
Malam, dingin, hujan angin nan berisik, terasa hangat di dalam rumah karna tamu-tamu yang kami senangi akan kehadiran nya membuat terasa begitu hangat dan intens, padahal bukan saudara, tetapi ke akraban begitu kental. Suara hujan dan guntur tak membut berisik lagi, karna suara candaan dan tawa renyah membuat nikmatnya semakin terasa saat malam.
"Amini, jika dilihat-lihat ternyata kamu cantik. " Ucap Djaya.
"Oh yaa? mengapa kamu baru menyadarinya. " Tanya ku.
"Mungkin karna kamu sangat anggun hari ini, berbeda sekali saat di tempatku. " Jawabnya.
Lalu lami terbahak-bahak dengan berbagai macam candaan Djaya, mungkin saat dirumahnya aku nampak tidak jelas sekali, tak bisa kontrol emosi dan ekspresi, apalagi aku tak memakai bedak atau pakaian yang bagus. Kalau untuk saat ini kan aku cantik, Amini memang cantik dan mempesona.
"Eh .. Amini... sini " Bisik Adi.
"Kenapa mas? " Tanya ku.
"Apa yang kamu bicarakan dengan ibuku? " Tanya Adi.
"Banyak, tapi mengapa memang? " Tanya ku kembali.
"Aku melihat sedikit kelegaan dalam diri ibuku. " Jawabnya.
"Iyaa ... ibumu keren sekali. " Ucapku.
"Mengapa? " tanya nya.
"Ibumu tak mencampuri urusan orang lain, bahkan bisa saja dia ikut. " Jawabku.
"Iya, aku akui itu. " Ucap Adi.
"Tapi, keturunan turun temurun yang seperti indra keenam itu juga menurun padaku karna aku anak satu-satunya. " Ucapnya.
__ADS_1
"Sungguh? lalu apa yang kamu lihat sekarang? " tanya ku.
"Di balik jendela ini, nampak ada sosok besar sekali berwarna hitam, sedang mengamati kita yang di dalam. " Jawab nya sambil mengelus tengkuk lehernya.
"Apakah dia menganggu? " Tanya ku.
"Tidak, dia hanya penasaran sedang apa kita di dalam dan mengapa banyak orang. " Jawabnya.
"Lalu? apalagi? " Tanya ku lagi.
"Kalau di dalam rumah mungkin ada, tapi sosoknya tak menganggu. Ada anak-anak atau nenek tua yang menjaga tempat pak Broto melukis dan ada beberapa hewan bermuka manusia di halaman belakang. " Jawab nya.
"Seram ya? " Tanya ku.
"Tidak, mereka hanya anak-anak miskin yang kelaparan dan menemukan rumah ini jadi mungkin hanya sementara bermain, kalau nenek itu sepertinya sangat menyukai lukisan. " Jawabnya mendeskripsikan dengan wajah yang tegang, namun tetap tampan.
"Kamu bagaimana bisa pandai dalam memahat kayu? " Tanya ku penasaran.
"Siapa sosok itu? " Tanya ku lagi, karna disini hanya aku yang bertanya bagaikan introgasi.
"Kata ibu, itu adalah nenek moyang kami." Jawab nya.
"Wah... keren sekali. " Ucap ku.
"Kamu merasakan apa saat ini? " Tanya Adi.
"Merasa bahagia saja, namun juga merasa sedih. Eh tapi aku seperti ada yang mengintip di pintu belakang. " Ucap ku.
"Iya... itu sepertinya Amini. " Jawab nya.
__ADS_1
"Apa? " Kataku.
"Amini.. kamu apakah punya kembaran? ini mirip sekali denganmu. " Tanya nya.
"Tidak. Tapi memang terkadang ada yang menyerupai disini. " Jawab ku.
"Bisa jadi, lupakan saja jangan di lihat. " Ucapnya.
"Adi, waktunya tidur, besok pagi kita harus kembali. " Kata bu Sari.
"Kembali setelah sarapan dulu yaa.. " Ujar pak Broto.
Kami semua tidur dengan nyenyak karna kebersamaan, aku tidur dengan Laksmi sebelum tidur dia banyak sekali bercerita tentang bagaimana dia belajar memasak atau bagaimana dia berusaha mencintai suaminya, karna ketika tiba-tiba ada lelaki yang berusaha meminangnya dan tanpa rasa akan terasa sangat sulit, terlebih untuk melakukan hubungan lebih dalam dan intens.
Aku pun tak sadar sudah tertidur dan entah bagaimana Laksmi apakah kesal di tinggal tidur. Saat bangun Laksmi sudah tak ada di sampingku, ternyata semuanya sedang memasak. Sangat senang sekali melihat situasi ini. Melihat orang-orang baik berkumpul.
Tetapi tiba-tiba Asmirah datang dan terkejut karna di rumahnya sudah banyak orang dan merasa tak biasa, karna saudara nya saja jarang sekali berkumpul, bahkan kalau ada acara menjamu tamu pun hanya client penting. Semua orang terdiam saat Asmirah datang dan pak Broto menjelaskan situasi saat ini, Asmirah berusaha untuk tersenyum dan tetap tenang padahal aku tahu pasti beliau tak menyukainya.
Saat ini yang menjadi highlight nya adalah bu Sari yang nampak berkaca-kaca dengan raut wajah penuh kesedihan, apa mungkin dia melihat bu Diajeng bersama Asmirah, karna kan memang bu Diajeng ini selalu mengikuti Asmirah. Aku sangat penasaran tetapi wajah bu Sari tak bisa berbohong. Asmirah menyapa semua tamu dan pamit bersih-bersih lalu akan membantu memasak.
Bu Sari tiba-tiba izin padaku, ingin pergi ke kamarku ada yang mau di bicarakan tapi bukan berbicara padaku, melainkan sosok lain dan itu mungkin bu Diajeng. Aku membantu mbok Darmi membakar ayam yang di niatkan untuk di bawa pulang para tamu, ini adalah kebaikan pak Broto. Lalu Asmirah datang dan menyuruhku agar masuk saja jangan dekat-dekat dengan api dan asap. Memang Asmirah sangat menyayangi Amini terlihat sekali dia begitu peduli dan mengasihi.
Terlihat mbok Darmi jadi tidak enak karna Asmirah kan sedang hamil besar. Tetapi Asmirah santai saja karna dia tahu kalau memang Amini yang mau membantu. Saat semua sudah jadi dan kami mennyantap makanan sembari banyak yang kepo, ada acara apa Asmirah pergi keluar kota dalam kondisi hamil. Asmirah pun bercerita dengan senang dan bangga karna dia sedang belajar membuat pakaian yang bisa menjadi trend, jadi dia belajar semuanya dalam waktu beberapa hari ini dan dia juga bersyukur memiliki suami yang tidak kolot dan mau mendukung istrinya.
Semua pun semakin penasaran dan bertanya dengan detail, Asmirah pun merasa di dukung dan dihargai menjadi baik juga moodnya. Mereka lama bercerita dan akhirnya pamit untuk pulang. Mereka berterimakasih sudah di undang dan di sambut dengan baik bahkan di berikn oleh-oleh ayam bakar untuk semua tamu. Mereka sangat senang sekali dan bahagia.
Selepas mereka pergi rumah kembali sepi dan sunyi, mbok Darmi sibuk dengan bersih-bersih, Batara sibuk dengan pahatan nya, karna dia diajari memahat oleh Adi, pak Broto sibuk dengan lukisan nya, Asmirah pun beristirahat karna kelelahan. Aku hanya berbaring di kamar sambil menatap langit-langit dan berusaha merangkum apa yang aku ketahui selama berada disini.
Sampai akhirnya aku ketiduran karna kekenyangan juga. Batara datang membangunkanku karna ada tamu yang harus di temui seluruh keluarga, aku pun sebenarnya malas menemui nya, mungkin client pak Broto atau teman Asmirah jadi aku lanjut tidur lagi, dan Asmirah membangunkan ku, disuruhnya aku ganti pakaian dan merapikan rambut, sangat heboh sekali Asmirah ini. Aku ke kamar mandi untuk mencuci muka dan berganti pakaian serta merapikan rambut.
__ADS_1
Saat aku keluar dan dikenalkan pada bapak ibu dan 2 anaknya, serta lelaki tua dan 1 cucunya yang ternyata lelaki tua dan cucunya adalah pembantu, makanya dia membawa barang-barang majikan nya. Mereka kemari ingin bertamu dan membeli lukisan serta pakaian, barang-barang yang dibawanya adalah bayaran nya. Namun keluarga ini nampak kaya dengan pemikiran yang sangat sombong, kakek dan cucunya kasihan sekali dengan muka yang lelah.
Saat ku tanya nama cucunya yang mungkin 3 tahun lebih tua, dan ternyata namanya adalah Salim, mungkinkah ini yang disukai Amini? apakah Salim ini yang menjadi buyutnya Roy? Seketika aku tersenyum karna entah merasa bahagia bertemu moyang nya Roy. Mungkin akan mirip Roy atau entahlah aku merasa dekat sebagai teman.