
Kami mendengarkan cerita kakek dengan seksama dan tiba-tiba bulu kudukku merinding, entah bagaimana seakan-akan pandanganku kabur dan sangat pusing, kepala di kaki dan kaki di kepala, rasanya terbolak-balik, mual dan nyeri, lalu tiba-tiba ada bau busuk yang menyengat. Sangat menyengat rasanya ingin muntah.
Pandanganku yang kabur tiba-tiba melihat bayangan yang tak jelas berlahan mendekat, saat mendekat rasanya leherku seperti dicekik, saangat berat dan sakit membuat napasku terengah-engah. Lalu aku berusaha memfokuskan pandanganku ternyata yang ada di depanku adalah Asmirah dengan pandangan sangat marah dan wujud yang menyeramkan. Kukunya yang panjang seakan menusuk leherku, dia mencekikku dengan kekuatannya. Aku melihat matanya mengeluarkan air mata darah, semakin lama semakin sakit sampai aku susah bernapas.
Lalu entah ada sosok lain yang membantuku dan mengusirnya. Dalam pandanganku sekarang rumah ini kosong, entah kemana kakek dan Ana, rumah ini benar-benar kosong, aku melihat mbah Mun ternyata yang menyelamatkanku. Lalu seperti ada yang berbisik lirih mengatakan "Kau pantas mati".
Aku tau itu suara Asmirah, lalu aku berusaha berdiri dan menemui mbah Mun.
" Mbah, saya dimana? apa yang barusan terjadi? " tanyaku sambil kesakitan.
"Lihat belakangmu, kamu masih dirumah ini, " jawab mbah Mun.
Lalu aku melihat kebelakang, ternyata aku ada disana, tetap duduk mendengarkan cerita kakek meski diam dan melamun. Sedangkan bagaimana tubuhku disini.
"Bagaimana bisa ini terjadi? " tanyaku ketakutan.
"Bisa saja, kamu terlalu lemah hingga jiwamu bisa dimasuki, jika aku tak datang maka bisa saja kamu mati tiba-tiba, " jawab mbah Mun dengan marah.
"Lantas, saya harus bagaimana mbah? " tanyaku.
"Kenapa kamu sangat mengurus keluarga jahanam itu? " tanya mbah Mun.
"Karna saya sering sekali melihat dan merasakan mereka mbah, " jawabku.
"Sadarlah! kamu hanya dimanipulasi oleh keluarga jahanam. Kamu pikir ada yang baik dalam keluarga itu? " ujar mbah Mun dengan tatapan yang menyeramkan.
"Mak.. maksud mbah apa? manipulasi bagaimana? " tanyaku bingung.
"Aku berusaha melindungi kampungku dengan baik, bisanya Broto membawa wanita laknat ini merusak kampungku, sampai saat ini beraninya dia datang kemari hanya untuk menakutimu. Tak sadarkah? mereka mendapatkan kekuatan dari merusak manusia hidup? " jawab mbah Mun.
"Mbah, saya tidak mengerti, " jawabku.
"Dia merusak mental dan psikologismu, agar bisa gila seperti dia semasa dia hidup. Dia bisa membuatmu antara ada didunia nyata dan dunia ilusi. Kamu memang bodoh! " ucap mbah sambil melotot.
"Jadi selama ini Asmirah memanfaatkan saya? " tanyaku.
"Benar, dia memanfaatkan energimu yang kacau itu, menyerapnya dan menjadi santapannya. " Jawab mbah Mun.
"Tetapi mengapa saya mbah? " tanyaku lagi.
"Karna kamu yang paling dominan diantara yang lain, kamu bisa mempengaruhi yang lain agar mendengarmu. Kamu membuat orang lain tak nyaman dan menjadikan mereka takut. " Jawabnya.
"Jahat, kenapa harus melakukan ini? " tanyaku marah.
__ADS_1
"Dan kamu ternyata tak bisa dibunuh berlahan, kamu terlalu kuat untuk dibuat gila, lalu dia kesal dan sangat marah, karna tak diduga kamu sangat ikut campur dengan keluarganya dan membuat pondasi yang dia bangun hancur. " jawab mbah Mun sedikit tersenyum.
"Jadi saya ini salah atau benar? " tanyaku.
"Kamu benar nak, teruskan apa kata hatimu, sudah lama aku ingin menghancurkan para biadab itu. Tapi aku tak bisa kemana-mana dan mungkin ini memang takdir. Kamu yang menjadi mangsanya ternyata sebaliknya, kamu yang memangsanya. " Jawab mbah Mun dengan senyum semringah.
"Mangsa? " jawabku kebingungan karna terasa ambigu.
"Jangan pernah membeli sesuatu yang murah, jika sesuatu tersebut keluar dari harga pasar. " jawab mbah Mun lalu berjalan menghilang.
Dan seketika aku kembali kedalam tubuhku dengan kaget dan membuat dua orang didepanku juga kaget.
"Kamu kenapa ca? " tanya Ana.
"Aku habis ketemu mbah mun? " jawabku.
"Hah? ketemu gimana orang kita lagi disini? " tanya Ana bingung.
"Beliau menemuimu nak? " tanya kakek.
"Iya kek, barusan disini. " Jawabku sambil melihat kakek dan Ana bergantian.
"Apa katanya nak? karna susah untuk bisa bertemu beliau? " tanya kakek.
"Asmirah datang kemari, mencekikku dan menyuruhku mati, lalu mbah Mun datang menyelamatkanku, dan memberi wejangan. " Jawabku sambil mengusap leherku.
"Nak, bahaya sekali kamu, kalau mereka sampai bisa masuk kejiwamu itu benar-benar bahaya. Kamu harus menutup akses itu, " ujar kakek.
"Bagaimana caranya mbah? " tanyaku.
"Apakah kamu punya keturunan seperti ini nak? " tanya kakek.
"Sepertinya tidak mbah, " jawabku.
"Mustahil jika tak memiliki keturunan tapi kamu bisa masuk alam astral. " Ucap kakek.
"Tapi memang benar kek, " jawabku.
"Mungkin kamu yang tidak tau nak, kamu bisa saja meninggal barusan karna kamu tak tau cara menutup dan membuka alam bawah sadarmu. " Jawab kakek yang penuh khawatir.
"Benar kek, sama yang dikatakan mbah Mun, tapi aku sendiri juga tak mengerti tentang diriku. " Jawabku sedih.
"Kek, kami harus gimana ? " tanya Ana.
__ADS_1
"Kalian tenang dulu, pasti ada maksud dalam segala hal ini. Kita harus kembali ke awal yaitu tujuan awal hingga jadi seperti ini. " Jawab kakek sambil mengelus bulu didagunya.
"Kata mbah Mun, jangan membeli sesuatu yang harganya murah dan keluar dari harga pasar. " Jawabku.
"Jangan membeli sesutu yang harganya tidak masuk akal. Rumah itu apakah kalian sewa dengan harga murah? " tanya kakek.
"Benar kek, harganya bisa dibilang murah. Kata ibunya karna sayang sekali jika rumah besar tak berpenghuni jadi biar terasa terawat saja. " Jawab Ana.
"Hmmm... kalian memang kena jebakan dari awal, " ujar kakek dengan sejuta tanda seru.
"Temui pemilik rumah, ibu itu dan minta dia mengakhiri semuanya. " Jawab kakek.
"Maksud kakek, kami dijebak untuk apa tujuannya? " tanya Ana.
"Tumbal! " jawab kakek singkat padat dan sangat jelas.
"Hah? " ucap kami berdua kaget.
"Iya, pasti karna itu. " Jawab kakek.
"Oh, tadi mbah Mun bilang kalau aku adalah mangsa tapi gagal karna aku meski lemah bisa dimanipulasi tapi aku cukup kuat untuk tidak ikut gila. " Ujarku.
"Hah? " ucap Ana sambil menghela napas.
"Lalu apa lagi kata beliau nak? " tanya kakek.
"Ikuti apa kata hati dan hancurkan kembali, " jawabku.
"Jika memang itu katanya, maka kamu harus melanjutkan apa yang sudah menjadi takdirmu. Sesulit jalan apapun yang nantinya dilihat, air akan tetap mengalir dan pasti ada saja yang akan menuntunmu. " Ujar kakek.
"Anjing! jadi selama ini bu Hartanti membuat kita menjadi tawanan dan tumbal. " Ucap Ana marah.
"Temui saja ibu itu nak, " jawab kakek.
"Ibu itu sudah meninggak kek, " jawabku.
"Astaga, karna dia tak bisa membuat mangsanya tiada, dia membuat keluarganya sendiri menjadi tumbal? sungguh kejam sekali. " Ujar kakek.
"Tapi bu Hartanti sakit kek, " jawabku.
"Sakit? lalu tiba-tiba meninggal? kamu yakin berpikir positif tanpa ada sesuatu yang mengganjal? " tanya kakek.
"Memang ada beberapa peraturan dirumah itu yang kami langgar. " Imbuh Ana.
__ADS_1
Kami semua terdiam dan meresapi apa saja fakta yang baru saja kami dapatkan, antara percaya dan tidak percaya. Sosok lemah lembut bu Hartanti yang baik ternyata tak sebaik itu. Kami hanya sial karna masuk dalam perangkapnya, dan apakah anaknya tau apa yang dia lakukan?
Aku tak sabar mengkonfirmasi hal ini pada anaknya itu....