
Kami mengantar bapak sampai depan rumah lama alias rumah nenek, Djaya mengantar kami dan ikut mengambil buah rambutan dihalaman depan rumah nenek. Djaya lebih tua dariku satu tahun, anak satu-satunya pak Yadi dan bu Minah. Dia pandai memanjat pohon, dengan perawakan berisi dan rambut keriting dan kulit yang eksotis, dia cukup manis, apakah ini adalah suami Amini dimasa depan? Apakah Amini menyukai nya? atau bagaimana sikap Amini jika jalan cerita ini dia alami. Apakah dia pernah ke mari, jelas pernah tapi entah kapan. Bersyukur sekali Asmirah pergi keluar kota, andaikan dia ada dirumah ngga mungkin kami bisa berlibur kemari.
Tapi seingat ku, eyang dari eyang eyang nya Roy adalah mantan yang paling di sukai Amini, kalau tidak salah namanya Agus Salim atau Salim. Tapi Amini masih awal belasan tahun, Santi pun juga akan lahir. Tetapi tak mungkin aku ikut menjalani proses Amini sampai dewasa agar terkuak semuanya masa lalu keluarga ini. Lantas Djaya ini apakah suaminya kelak, karna pak Broto dan pak Yadi pun merencanakan perjodohan, dan mengapa Santi adalah anak terakhir paling tidak bisa menerima peraturan keluarga Broto Seno, ini semakin membuatku kebingungan.
Kami menyantap buah rambutan yang fresh dari pohon, sangat enak dan manis, apalagi melihat Batara yang bahagia bahkan sampai menginginkan tinggal disini. Tapi meskipun rumah ini tempat pembunuhan, entah mengapa aku tak merasa takut dan hawa rumah ini menenangkan, harusnya kan hawa nya buruk dan tak membuat nyaman, tetapi ini malah sebaliknya.
Batara meminta Djaya untuk menunjuk kan sumber di sekitar rumah, lalu Djaya mengiyakan dan membawa kami berjalan-jalan, lalu aku melihat rumah Sri yang masih bagus dan terawat entah siapa yang tinggal disana, melihat lingkungan disini memang rumah-rumah yang teduh dan saling bergotong royong. Sampai lah kami di sumber yang katanya bapak sangat dingin dan menyegarkan, Djaya meminta kami untuk meminum airnya dan kendi yang dibawa dari rumah tadi diisi lagi oleh air sumber ini. Aku sangat menyukai tempat ini, sambil mengingat kira-kira dimasa depan ini sudah menjadi kawasan apa.
Tak terasa hari sudah hampir gelap, Djaya membawa kami pulang kerumahnya, tapi sebelum itu kami mampir kerumah teman nya Djaya namanya Laksmi, lebih tua dari Djaya tetapi dia sudah di nikahkan oleh orangtuanya. Djaya menemuinya untuk mengenalkan aku dan Batara agar Laksmi tidak merasa kesepian.
"Laksmi, kenapa kamu menikah muda? " Tanya ku, yang aku lupa bahwa dulu memang mayoritas orang Indonesia menikah sangat muda.
"Tidak kok, memang sudah umum nya menikah umur 15 tahun, bahkan ibuku saja menikah di usia 13 tahun. " Jawab nya dengan suara yang serak-serak basah.
"Maaf yaa.. aku tidak tahu, " ucap ku meminta maaf.
"Tidak mengapa, di keluargamu mungkin pendidikan yang utama. Di keluargaku pendidikan tidak penting bagi wanita, aku ingin sekali belajar membaca dan menulis. " Jawabnya sedih.
__ADS_1
"Aku bisa mengajarimu, " ucap Batara bersemangat.
"Terimakasih Batara, aku tak akan kesepian selama kalian tinggal disini. " Jawab nya senang.
"Kamu tinggal sendirian? dimana suami mu? " Tanyaku.
"Suamiku sedang bekerja, seminggu sekali beliau pulang, dan orangtua ku jauh, aku mengikuti suamiku disini. " Jawabnya seakan dia bukan bocah 15 tahun.
Batara sedang mengajari Laksmi sedangkan aku sedang mengamati kunang-kunang yang mulai datang saat malam, karna dimasa depan kunang-kunang adalah hewan yang langka, tanpa sadar aku melamun dan entah kemana saja aku dibawa lamunanku. Sampai akhirnya bu Minah datang membawakan makan malam, rumah Laksmi dan bu Minah sangat dekat, rumah Laksmi dibelakang rumah bu Minah, dan bu Minah sudah menganggap Laksmi sebagai anaknya, dan mendiang orangtua suami Laksmi menitipkan nya pada bu Minah.
Saat ingin ke kemar mandi aku mencari senter, karna kamar mandi nya ada dibelakang dan cukup sedikit jauh sekitar beberapa meter ditengah hutan-hutan ini, tidak enak jika aku diantar Djaya, jadi aku memutuskan sendirian saja dan Djaya menunggu di belakang rumah membawa obor sebagai penanda arah kembali kerumah.
Aku berjalan menuju kamar mandi dengan senter yang kekuatan penerangan nya kecil, entah mengapa aku berjalan 20 langkah saja sudah takut dan melihat kebelakang ada Djaya ya menunggu dengan kain sarung dan terkantuk-kantuk. Sampai aku di kamar mandi ini seperti kamar mandi umum, aku buang air kecil dan untung saja ada cemprong atau ublik sebagai penerangan. Saat selesai aku kaget bukan main, ada wanita membawa ublik itu dan hanya wajah saja yang nampak, bibirnya warna hitam dengan senyum menyeramkamkan, aku teriak aku teriak dengan keras, sayangnya tak ada suara yang keluar dari teriakan ku.
Senterku jatuh dan mati hanya ada aku dan wanita itu disini, aku takut aku sangat ketakutan siapa wanita itu. Badanku pun kaku tak bisa bergerak, mataku tak bisa tertutup seakan aku dipaksa diam dan melihat wanita itu. Aku tak bisa melakukan apapun aku ketakutan dan gemetaran berharap ada yang menolongku. Entah apa maksud wanita itu tetapi benar-benar sangat lama aku dipaksa diam dan mata tak bisa tertutup dipaksa melihatnya. Lama-lama aku berusaha tenang dan rileks, aku berusaha mengambil napas secara teratur dan menenagkan diri yang tak bisa tenang.
Akhirnya napasku normal dan aku bisa bergerak dan berkedip, tetapi aku tak bisa melangkah ataupun mengambil senter yang jatuh. Wanita itu tetap berdiri dengan ublik ditangan nya. Aku berusaha tenang tapi getaran tubuh ketakutanku ini tak bisa dibohongi.
__ADS_1
"Kamu siapa? " Tanya ku dengan suara lirih yang akhirnya suara ku bisa muncul.
Dia hanya diam dan sesekali tersenyum dengan ngeri, lalu dia tiba-tiba mendekat padaku berlahan lalu seketika muncul tepat di mukaku, aku teriak sambil memejamkan mata, lalu Djaya datang dengan obornya membuka pintu.
"Kenapa lama sekali? " Ucapnya bingung.
Aku hanya diam dan lemas dan lega sekali, aku memeluk Djaya dalam ketakutanku. Kaki ku sangat lemas lalu aku terjatuh. Djaya lalu mengendongku dan kembali kerumah Laksmi. Djaya memintaku diam dan tidur saja tanpa menjelaskan apapun, disuruhnya aku bercerita besok saja saat matahari sudah muncul. Tapi aku hanya menangis ketakutan, Djaya membawakanku minum dan menyuruhku kembali ke kamar Laksmi.
Tapi saat aku tidur berbaring disamping Laksmi dan berusaha menutup mata, aku merasakan Laksmi bangun dan menatapku. Entah itu perasaan ku saja atau memang benar-benar terjadi, tapi aku merasakan dari kasur kayu ini kalau Laksmi berbalik menghadapku dan menatap ku. Aku berusaha tenang tanpa membuka mata. Lalu aku merasakan Laksmi beranjak dari kasur dan pergi dari kamar. Saat itu, saat itu aku berusaha membuka mata, tetapi ada suara berbisik...
"Jangan... jangan buka matamu... " Sangat lirih dan pelan berbisik ditelingaku.
Aku yang kaget tapi berusaha menuruti bisikan itu, karna aku merasakan jika aku membuka mata, maka aku akan tidak baik-baik saja. Tapi dibelakang punggung ku aku merasakan ada yang tidur dibelakangku, ada napas di leher belakangku, aku merasakan napas yang berat, sampai bergidik bulu ku. Karna lelah dengan posisi menyamping ini, kaki dan badanku pegal serasa ingin ganti posisi, tapi sekali lagi ada bisikan yang melarangku untuk mengetahui sesuatu.
"Tidurlah... " Ucapnya seakan jauh dariku tapi aku bisa mendengarkanya.
Lalu.....
__ADS_1