Rumah 7 Turunan

Rumah 7 Turunan
55. Waktu


__ADS_3

"Hai.. maaf ya agak telat. " Ucap Kris sambil menyalami lelaki itu.


"Iya.. gapapa Kris, aku juga baru dateng. Oh yaa mau pesen apa? " tanya nya.


"Ini kenalin sahabatku, Aca, gapapakan aku ngajak temen? " tanya Kris.


"Halo, Aca, saya Dipta. " Ucapnya sembari menjabat tanganku.


"Iya Halo Dipta, sahabat sekalian partner kerja nya Kris. " Jawabku.


Kami langsung duduk dan memesan makanan, aku memesan nasi goreng cumi ternyata Kris hanya memesan salad buah, mungkin dia sedang diet karna nampak bingung sekali memilih makanan, dan membuatku bertanya-tanya, apakah Kris lagi pdkt sama ini orang, dan ini laki juga mukanya gak asing banget.


Perawakan tinggi, kurus, rambut sedikit gondrong dan berkacamata, ada maksud apa juga ini, apa bundanya Kris menjodohkan mereka? apakah masih musim menjodoh-jodohkan anaknya. Aku hanya mengamati perbincangan mereka dan tak mau terlalu mengikuti karna aku juga sibuk dengan tabletku alias ngegambar mereka.


Makanan datang, aku makan dengan lahap dan seolah aku makan sendiri, karna dari awal aku sudah ngomong kalau jangan anggap ada aku di sini meskipun mereka gak terima dan tetep diajak ngobrol sedangkan aku hanya jawab seadanya.


"Emm.. kalian nih lagi pdkt perjodohan? " tanyaku karna penasaran banget.


Sedangkan respon mereka tersenyum malu-malu.


"Apasih? yauda kalau gamau kasih tau. " Ucapku lagi.


"Iya ca, ini pertemuan pertama semenjak aku kembali dari jepang. " Ucap Dipta.


"Okay, sebelumnya? " tanyaku lagi.


"Ketemu waktu umur 6 tahun. " Jawab Kris


"Buset, terus kalian ini di jodohin? " tanyaku.


"Iya, dari kecil, untuk saat ini kami berteman baik saja dulu, nanti kalau memang jodoh akan bersama. " Jawab Dipta.


"Iya ca, aku juga membuka diri banget yakan, sekian lama temen kecil gak ketemu. Terlebih dia ini asli sini di daerah kampung asri. " Ucap Kris.


"Hah? kampung Asri? yang ada sumber itukan? " tanyaku.


"Iya, nenekku asli sana, sedangkan ayah bertugas di jepang jadi sejak kecil ikut ayah dan baru kembali saat ini. " Jawabnya.


"Siapa nenekmu? " tanyaku.

__ADS_1


"Mbah Yati. " Jawabnya.


"Mbah Yati siapa? asli penduduk situ? " tanyaku lagi.


"Yati aja gak ada kepanjangannya, iya asli karna itu rumah punden, dan ibuku ingin merenovasi rumah itu jadi aku juga sekalian kembali kesini. " Jawabnya.


"Ca... ngapain nanyain nama panjang neneknya? kek kenal aja? " bisik Kris.


Dan aku hanya tersenyum seakan kemungkinan dari segala kemungkinan bisa terjadi.


"Boleh gak, kapan-kapan ikut berkunjung ke rumah itu? " tanyaku.


"Boleh, Kris dulu pernah main kesana, karna benar-benar tak terawat jadi nunggu waktu ya, kami saja kontrak rumah di sini. " Jawab Dipta yang sangat baik.


"Oke, deal! " Jawabku senang.


Aku lanjut makan es buah yang sangat segar dan mantab banget, sedangkan mereka asik bercengkrama tentang kerjaan masing-masing, aku jadi berpikir jika Kris jodoh sama Dipta gimana nasib Roy, terus Kris jadi ikut Dipta ke Jepang dong. Aku mulai kesal dengan over thingking ku yang berlebihan ini.


Sampai pertemuan ini selesai, aku lihat muka Kris nampak senang sekali, yaa aku hanya mendoakan yang terbaik untuk Kris dengan siapapun itu. Toh lama kelamaan memang kami semua akan menikah dan berkeluarga, masa kesendirian ini patut dinikmati dengan seksama karna kelak akan menjadi kenangan-kenangan antara pahit dan juga manis.


Seperjalanan kami pulang Kris banyak cerita tentang Dipta dan setelah melihat Dipta perasaan yang kosong ternyata terisi. Mungkin memang cocok kalau Kris bersama Dipta, tapi yang lebih penting mungkin aku pernah bertemu nenek moyang Dipta waktu aku dimasa lalu karna mukanya tidak asing. Aku tak sabar untuk segera ke rumah punden Dipta.


Sesampainya di rumah Kris gak mampir dan langsung pulang, sedangkan aku yang merasa belum terbiasa akan keterikatan ini lupa kalau sudah bertunangan dengan Toby, memang harus ya berkabar berlebihan begitu, kenapa Toby nih telepon mulu, chat mulu, antara males dan risih atau mungkin aku belum memiliki perasaan yang lebih kepada Toby, jadinya begini, begitu tenang dan santai padahal sudah memilih berkomitmen menuju pernikahan.


"Yaaa na? " tanyaku.


"Oh gitu? kalau Ana telepon diangkat, kalau aku gak? " ucap Toby kesal.


"Apasih bi? " jawabku kesal karna aku pikir Ana.


"Okey guys please ya tenang, jadi gini caa aku sama Toby lagi di cafe tanteku yang kemaren nih yaa.. bukan selingkuh ya, tapi dadakan banget karna aku merasakan sesuatu. " Ungkap Ana.


"Apa? " tanyaku.


"Tanteku bilang kalau cukup berbahaya melakukan komunikasi dengan mereka, karna mereka saat ini sedang geram dan murka. " Jawabnya.


"Kenapa? " tanyaku.


"Jadi, mereka ini dianggap anak cucunya tidak memiliki rasa hormat,attitude jelek, karna gak sopan sama tetua, padahal sudah diberi privilege yang baik. " Jawabnya.

__ADS_1


"Gitu lagi gitu lagi. " Ucapku bete.


"Jadi kata tanteku lebih baik biar diselesaikan sama pihak keluarga inti dulu, kita nih yang orang asing lebih baik jangan ikut campur dulu. " Ucap Ana.


"Oke dah, terserah aja. Aku sendiri juga udah cukup capek dengan masalah orang lain, kalau sampe mereka masih ganggu. Kalian tau kan apa artinya? " jawabku.


"Peperangan! " teriak Toby.


"Iya bener, kalian hati-hati ya pulangnya, bye. " Ucapku mengakhiri telepon.


Muka ku terasa sangat kesal dan penuh amarah, berasa geram tapi kaya gak bisa apa-apa. Lalu aku mencoba chat Laras agar menyelesaikan masalahnya dan meminta keluarganya agar tidak mengganggu kami lagi.


"Kenapa nduk? " tanya bapak.


"Kesal aja pak. " Jawabku singkat.


"Kenapa? bukannya harus bahagia kan sudah tunangan. " Tanya bapak.


"Iyasih pak, tapi kaya hampa aja kan aku belum sepenuhnya punya rasa ke Toby, gatau juga nih napa tiba-tiba tunangan. " Jawabku.


"Sudah, gausa kesal, jalani saja dengan ikhlas mungkin ini sudah kehendak Tuhan. " Jawab bapak tenang.


"Iya, tapi yang bikin kesel tuh sama keluarga penghuni ghaib basecamp dulu tuh! " ucapku kesal.


"Masih? " tanya bapak


"Masih pak, bahkan susah untuk diajak kompromi, sedangkan aku juga berasa beban banget kalau tau sesuatu dan gak diselesaikan. " Jawabku.


"Tenang saja nduk, ada masanya segala pertanyaan atas banyaknya tragedi dimasa lalu itu terungkap, ada waktunya. " Jawaban bapak yang menenangkan hatiku.


"Iya juga ya pak, bener kata bapak, mungkin saat ini belum waktunya. " Ucapku.


"Kita sebagai makhluk hidup yang masih hidup ini, cukup menjalani saja, segala hal gak baik akan berlalu, tenang saja. " Ucap bapak.


"Okey pak, makasih ini buat aku lebih tenang. " Ucapku sambil memeluk bapak.


"Ngomong-ngomong bapak belum makan, kamu udah makan? " tanya bapak.


"Udah pak, nasi goreng tadi pas jalan sama Kris, dia dijodohin. " Ucapku heboh menceritakan.

__ADS_1


Bapak mengajakku menemaninya makan tahu tek-tek di depan gang sambil jalan-jalan malam, dan aku menceritakan tentang Kris dan Dipta. Aku cukup menyadari bahwa waktu memang penting, gausa grasak-grusuk kalau memang belum waktunya, bahkan Kris dan Dipta bertemu pun menunggu waktu, aku dan Toby pun sama, maka terungkapnya masa lalu kelam itu juga nanti pada waktunya akan terungkap.


Kita tunggu saja....


__ADS_2