Rumah 7 Turunan

Rumah 7 Turunan
54. Hening


__ADS_3

Seminggu telah berlalu sejak terakhir kami ke rumah pak Widyo, seminggu pula hening tak ada kabar lagi, tak ada penampakan, tak ada gangguan. Senang dan juga was-was, bagaikan tenang sebelum badai. Selama satu minggu pula kami mencicil bentukan kantor menjadi lebih baik, rumah pun belum selesai, kesibukan-kesibukan seperti biasanya. Teman-temanpun tak ada yang curiga kalau kami bertiga sedang menunggu proses berkomunikasi dengan keluarga pak Broto. Mereka beranggapan kalau setelah pindah dari basecamp itu semua akan baik-baik saja dan terbebas dari bahaya yang mencekam.


Kami juga tak tahu, harus bercerita atau tidak karna kami benar-benar tak mau membuat teman-teman khawatir. Sudah banyak beban pekerjaan aku tak ingin membuat beban pikiran mereka bertambah, bisa-bisa semakin runyam saja.


Hari minggu ini aku bangun memikirkan hal ini, serasa lebih nyaman memang sehening ini, hari-hariku sebelum menemukan basecamp itu. Kembalinya hari tanpa gangguan sangat menyenangkan, tapi takut badai segera datang. Apakah ini hanya aku yang over thinking padahal bisa saja masa tenang itu memang ada.


Kris menelepon.


"Halo Ca, dimana? " tanya Kris.


"Di kamar, kenapa? ini masih pagi. " Jawabku dengan suara parau.


"Bisa anterin aku gak? " tanya Kris.


"Kemana? " tanyaku.


"Aku tuh diajak kenalan sama anaknya teman bundaku, temenin aja yaaa.. please. " Ucapnya memohon.


"Hah? terus Roy dikemanain? " tanyaku.


"Ngapain Roy? " tanya Kris.


"Bukan nya kalian deket? " jawabku.


"Dah, pokoknya temenin ya, nanti sore aku jemput, bye... " ucap Kris lalu mematikan telepon nya.


Apasih ini Kris maksudnya, apa dia dipaksa sama bundanya ya, lebih baik aku beri tau Roy gak ya.


tok.. tok.. tok..

__ADS_1


Siapa ya, aku memicingkan mata seakan gak mungkin bapak ngetok pintu kamar tanpa ada suara, ini benar-benar hening dan hanya suara ketukan pintu kamar yang berasa hampa.


"Siapa? Bapak? " teriakku.


Tapi tak ada yang membalas tanyaku, tubuhku sudah merasa panas dingin dan seakan kamar tiba-tiba gelap, memang masih gelap karna aku belum membuka jendela, tapi merinding sekali seakan ada angin di kamarku.


"Pak? bapak ketuk pintu? " teriakku lagi.


Tak ada jawaban, lalu aku turun kasur, hal pertama yang aku lakukan adalah membuka gorden dan jendela, mencoba berpikir jernih karna ini masih pagi, bisa saja aku halusinasi lagi, penyakit yang bisa merasakan masa lalu bisa kambuh lagi, tetapi aku harus tetap tenang, aku harus tenang. Berlahan aku berjalan ke pintu kamar dan membukanya. Aku kaget dan benar-benar kaget saat membuka pintu, ternyata tak ada siapapun didepanku, tapi saat menunduk aku melihat....


"Toby! " Teriak ku.


Toby sedang berlutut membawa cincin dan bunga seakan dia melamarku.


"Paan sih bi? gak lucu! " teriak ku lagi sambil membanting pintu.


"Ca.. maaf ca, kamu parno yaaa.. maaf gaada maksud. " Ucap Toby.


"Maaf ya nak, " terdengar suara wanita, siapa itu.


Aku hanya diam, merasa sangat kesal sekaligus memang benar kata Toby, aku mungkin parno yang berlebihan. Aku membasuk muka ku dengan tissu basah, dan berkaca kok nampak jelek sekali muka ku ya, selama ini berkaca menggunakan muka Amini terasa sangat cantik. Ah bikin kesal saja, ngapain Toby kesini sedangkan aku masih kucel begini.


Lalu aku membuka pintu dan melihat sekitar ternyata suara wanita adalah mamanya Toby. Mereka semua menatapku dengan tajam.


"Maaf, aku mau mandi dulu, permisi. " Ucapku sebelum Toby ngomong padahal tadi dia sudah membuka mulutnya.


Aku mandi, lalu kembali ke kamar ganti baju dan sedikit berdandan agar terlihat lebih rapi saja meski hanya memakai baju rumahan. Lalu aku keluar dari kamar menemui mereka dan duduk.


"Ca... maaf yaaa, salahku memang gak mungkin pengertian padahal tau kamu gak begitu suka kejutan. " Ucapnya menunduk lesu.

__ADS_1


"Sudah tau aku bangetkan? tapi masih kek gitu? " tanyaku.


"Sudahlah nduk, kamu ini yang baiklah, mereka itu tamu. " Bisik bapak.


"Maaf ya nak, anak tante ini emang bersikeras melakukan kejutan ini. " Ucap mamanya Toby.


"Gapapa tante, bayangin hidup sama Toby aja dah pusing palaku. " Jawabku kesal.


"Nduk! kamu kok gitu jawabnya. " Ucap bapak.


"Aku hanya ingin kamu seneng ca, dengan ekspresi yang bahagia diberikan cincin dan bunga. " Jawab Toby.


"Maaf aja gak sesuai ekspektasimu. " Jawabku dengan muka datar dan kesal.


"Lalu bagaimana ini, apakah perlu aku berlutut? " ucap Toby.


"Dahlah bi, aku masakkan makanan dulu untuk sarapan bersama, ngobrol sambil sarapan aja. " Ucapku bergegas ke dapur.


Mereka bertiga nampak ngobrol dengan serius, aku memang tak jaga sikap juga di depan calon ibu mertua, hanya saja ya begitulah aku, masa iya aku sok baik begitu di depan mertua. Lagian Toby aneh-aneh aja, udah tau aku modelan kek gimana masih aja ala-ala drama gitukah? sedangkan situasi saat ini ada di kehidupan drama horror gak jelas.


Aku memasak dengan bahan yang ada di kulkas, alias aku memasak sop, perkedel dan juga jamur crispy. Sangat sederhana untuk pertemuan keluarga karna memang adanya itu tapi isian sopnya sangat beragam kok. Sudah selesai masak lalu aku mengundang mereka untuk makan di meja makan.


Kami makan dengan lahap karna pagi ini hawanya dingin jadi laper dan masakanku di puji oleh mamanya Toby dan kami pun makan tanpa ada obrolan saking menikmati makanan tersebut. Setelah makan aku menghidangkan pudding coklat susu, nah di sini baru mamanya Toby memulai perbincangan serius ingin melamarku untuk hidup berkeluarga bersama anaknya.


Mamanya Toby adalah seorang dosen psikologi, beliau bernama Marenta alias mama ren sebutan nya. Beliau sangat baik dan penyayang selama aku kenal dengan Toby bahkan setelah kedua orang tuanya bercerai pun, Toby masih baik dengan papa nya karna mamanya yang mendorong Toby untuk tetap memiliki kasih terhadap papanya meski papanya memilih wanita lain. Mama ren memang wanita yang memilih menjalani hidup sesuai hatinya. Kini Toby memiliki adik tiri yang mengenal Toby sebagai abangnya meski Toby sangat membenci wanita yang merusak keluarganya. Sekarang papanya tak bekerja, dipecat dan istrinya berjualan di pasar dan Toby tak pernah sekalipun membantu, karna itulah karma.


Setelah berbincang-bincang dan menyusun hari pertunangan dulu sebelum menikah, karna aku bilang tak ingin buru-buru, lebih baik kami saling mengenal dulu, meski kami berteman baik tapi lebih dalam dalam mengenal itu penting. Toby pun menyetujui dan memasangkan cincin pertunangan, lalu aku mencari vas untuk diisi dengan bunga dari Toby tadi.


Kami berfoto bersama dan meski acara pertunangan yang tak disengaja ini menjadi tunangan beneran, apalagi di posting di sosial medianya Toby membuat semakin gempar teman-teman kami yang kaget dan marah karna kami tak mengundang siapapun dan tak memberi kabar.

__ADS_1


Tanpa sadar sudah sore, aku lupa kalau Kris akan menjemput dan marah-marah karna merasa tak dianggap sebagai teman. Aku pun menjelaskan kalau ini tak sengaja. Dia masih ngomel-ngomel saat nungguin aku bersiap ganti baju, dijalan bahkan sampai tempatnya pun masih aja ngomel.


Sampai akhirnya aku bertemu dengan lelaki yang tak asing bagiku...


__ADS_2