Rumah 7 Turunan

Rumah 7 Turunan
80. Toby [10]


__ADS_3

Saat kami bersiap ke kampung asri Aca meminta mampir ke supermarket untuk memberikan bingkisan buah-buahan dan juga roti-roti yang banyak, dalam perjalanan yang tenang Aca juga ingin mampir untuk membeli bakso yang pedas, entah mengapa dia tiba-tiba ingin bakso, setelah makan lanjut jalan dan akhirnya sampai juga di kampung asri.


Setibanya kami disana ternyata memang kebetulan kakek baru pulang dari ladang dan senang dengan kedatangan kami, langsung disuruh masuk dan makan siang bersama mereka. Padahal kami sudah makan tetapi tak baik juga menolak suguhan mereka yang manis ini, mereka masak nasi jagung dan sayuran serta sambal yang sangat enak, kami berdua makan dengan lahap sampai-sampai perut Aca katanya sangat penuh. Mereka mengucapkan terima kasih karna mau mampir berkunjung ke rumah mereka yang sederhana ini.


“Makasih ya nak, kalian mau mampir, gausa bawa apa-apa seharusnya, ngerepotin nanti,” ujar kakek.


“Oh enggak kek, kami malah senang datang kemari bawa oleh-oleh buat kakek sekeluarga.” Jawab Aca senang.


“Gimana makanannya enak?” tanya anak kakek.


“Enak sekali bu, sangat enak, ini nasi jagung terenak yang pernah saya makan.” Jawabku.


“Bisa saja kamu nak, yauda diminum tehnya, silahkan ngobrol dengan kakek.” Ujar ibu anaknya kakek.


“Baik bu, makasih yaaa…” jawabku.


Kakek menyuruh kami menyeduh teh yang masih hangat agar perutnya nyaman, kakek juga menyeduh kopi hitamnya.


“Bagaimana keadaan kalian ?” tanya kakek.


“Baik kek, bagaimana dengan kakek sendiri?” tanya Aca.


“Kakek juga baik, tapi kakek jadi kepikiran sama kalian semua ini, jadi sering mimpi yang aneh-aneh.” Jawab kakek sambil menggelengkan kepala.


“Maaf ya kek, kami jadi bikin kakek khawatir,” jawabku.


“Gapapa nak, emang sudah semestinya yang tua khawatir dengan yang muda.” Jawab kakek.


“Apakah kakek kenal dengan tante Sari yang rumahnya ke arah ladang tebu?” tanyaku.

__ADS_1


“Rumah yang halamanya besar itu ya?” tanya kakek.


“Iya kek, rumah itu yang kemarin kami datangi karna kebetulan pacar teman kami rumahnya disitu.” Jawabku.


“Oh .. iya yaa itu Sari sepantaran dengan anak saya yang laki, tapi bukannya rumah itu sudah lama kosong, bukan nya mereka ada di luar negeri ya?” tanya kakek.


“Iya kek, sudah kembali dan sedang merenovasi rumah itu,” jawab Aca.


“Iya Sari dulu waktu kecil sering sekali bermain sama anak saya. Loh tapi dia kan mantan pacarnya cicitnya pak Broto loh,” ujar kakek sembari mengingat-ingat.


“Iya kek, tante Sari juga menceritakan kepada kami.” Jawabku.


“Dulu itu jadi pembicaraan orang kampung sini, karna merasa kasihan sama Sari dianggap gak sebanding karna Sari kan orang biasa aja, meskipun rumah dengan halaman yang besar itu juga didapat gak mudah.” Jawab kakek yang seakan tau sejarah dari rumah tersebut.


“Aneh nya rumahnya banyak sekali foto-foto lama yang dipajang di dinding rumahnya kek.” ucapku.


“Rumah itu memang seperti rumah perkumpulan para ibu-ibu jaman dulu seperti ibu-ibu PKK atau acara-acara di kampung ini lebih sering diadakan di rumah itu, jadi jelas aja kalau banyak sekali foto-foto perkumpulan.” Jawab kakek.


“Rambut panjang ya, pakai kebaya terus ada penampakan yang spesifik kah ?” tanya kakek.


“Tidak ada kek, tapi dia aneh, semalaman ngikut saya dirumah lalu nungguin saya bangun yang lagi mimpi nih dia malah mau menyeka pipi saya, bahkan dia juga tertawa sangat kencang dan menyeramkan.” Ujarku yang menceritakan kejadiannya.


“Gak ada tanda dia maunya apa dan ngapain gitu ?” tanya Aca.


“Gaada, bahkan Ana juga dinampakin tapi cuma sampai jendela aja karna dia gak bisa masuk ke rumah Ana udah dipagerin, Ana nya risih kan ya serem aja bayangi ada cewe rambut panjang diem aja di jendela melototin kita.” Jawabku.


“Dari kalian semua yang bisa merasakan ada dua orang ya nak, kamu dan temanmu satunya, jadi kalian habis ngapain aja dirumah itu, apa kalian juga melihat penampakannya saat berada dirumah itu?” tanya kakek.


“Iya kek, hanya saya dan Ana yang cukup peka. Tapi saat saya berada dirumah itu memang banyak sekali makhluk yang tinggal karna sudah lama kosong juga dan saya tidak melihat cewe ini kebetulan, hanya saja cewe ini pernah saya lihat di sebuah foto di lorong dekat kamar mandi, saya lihat karna kebetulan pigura foto itu tidak lurus jadi saya benerin, pas udah bener lewat lagi ternyata miring lagi, akhirnya saya biarkan saja tidak mau menanggapi.” jawabku menceritakannya secara rinci.

__ADS_1


“Berarti orang dimasa lalu yang hanya penasaran saja nak, karna dia tidak memberi tanda atau maksud tujuan dia mendatangimu, hanya diam dan tertawa saja kan?” tanya kakek.


“Iya kek,” jawabku.


“Ah kakek, bisanya hanya diam dan tertawa saja, itu dah serem kek bagi saya.” Jawab Aca yang tak terima sambil tersenyum lalu kami semua tertawa agar tidak terlalu tegang perbincangan ini.


“Biarkan saja, selama mereka tidak mengganggu mungkin hanya penasaran karna sudah lama tak ada manusia di rumah itu dan kebetulan ada kalian yang bisa melihat mereka.” Jawab kakek memberikan nasihat.


“Iya kek,” jawabku sambil ngemil singkong goreng.


“Makan nak, ini baru aja di goreng baru juga diambil dari belakang,” ujar kakek.


“Iya kek, makasih.” jawab Aca.


“Lalu sudah sampai mana yang dengan keluarga pak Broto itu ?” tanya kakek.


Lalu aku dan Aca saling berpandangan seperti memberikan kode agar Aca saja yang bercerita, tapi Aca gak mau malah menyuruhku.


“Jadi gini kek, anak-anak dari pemilik rumah itu yang bernama Laras dan Sekar menginginkan kami untuk turut membantu mereka berkomunikasi dengan moyang mereka, dengan alasan kalau mereka butuh saksi bahkan Laras kemaren membawa sepupunya yang sudah jadi makhluk ghaib untuk menjadi tali dunia kita dan dunia mereka, hanya saja kami belum bisa menjawab atau memastikan harus mengiyakan atau tidak.” Jawabku.


“Kenapa harus ada makhluk lain, memangnya tak bisa berkomunikasi langsung dengan yang terkait?” tanya kakek.


“Kemarin kami coba gak bisa kek, jadi katanya Asmirah seperti memutus portal dan menghalangi kami yang ingin berkomunikasi dengan pak Broto.” Jawabku.


“Lalu kalian percaya ?” tanya kakek.


“Sebenarnya kami tidak percaya kek pada mereka, karna seperti penuh intrik dan tak ada keterbukaan jadinya kami ragu.” Jawabku.


“Kalian harus hati-hati dalam mengambil keputusan karna bisa saja jadi bumerang yang membahayakan.” Jawab kakek.

__ADS_1


Benar memang ini bahaya, bukan bahaya lagi tapi sangat berbahaya.


__ADS_2