? tante dulu juga kaget kok bisa 50 tahun awet muda, orang kaya emang gitu yaa pembawaanya bisa keren, gitu kata tante waktu diceritain. " Jawab tante.
"Iya tante, beliau ini cantik yaa.. foto usangpun nampak paling menonjol. " Ujarku.
"Tentu cantik nak, dia keturunan Belanda mana ada keturunan campuran yang tidak rupawan. " Jawab tante.
"Iyasih tan, apa aku nikah sama bule aja kali yaaa... hehehhe, " jawab Ana bercanda.
"Yaa gapapa nak, orang tante aja nikah sama turunan jepang. " Jawab tante sambil tertawa.
"Pantesannn.. Dipta kek manusia-manusia di manga, " jawab Ana sambil tertawa.
"Kamu bisa aja, tapi ngebuat rumah punden ini gak keurus, tante anak satu-satunya, sedangkan sering kali tante dimimpiin sama ibunya tante suruh rawat rumah baik-baik karna leluhur dulu susah bangun rumah ditanah sendiri. " Jawab tante mengenang masa lalu.
"Jadi tante akan menetap disini? " tanyaku.
"Iya nak, mau menjalani masa tua disini sama anak cucu, " jawab tante dengan wajah semringah.
"Suami tante tetap di jepang dong? " tanya Ana.
"Iyaa... nanti kalau dia pensiun baru kesini. " Jawab tante.
"Bisa Ldr gitu ya tan, " ucap Ana.
"Sebenernya susah ya nak, takut juga. Tetapi tante punya kewajiban perbaikin rumah dan didukung sama suami juga. Kalau sudah bersih rapi biar ditinggalin sama Dipta dan Kris disini, sementara tante balik ke jepang nemenin suami, nanti kalau cucu sudah lahir baru kesini lagi, " ucap tante tersenyum.
__ADS_1
"Keren banget tante udah berencana, " jawab Ana.
"Iya nak, tapi kerjaan Dipta juga di jepang, jadi apa kata Dipta aja deh, pusing tante. " Jawab tante.
"Hmm.. tante kenal sama semua orang difoto ini? " tanyaku sambil menyodorkan foto.
"Oh, ini Lingga mantan tante dulu, " jawab tante.
Entah mengapa aku merasa tak begitu asing dengan si Lingga ini.
"Mantan tante ya? ganteng banget, " jawabku.
"Ganteng nak, orang dia ini cicitnya orang yang cantik tadi yang kamu tanya tadi. " Jawab tante.
"Oh... ini yaa tante? " tanyaku sambil menunjukkan foto Asmirah.
"Iya, tapi tante gatau namanya, " jawab tante.
"Pantesan, ganteng banget, terus kenapa tante gak sama dia? " tanya Ana blak-blakkan.
"Hehehe... gimana ya nak, ganteng sih tapi kalau jaman sekarang nyebutnya dia itu posesif banget, over banget dah pokoknya, tante takut terus tante putus. Habis itu nyesel karna dia nikah duluan dan dia itu kaya banget yaaa, kado pernikahannya aja aset apa gitu, harusnya tante yang nikmatin dijadiin ratu, tapi kok takut, terus ibunya tante juga gasetuju, takut tante kenapa-kenapa kalau sama orang yang terlalu kaya. " Jawab tante.
"Siapa nama ibunya Lingga ini tan? " tanyaku.
"Tante gak cinta sama Lingga? " tanya Ana.
"Cinta sih cinta nak, tapi tante harus tau diri aja, kalau gak tau diri nanti sakit jadinya, " jawab tante dengan sedih.
"Tante gaperna berhubungan sama Lingga ini? " tanyaku.
"Gaperna lah nak, ngapain? cuma yang tante tau keluarga itu sudah tak tinggal dirumah punden nya, " jawab tante.
"Kenapa? " tanyaku.
"Gak tau yaa, dia pindah keluar pulau kayanya, rumah itu jadi milik siapa juga gatau, karna kan keturunannya banyak, kabar-kabarsih karna kaya-kaya semua ya punya rumah dimana-mana. " Jawab tante.
Benar memang kalau tak ada yang mau menempati rumah itu kecuali keluarga bu Hartanti, semua keluarganya pergi menjauh dari rumah itu. Lingga ini membuatku penasaran dia anaknya siapa, dari turunan Amini kah, Batara kah, atau Santi? feelingku sih keknya cucunya Batara atau siapanya Batara gitu. Karna perawakan gantengnya kek Batara, ah tapi entahlah.
"Tapi tante masih berteman di facebook, tapi sepertinya sudah tidak aktif akun dia. " Jawab tante.
__ADS_1
"Ciee.. tante masih ada rasa yaaa? " tanya Ana.
"Tidak dong nak, tante ini sudah tua yakan, punya suami yang pinter, anak cuma satu juga pinternya bukan main, tante udah bersyukur banget. " Jawab tante tersenyum.
"Tante, kita temenan yuk di sosmed, " ucapku yang ada udang dibalik batu.
"Boleh, tapi tante cuma punya facebook aja hehehe, " jawab tante tertawa.
"Apa namanya te? " tanyaku.
"Amayu underscore sari, " jawab tante.
"Gini ya te, " jawabku sambil memperlihatkan hpku.
"Iyaa... bener ini foto profilenya kecilnya Dipta, " jawab tante.
"Follbek dong te, " ujarku.
"Iya, hp tante masih di charge, " jawabnya.
Berarti tante seusia bu Hartanti lebih muda sedikit mungkin ya, dan dulu bu Hartanti bilang kalau keluarganya berpencar, aku akan cari akunnya Lingga barangkali ada sesuatu yang membantu.
Setelah itu kami lanjut menyiapkan, agar temen-temen selesai belanja kami sudah menyiapkan semua dan lanjut memasak. Tapi aku berpikir kalau pak Broto memang sangat keren dimasa lalu, sangat membantu sesamanya dan benar-benar tulus tanpa meminta balasan apapun, hanya pengaruh Asmirah lah dalang dari semua ini.
Aku berharap masalah keluarga lain ini cepat selesai dan kami semua bisa melanjutkan hidup tanpa ada kekhawatiran semacam ini. Apalagi Kris juga mau menikah, Toby pun juga, rasanya pengen cepet-cepet lepas dari belenggu masalah keluarga orang yang kami jadi terseret didalamnya.
Tak lama teman-teman datang seusai belanja, mereka membeli banyak sekali bahan makanan dan Ana marah-marah, karna mereka membeli banyak bahan tapi gatau mau masak apa aja, ada ini tapi gak ada itu dan sebaliknya. Memang yang jago masak itu Ana, jadi dia selalu kesal kalau beli bahan banyak tapi gatau mau diapain.
"Ca... keknya Kris nikah lebih dulu dari kita, " ujar Toby.
"Iyakah? yaa gapapa, emang kenapa? " tanyaku.
"Yaaa, kan aku pengennya kita cepet nikah, harusnya kita duluan, " jawab Toby.
Aku hanya diam dan bingung mau jawab apa, tapi aku juga gaboleh bersikap bodo amat ke Toby, aku gaboleh menyakiti hati orang.
"Yaa.. gapapa, jangan kek gitu toh juga dah pasti kita bakal nikah. " Jawabku tak melihat mukanya, karna aku tau dia bakal berekspresi yang heboh.
"Haaaa... apa? aa.. apa? " jawabnya yang aku tau pipinya memerah karna senang.
__ADS_1
"Gak ada pengulangan kata-kata, bye! " jawabku sambil meninggalkannya untuk bergabung memasak.
Entah aku memang terbiasa dengannya atau aku memang punya rasa. Aku harus segera memastikan perasaanku sendiri.