Rumah 7 Turunan

Rumah 7 Turunan
41. Sembah


__ADS_3

Tak terasa pagi pun datang, aku tertidur nyenyak sekali, saat bangun suasana rumah sepi, ternyata semua orang sedang memasak di belakang rumah bu Minah. Batara pun sedang membawa kayu bakar untuk memasak, dia senang sekali bisa mencari kayu dan bermain, Batara nampak menyukai kehidupan sederhana dan bermasyarakat. Dia memang pandai, bukankah di masa depan dia jago dalam bidang seni sama seperti pak Broto.


"Kamu sudah bangun nak? " tanya bu Minah yang baru sadar dengan kedatanganku.


"Iya bu, maaf aku bangun kesiangan, " jawab ku sambil merapikan rambut.


"Ikutlah mandi di sungai dengan Laksmi, " ucap bu Minah sambil memberiku pakaian untuk ganti.


"Iyaa... ayo Amini, masakan ini harus di diamkan beberapa menit agar meresap sampai dalam, jadi kita mandi saja dulu. " Ucap Laksmi.


"Kenapa tidak mandi dikamar mandi saja? " tanyaku.


"Mandi di sungai lebih segar, tenang kamu tak perlu malu, ayooo. " Kata Laksmi sambil mengandengku.


Aku dan Laksmi berjalan menuju sungai, dan aku bertanya tentang nyanyian yang dia nyanyikan semalam, karna sangat indah dan membuatku nyenyak tidur. Laksmi pun berucap bahwa tembang itu adalah tembang dimana dinyanyikan ibu untuk anaknya agar cepat tertidur dengan pulas, itu adalah bentuk atas ras sayang di daerah dia tinggal. Sedangkan Laksmi melihat ku yang ketakutan dan susah untuk tidur nyenyak maka di nyanyikanlah lagu itu.


Kami melewati makam dan aku bertanya, mengapa banyak bunga yang segar di area pemakaman, siapa yang merawatnya. Laksmi pun bercerita jika masyarakat sini sangat suka bercocok tanam, tanaman apapun di tanam. Bunga-bunga ini sengaja di tanam di area makam, agar memudahkan bagi para warga yang ingin bersilaturahmi dengan yang tiada, menaburkan bunga adalah bentuk rasa sayang dan harum-harum di area makam yang menenangkan agar penghuni yang tak adapun tenang.


Dan aku tak heran dengan pernyataan Laksmi, karna di masa depanpun juga sama seperti itu, menaburkan banyak bunga dan air. Bahkan jika banyak tumbuhan pun dipercaya tumbuhan tersebut juga ikut mendoakan yang sudah tiada.


Kami pun sampai di sungai, rasanya segar dan nyaman, akupun sambil bermain air dan bersenandung, tak sadar aku menyanyikan lagu Coldplay yang berjudul sparks dan Laksmi menanyakan nya, lagu apa itu kok enak sekali, untuk saja aku hanya bersenangdung dan tak menyanyikan menggunakan bahasa inggris. Setelah selesai mandi aku memakai pakaian bu Minah seperti kain jarik dan kain kemben. Karna memang aku kemari tak membawa pakaian, ku lihat tadi Batara pun hanya memakai celana tanpa baju.


Sekembalinya kami dari sungai, Batara bilang padaku bahwa ia menyukai tinggal disini, karna bisa bereksplorasi dan belajar berbudaya, dan bu Minah pandai menenun, aku berpikir jika bu Minah bertemu dengan Asmirah akan bisa berkolaborasi membuat pakaian yang fashionable. Tapi entah lah dijaman ini aku tak begitu mengerti, sedangkan tentara Indonesia saja berjuang untuk kemerdekaan Indonesia. Apakah aku masuk dalam wilayah yang bukan area pertempuran dan perbudakan, mungkin ada tapi tak mungkin pak Broto membiarkan anak nya tahu.


Kami semua makan makanan yang dihidangkan bu Minah, kami makan di rerumputan bagaikan piknik, ini sangat menyenangkan, andaikan aku bisa mengabadikan nya melalui jepretan foto. Sambil makan kami bercengkrama tentang masa lalu percintaan bu Minah dan pak Yadi, sangat sweet sekali orang-orang jaman dulu. Karna tak pandai membaca dan menulis mereka menggunakan kode sebagai bentuk surat mereka. Sangat indah dan mengajarkan ku dalam mengasihi dan menyayangi sesama manusia dan makhluk hidup lain nya.


Aku juga melihat bu Minah seperti mempersiapkan persembahan seperti kopi hitam dan makanan yang dibungkus daun pisang, tak lupa bunga dan seperti dupa yang harum nya enak dan terasa tak begitu asing. Aku mengikuti mereka menaruhnya dibawah pohon dan dibawah batu dekat sumber. Lalu mereka memejamkan mata sambil mungkin sedang berdoa. Aku dan Batara hanya diam menyaksikan nya, aku juga tak mengamati ada pohon beringin yang rindang di sini. Saat kembali aku bertanya kepada mereka, apa yang sedang mereka lakukan.


Lalu kata nya mereka sedang sembahyang agar lingkungan nya selalu aman dari marabahaya, agar tetap tenang dan mendapat banyak rejeki. Saat aku bertanya siapa yang maha memiliki mereka menjawab kepercayaan dan budaya setempat yang harus tetap dijaga dan ini adalah persembahan sebagai bentuk saling berbagi dan pengharapan. Kalau di masa depan memang masih ada hal-hal budaya yang tetap lestari, seperti bersih desa dan yang lainnya. Apakah memang seperti ini pemikiran orang jaman dulu sebelum percaya pada suatu agama.


"Menyembah apa bu Minah? dan kenapa? " Tanya ku sekali lagi.


"Sembahyang itu untuk kami tetap terkoneksi pada apa yang kami percaya, pada roh leluhur dan kekuatan ghaib. " Jawab nya sambil tersenyum.

__ADS_1


Dadaku langsung bergebup seperti kaget, apakah jaman dulu menyembah roh dan sangat percaya pada hal mistis, tapi memang di film akan kebanyakan seperti itu. Aku hanya mengangguk dan mengiyakan bu Minah. Aku mengajak Batara untuk kembali ke rumah lama sembari mengunggu pak Broto dan Batara mengangguk, lalu kami pamit kerumah lama dan bu Minah memberi kami kudapan kecil untuk ngemil.


Djaya tak ikut karna dia harus membantu ibunya, dan Laksmi juga harus mengerjakan pekerjaan rumah yang lain. Hanya ada aku dan Batara, kami berencana membawa beberapa macam buah yang tersedia di rumah lama untuk dibawa pulang. Lalu aku juga melihat bunga anggrek pensil yang susah sekali aku temukan dimasa depan dan bunga itu ada didepan rumah Sri. Aku tak boleh menyia-nyiakan kesempatan ini.


"Batara... aku ke sana sebentar yaa, aku ingin meminta izin pada yang punya rumah. " Ucapku.


"Ada apa gerangan yang ingin kamu bawa? " tanya Batara sambil mencabut batang singkong.


"Bunga." Jawab ku, lalu cepat pergi ke sebelah rumah.


aku berjalan ke rumah sebelah terlihat rumah tersebut sama dengan penglihatanku. Aku ketuk pintu rumah itu beberapa kali, sampai ada yang membukanya. Ternyata ada seorang lelaki masih muda mungkin sekitar 18 tahunan, berkumis tipis dan tinggi, tampan dan nampak jutek.


"Halo ... " Sapa ku dengan kikuk.


"Iya? " Jawabnya datar.


"Apakah saya boleh meminta bunga anggek pensil itu? " Minta ku, yang harusnya aku memperkenalkan diri dulu, basa basi dulu. Ini mengapa aku tercengang dengan ketampanan nya.


"Hmm... maaf, boleh kah anda membantu saya agar bunga nya tidak mati saat sampai dirumah saya. " Ucapku dengan kikuk dan penggunaan kata saya sangat formal, padahak dengan keluarga pak Yadi terbilang langsung akrab.


"Baik." Jawabnya singkat lagi.


Lalu dia menyiapkan sesuatu agar anggrek itu bisa dibawa.


"Kalau boleh berkenalan, siapakah nama anda? " Tanyaku.


"Adi." Jawabnya.


"Halo Adi, saya Amini. " Ucapku berkenalan.


"Kamu jauh lebih muda dariku, masih anak-anak bisanya kamu memanggil hanya Adi! " seru nya dengan nada ketus.


"Maaf, bukankah kamu masih muda? " tanya ku lagi.

__ADS_1


"Aku sudah umur 22 tahun, masih muda tapi cukup umur untuk seusiamu. " Jawabnya ketus.


Aku sungguh tak menyangka dia sudah dewasa, tetapi menurutku seakan dia masih remaja yang baru berinjak dewasa. Dia tampan dan baby face.


"Maaf kan aku mas, aku tidak tahu. " Ucap ku.


"Sudahlah, tak mengapa. Rumah mu dimana? " Tanya nya.


"Rumahku ada di daerah Cempaka tepatnya di jalann... " tak sempat aku memberi tahu dia sudah memotong jawabanku.


"Oh... kamu ada di tempat orang berada. " Celetuknya.


"Tidak, " jawabku bingung harus menjawab apa.


"Ini kembangnya, rawat baik-baik. " Ucapnya sambil memberikan bunga.


"Emm... makasih mas, emm tapi mas tinggal sama siapa? " tanyaku yang mungkin sedikit aneh.


"Aku tinggal dengan ibuku, kenapa? " Tanya nya.


"Mas, sudah lama tinggal disini? " Tanyaku.


"Tidak, mungkin sekitar 8 tahunan, ini rumah bibi ku. " Jawabnya.


"Emm.. rumah bapakku ada disamping ini mas, namanya pak Broto. " Ucap ku.


"Pak Broto? berarti kamu termasuk saudara kami. " Jawabnya.


"Saudara? " tanyaku bingung.


"Ayo masuk. " ucapnya menyuruhku masuk.


Di bawanya aku masuk dan dikenalkan kepada ibunya, ibunya sedang tak enak badan jadi hanya berbaring dan kulihat santapan nya adalah pisang di kukus. Lalu aku bertanya mengapa bisa aku menjadi saudara mereka.....

__ADS_1


__ADS_2