Rumah 7 Turunan

Rumah 7 Turunan
119. Roy [4]


__ADS_3

Kami tertawa entah apa yang aku tertawakan hanya sebuah kebodohan karna baru tau dengan perasaanku sebenarnya dan baru menyadari kebodohan ini, lantas apa sekarang yang bisa aku lakukan apakah aku harus mengungkapkan perasaan terdalamku karna selama ini hanya tertutupi hubungan baik seperti sahabat ternyata perasaan yang dalam ini lebih dari itu, padahal dia tau setiap ceritaku dari mantan satu ke mantan yang lain, dia menganggapku buaya darat karna banyaknya pacarku dan gampang putus gampang cari baru, ternyata kenapa aku baru menyadari sekarang saat pelukan yang hangat dan hiburan malam ini membuatku goyah dan ingin mengungkapkan mumpung Aca belum seratus persen menyukai Toby, apakah aku harus menikungnya, selama janur kuning belum melengkung.


Setelah itu Aca mengantarku pulang dan ternyata mama sudah menunggu di depan rumah karna aku meninggalkan HPku dikamar, dan mama ternyata sok khawatir, saat melihat Aca juga keluar dari mobil nampak sekali muka lega, karna takut aku kabur dari rumah mama jadi khawatir sedangkan papa sudah tidur karna gak enak badan, aku menyuruh Aca langsung pulang setelah menyapa mama dan akhirnya dia pulang, lalu mama tersenyum lebar dan merasa menang karna insting mama benar dan mama memang benar, selama ini aku yang buta.


“Nak, mau mama bantu kamu mendapatkan Aca, sahabat seperti saudara yang seperti kamu katakan?” ujar mama merasa menang.


“Udah malam ma, aku mau tidur,” jawabku dingin.


“Baiklah, tidur yang nyenyak.” jawab mama seakan merencanakan sesuatu.


Keesokan paginya aku bangun lebih pagi karna sebenarnya aku tak bisa tidur, aku seperti tidur tapi aku juga seperti tidak tidur, sampai lupa aku beneran tidur atau gak tidur. Setelah mandi langsung turun kebawah rupanya mama sudah membuat sarapan, ini sangat tumben menurutku dan aku tak biasa dengan mama yang ada di rumah apalagi ada di dapur.


“Morning sayang,” ujar mama menyapaku.


“Iya,” jawabku singkat.


“Gimana tidurmu nak, nyenyak ?” tanya mama seakan tau aku tak bisa tidur.


“Iyaa..” jawabku singkat.


“Hari ini mama anterin papa ke dokter ya, karna papa sepertinya harus periksa, vertigo nya kambuh.” terangnya.


“Iya, hati-hati.” jawabku sambil meminum jus yang disiapkan mama.

__ADS_1


“Hari ini mama juga antar keponakan kesayanganmu pulang,” ujar mama.


“Iyakah? Kupikir dia dijemput.” jawabku.


“Biar sekalian jalan, kamu kok udah rapi aja nak, padahal ini masih pagi.” ujar mama.


“Aku ada ketemu client pagi ini, jadi mau langsung aja.” jawabku.


“Yaudah, habis ini selesai kok masakan mama,” jawabnya.


Aku menunggu mama memasak sambil memilah pekerjaanku dan mengecek kesiapan anak-anak lain, tapi dalam otakku masih tidak terima kalau aku menyukai Aca, padahal aku sudah bilang Toby kalau aku gak ada sama sekali perasaan ternyata aku yang buta dan orang lain yang bisa melihat diriku, aku melihat diriku sendiri dengan sangat payah dan bikin geram, pantas saja orang lain sangat geram kepadaku, aku selalu tertarik dengan wanita lain padahal di dekatku ada orang yang sangat luar biasa.


Setelah sarapan aku langsung berangkat jemput Ana karna aku janjian dengan dia, dan aku sepanjang perjalanan apakah aku harus bilang pada Ana kalau aku suka sama Aca, karna Ana juga temanku yang sudah lama, mungkin dia mengerti dan aku mendapatkan solusi dari masalah ini. Entah mengapa aku sangat kepikiran, antara takut menyesal dan sudah menyesal sekarang karna telat menyadari.


“Iyaaaa……” jawabku yang sudah lemas karna belum apa-apa Ana sudah begini.


Akhirnya kami langsung menemui client dan berdiskusi tentang pekerjaan sangat lama sampai akhirnya bisa deal, sedangkan di kantor hanya ada anak intern dan teman-teman yang lain pada sibuk diluar, aku cukup khawatir dengan anak intern apakah bisa dipercaya, tapi aku percaya saja karna memang mereka tampak bisa dipercaya. Sudah jam 2 siang akhirnya aku dan Ana kembali ke kantor sedangkan anak-anak yang lain belum datang, di grup mereka bilang nya akan langsung pulang karna sudah cukup melelahkan kalau harus ke kantor dulu, sedangkan mereka kemana-mana dan masih bekerja diluar. 


Ternyata ada intern dan pegawai baru yang bekerja dengan Aca, sedangkan Aca belum datang, mereka dari tadi pagi ternyata sudah dihubungi Aca kalau tugas mereka dan pengenalan mereka secara resmi harus diundur, jadi hari ini mereka hanya diminta untuk konsep ide, pinter juga Aca nyuruh ide ke mereka sedangkan dia ngurus yang lain. Mereka langsung mengenaliku katanya akulah bosnya gara-gara anak intern yang lain sudah menceritakannya tentang seluk beluk perusahaan ini, aku hanya berharap mereka bisa mudah adaptasi dan mengikuti sistem pekerjaan disini, terutama bisa betah dan nyaman dengan yang lainnya. Aku langsung pamit dan keruanganku disitu aku menyuruh Ana untuk masuk dan membawa kopi karna ada yang mau aku bicarakan, tatapan Ana udah aneh dan seakan langsung melihatku yang salah.


“Kenapa Roy?” tanya Ana dengan membawa kopi.


“Ada sesuatu yang mau aku ceritakan dan aku butuh pendapatmu dan solusimu,” jawabku yang tak berani menatap matanya karna dia menatap dengan seksama seakan menelanjangiku.

__ADS_1


“Ada masalah apa? Kau salah apa?” tanyanya yang sudah penasaran.


“Ini tentang perasaanku,” jawabku sambil minum kopi yang hangat.


“Keluargamu? Belum diobrolin? Kok kemarin seakan mamamu itu butuh sesuatu yang buat kamu kalah dalam pertarungan keluarga ini, jadi aku ngomong kalau aku gak butuh menjalin hubungan itu aku bantuin kau Roy, tapi memang itu faktanya. Masa mereka masih suruh kamu buat nikah sih?” tanyanya dengan semangat.


“Iya thanks udah bantuin masalah itu, mamaku udah minta maaf dia gak pernah ada waktu buat anaknya, tadi pagi aja udah bikin sarapan dan nemenin papaku cek up ke dokter, dia sudah mulai mencoba menjadi ibu yang baik dan benar.” jawabku.


“Bagus Deh kalau gitu, karna aku kemarin ngecek kerumahmu karna takut ada yang ngikut makhluk halusnya, ternyata aman aja kok,” jawab Ana dengan lega.


“Astaga, ternyata niatnya gitu, aku pikir Ana sahabatku benar-benar peduli dengan masalah keluargaku.” jawabku kecewa.


“Yaitu termasuk peduli tau, kan itu juga perlindungan dariku, gimana sih!” jawabnya gak terima.


“Iya, tapi ada hal lain na,” ujarku yang penuh keraguan haruskah aku mengatakannya atau tidak.


“Apa lagi?” tanyanya.


“Tapi jangan kaget ya, cukup beri aku saran terbaikmu.” jawabku meyakinkan diri.


“Ya apa?” tanyanya.


Aku menarik napas dalam-dalam dan menyeduh kopiku lagi berulang kali sampai aku benar-benar yakin karna aku butuh saran dari orang lain dan aku gak bisa mengandalkan egoku sendiri karna ini termasuk bagian dari mempertahankan hubungan pertemanan yang sudah lama. Aku menceritakan semuanya ke Ana segalanya kejadian kemarin dan pelukan yang menyadarkanku kalau kemanapun aku berlabuh, Aca lah tempat ternyaman yang kusebut rumah.

__ADS_1


__ADS_2