
Kami tak bisa berkata apa-apa lagi, hanya terdiam membisu mencoba sekali lagi mencerna apa yang terjadi, mengapa Asmirah butuh tumbal dan mengapa bu Hartanti seperti itu, dan mengapa juga bu Hartanti meninggal, kalau memang sakit itu wajar, tetapi aku sebelumnya tak pernah berpikiran sekotor ini. Tetapi bisa jadi itu semua benar dan bisa juga salah.
Aku izin pamit kepada kakek, karna kami juga harus menyusul teman-teman ke rumah Dipta, dari sharelocknya sih tidak terlalu jauh untuk jalan kaki, karna tanya kakek katanya bisa ditempuh dijalan menerabas, sedangkan temen-temen yang lain lewat jalan besar pakai mobil. Kami pun pamit dan mengingat arah jalan yang disampaikan kakek.
Sepanjang jalan aku dan Ana hanya diam mungkin yang ada dalam kepala kami sama, tapi sudah cukup lelah untuk berdiskusi.
"Ca, kamu jangan sampai bisa terbawa lagi, kamu harus bisa kendaliin dirimu sendiri, " ujar Ana menatap tajam.
"Iya na, aku juga gatau kenapa bisa begitu, " jawabku.
"Kamu yang harus bisa kendaliin tubuhmu sendiri, jangan ada prasangka ketidakpercayaan diri sedikitpun, " ucap Ana meyakinkan.
"Iya, " jawabku singkat.
"Paham gak sih? " tanya Ana marah.
"Iya paham, gausa marah, " jawabku.
"Masalahnya ini uda parah, gimana bisa aku gak emosi. " Jawab Ana yang meledak.
"Aku tau, aku juga emosi tapi bukan saatnya kita kek gini, " jawabku berusaha menenangkan.
"Kalau sampe tuh anak-anaknya tau tentang hal ini, sakit jiwa emang keluarga itu. Sok baik di depan dibelakang pengen bunuh untuk kesejahteraan mereka, " ujar Ana yang semakin memanas.
"Sabar aja dulu, diam aja sudah kita nih nanti yaa, jangan bikin anak-anak heboh dulu, kita tanya secara pribadi ke Laras dan Sekar dulu. " Jawabku berusaha mencari jalan yang baik.
"Arghhh... " teriak Ana.
Aku membiarkan Ana menuangkan rasa kesalnya, aku juga kesal tapi jika aku juga mengekspresikan rasa marah bisa jadi semakin tak terkendali nantinya. Kami berjalan sekitar 30 menit dan akhirnya sampai juga di gang rumahnya Dipta, tapi selama perjalanan tak ada yang mengeluh capek, mungkin karna melewati pemandangan hijau yang menyegarkan.
Toby telepon.
"Halo, udah dimana ca? aku jemput aja ya? " tanya nya.
"gausa, udah di gang rumahnya, terus ini sebelah mana? " tanyaku.
__ADS_1
"Lurus aja, nanti ada perempatan belok kiri, nah itu rumah kedua itu rumahnya Dipta. " Jawab Toby.
"Yauda, kumatiin. " Jawabku.
"Iya sayang, " jawabnya.
"Dih paansih! " lalu kumatikan teleponnya.
"Si Toby tuh kok bisa sayang banget ke kamu ca? " tanya Ana.
"Mana ku tau, emang sayang banget? " tanyaku balik.
"Iyalah, orang dia tetep sabar ngadepin cewenya yang jutek abis, " jawab Ana sambil tertawa.
"Hmm.. gatau ya, gak kepikiran, " jawabku.
"Tuhkan, Toby berasa jatuh cinta sendirian, kalau aku jadi Toby yaudah kutinggal aja pacar modelan gini, males banget harus sakit hati tiap hari. " Jawab Ana.
"Ih.. kamu jangan gitu, ya nanti aku pikirkan, " jawabku kesal.
Kami melewati ruang tengah yang banyak sekali pigura foto yang besar, dan ruang makan yang luas dan ada kolam ikan di dalam rumah tetapi kolam tersebut belum berfungsi. Aku juga permisi ke kamar mandi dan kulihat kamar mandi yang luas dan cukup lembab mungkin karna lama sudah tak ditempati.
Kami berdua makan dengan lahap karna jalan tadi cukup membuat lapar padahal sudah sarapan. Terlebih karna emosi dan pikiran kami yang cukup menguras energi. Rumah ini cukup banyak jendela besar dan banyak cahaya masuk kedalam rumah, jadinya terasa hangat meski diluar banyak sekali pepohonan rindang, mungkin saat malam rumah ini akan berasa dingin.
Setelah makan, kami keruang tamu dan ikut nimbung apa yang mereka obrolkan. Ternyata Kris dan Dipta sudah berencana untuk menikah, dan aku kaget ternyata secepat itu keseriusan Dipta. Aku pun langsung melihat Roy yang entah mungkin sangat sedih dengan pemandangan ini.
"Kok bisa sih Kris, tiba-tiba mau nikah aja, padahal jomblo dari lahir tapi bisa dapet jodoh langsung gitu? " tanya Ambar.
"Yaa.. mungkin ini sudah ketentuan yang diatas kali yaaa... " jawab Kris sambil tersenyum malu.
"Selamat yaa, semoga bahagia. " Ucap Toby yang membuat suasana menjadi canggung.
"Hmm... tante katanya mau ngecat yang diluar, mari kami bantu. " Ujar Toby mencoba mencairkan suasana.
"Jangan nak, biar nanti tukang saja, kalian tidak perlu repot-repot. Hari ini memang tukang lagi libur, kalian kan tamu jadi santai aja dirumah ini yaa, tante senang rumahnya jadi rame. " Jawab ibunya Dipta.
__ADS_1
"Yaaa... tante nih gak percaya yaa dengan hasil cat kami? " tanya Toby lagi.
"Bukan gitu nak, tante pengen kalian santai-santai aja disini kaya liburan. " Jawab tante lagi.
"Iya mas, santai aja, gimana kalau kita belanja untuk santapan makan malam, bakar jagung atau daging gitu, " ujar Dipta.
"Iya nak, mending kalian keluar aja belanja. " Ucap tante.
"Yauda, biar cewe-cewe yang belanja. " Jawab Roy.
"Males ah, aku lagi males nyupir. " Jawabku.
"Yaaa... cewenya yang bisa nyupir kan cuma Aca, " terang Ambar.
"Biar aku aja yang nyupir, " jawab Dipta.
"Oke kalau gitu aku juga ikut, " jawab Roy.
"Yauda, yang keluar Roy, Dipta, Ambar, Kris, Toby. " Ucapku, karna aku dan Ana ingin bertiga saja dengan ibunya Dipta.
"Kenapa gitu? " tanya Toby.
"Yaa kami habis jalan jauh, ingin bersantai saja. " Jawab Ana.
"Oke deh, kalau gitu kalian berdua siapin ala-ala liburan dimana gitu ya dibelakang rumah kek kain buat kita duduki sama bunga-bunga. " Ujar Kris.
"Emang ada tante? " tanyaku.
"Ada kok, kamera juga ada. " Jawab ibunya Dipta.
Akhirnya mereka semua pergi berbelanja, sedangkan aku dan Ana membantu tante itu mencari kebutuhan memasak diluar. Piring-piring yang tante keluarkan sangat cantik dan terkesan vintage dan ternyata memang piring dan cangkir kuno.
Dulu tante juga sering tea party di belakang rumah dengan teman-temannya, tante mulai menceritakan kenangan dirumah ini tanpa kami minta, memang ibunya Dipta ini seperti mesara kesepian dan kerinduan yang tak bisa tertuang dengan leluasa.
Kami mengelap piring dan cangkir yang cantik, lalu tante menemukan album masa dia masih kecil dan ditunjukkan kepada kami, aku pun bersin-bersin karna berdebu sekali, lalu Ana membersihkan dulu-debu yang sangat tebal itu baru dah kami melihat berdua mengamati satu persatu secara detail album foto tersebut.
__ADS_1
Dan kami mendapati sesuatu yang nampak tidak asing ...