
Berjam-jam Aca mendengarkan curhatanku sampai aku lega dan akhirnya kami pulang kerumah Aca, yang disana sudah ada Toby dan juga Om menunggu kami didepan rumah sambil main catur. Seakan Toby ingin marah karna pacarnya diambil dan ngadu ke mertua, sedangkan Aca memberi kode untuk aku menyegarkan badan alias mandi agar lebih fresh sedangkan mereka rapat sendiri didepan, setelah mandi Aca sudah menyiapkan makanan yang rupanya dia beli di warung depan kompleks, dan menyuruh kami semua menikmati makanannya dengan teh hangat karna tiba-tiba hujan deras.
“Roy, kamu malam ini pulang aja, om bukannya ngelarang, tapi kamu sudah dewasa, sudah sepatutnya kamu berani dengan lantang mengutarakan pendapatmu dan berdiskusi agar mendapatkan solusi,” ujar om dengan lugas yang memintaku untuk menjadi lelaki.
“Tapi om, aku belum siap.” jawabku bingung.
“Kalau tidak sekarang kapan lagi? Kamu harus lebih berani karna sudah dewasa, kamu bakal jadi calon kepala rumah tangga, otomatis tanggung jawabmu besar, maka dari itu kamu harus bisa menghadapi dirimu sendiri,” jawab om dengan serius.
“Baik om,” jawabku lemas.
“Pasti ada solusi dan pasti kamu bisa sembuh dari rasa sakitmu,” jawab om sambil memberikan telur setengah matang kesukaanku.
Sedangkan Aca dan Toby hanya diam saja dan setelah makan mereka berdua menyemangatiku, dan menyuruhku pulang nanti saja saat hujan sudah berhenti, sedangkan papa mencariku karna mereka pulang kerumah dan ingin ada aku dirumah itu. Akhirnya aku pamit pulang dan memang mobil mereka sudah terparkir di rumah yang selalu sepi dan hening ternyata waktu masuk kerumah sudah ada papa, mama dan keponakanku yang kecil yang ingin bermain PS bersamaku, aku turutin dan kami bermain sampai hampir jam 2 pagi, mama bangun dan menyuruh kami untuk segera tidur karna sudah pagi.
“Kak, gimana rasanya tinggal sendirian?” tanya keponakanku yang masih SMP ini.
“Enak aja, tapi kadang sepi, kalau sepi ya main sama temen-temen,” jawabku sambil rebahan dikasur.
“Aku nanti gede pengen kek kakak, kata bunda aku harus mandiri kek kakak,” jawabnya sambil tersenyum.
__ADS_1
“Bagus deh, kamu harus jadi laki yang mandiri dan penuh dengan mimpi-mimpi, cita-citamu apa?” tanyaku.
“Pengen jadi pilot kek ayah, tapi mama menyuruhku jadi pengusaha aja,” jawabnya dengan polos.
“Apapun yang kamu inginkan jangan sampai terhasut kamu harus yakin dengan diri sendiri,lakukan dengan hati dan ketekunan,” jawabku berusaha memberikan dia semangat karna mukanya murung.
“Semuanya menginap dirumah kakek, sedangkan aku gak nyaman dirumah itu,” jawabnya.
“Kenapa?” tanyaku.
“Gak tau kak, gak asik aja,” jawabnya sambil menguap dan kusuruh untuk tidur.
Sesampainya di kantor keponakanku langsung happy karna sudah lama gak ketemu Toby, padahal dulu sering ketemu dan main bareng.
“Jam berapa ini bos?” tanya Aca dengan nada yang menyebalkan.
“Sorry bro, bangun telat.” jawabku berusaha santai.
“Masuk setengah hari bilang dong, masa iya jam setelah makan siang baru dateng tanpa kabar, jadi bos jangan seenaknya ya!” serunya marah.
__ADS_1
“Sekali lagi maafkan daku Alca Madisa,” sambil memasang muka melas.
“Aku gak mau ada hal-hal kek gini lagi ya, profesional aja kalau kerja, jangan urusan pribadi disangkut pautkan sama kerjaan kalau gak ada hubungan apapun, udah ada grup tinggal kasih kabar aja susah,” jawabnya tetap marah dan diketawain Ambar dari jauh.
Aku langsung kemeja kerja ku dan mengerjakan pekerjaanku yang cukup banyak dan padat, karna aku harus memeriksa pekerjaan temen-temen juga, karna baru bisa lanjut kalau aku sudah approve, beda dengan divisi Aca, dia sendiri yang memutuskan sendiri, kalau yang lain tentang keuangan, client dan lain-lainnya harus melalui aku, keponakanku juga senang main kesini karna dia dengan bebas main dan makan tanpa mengganggu teman-teman yang lain.
“Roy, kek apa nih, client kita Ika nih minta diskon karna kan dia pesan aksesoris buat buah tangan pernikahan nya tuh banyak, terus dia juga foto preweddingnya di sini, dia cetaknya juga disini bahkan pesan desainnya juga disini dari undangan dan juga foto cetak bingkai itu,” ujarnya yang pusing karna harus menghubungi banyak pihak karna kita kerja sama juga sama pihak-pihak itu.
“Yang pusing jelas Aca sih ini, anak baru yang direkrut nya belum muncul?” tanyaku.
“Besok mereka datang, emang Aca pusing sih, dia udah pusing masalah konsepnya, dan besok juga aku sama Aca nih janjian sama clientnya buat meeting disini, nah gimana menurutmu biaya ini udah aku rapikan,” ujar Ambar sambil nyodorin timeline budgetingnya.
“Oke aku pelajari dulu, dan kamu udah hubungi partner-partner buat kek percetakan dan lain-lainnya kan?” tanyaku.
“Udah kok, dan mereka minta harga segitu, udah ku tulis nih di bagan ini,” jawabnya.
Lalu aku pun hitung-hitungan dengan Ambar dan melobi banyak tukang karna memang sistem kerja kita juga gak kerja sendirian, contohnya masalah pemotretan itu bukan Aca aja tapi ada fotografer freelance juga, masalah editing juga ada freelance an, Aca tuh emang maunya kerja sama gitu, dia mau juga bangkit dan kerja bareng-bareng jadi bagi hasil, sekarang nih walaupun ada anak baru dia juga tetap ada freelance langganan dia karna feel kerja nya sama seleranya sesuai dengan konsep MMA ini.
Akhirnya kelar juga ngobrol sama Ambar ini dan tak terasa sudah sore waktunya pulang, Aca masih ribet dengan konsep-konsep dia, ngeprint banyak sekali, buat dia besok meeting sama client, dan aku harus ngajak keponakanku pulang, tapi sebelum itu Ana bilang mau mampir kerumahku untuk mengecek sesuatu, dan akhirnya kami pulang bertiga. Sesampainya dirumah Ana seperti biasa selalu akrab dengan orang tua temannya padahal temannya ini gak akrab sama orangtua sendiri. Mereka tanya banyak hal dan dijawab Ana dengan sangat santai, karna Ana memang selalu cantik dan elegan, dia paling cantik dari jaman SMA sampai saat ini, tapi gak pernah mau punya pacar lagi karna malas katanya buang-buang waktu dan terang-terangan dijawab saat makan malam sama keluargaku.
__ADS_1