
Entah bagaimana bisa terjadi tiba-tiba Aca datang menjemputku karna aku sempat tak sadarkan diri, perutku sangat sakit sangking sakitnya aku lupa apa yang terjadi karna kejadian begitu cepat. Sekarang menunjukkan waktu pukul 23.00 Aca ada didepanku dan ada Dina dan saat ini aku sedang ada di apartemen Dina.
“Apa yang terjadi ? kenapa aku bisa ada disini?” tanyaku.
“Menurutmu apa bi ?” tanya Dina.
“Apa ? aku tak mengerti ?” tanyaku lagi.
“Sebenarnya kalian ini ada apa ?” tanya Aca.
“Gatau, aku tiba-tiba ada disini, bukanya tadi kita ada acara makan-makan di hotel sebelah.” Jawabku yang pusing dengan situasi ini.
“Kenapa din ?” tanya Aca.
“Tadi memang kami makan di hotel sebelah, terus karna Toby perutnya sangat sakit dan berkeringan seperti demam gitu akhirnya dia minta ruang untuk beristirahat, akhirnya aku bawa kesini dalam kondisi hampir pingsan,” jawab Dina.
“Terus kenapa gak dibawa kerumah sakit aja, ngapain kemari ? terus ngapain juga ngehubungi aku ?” tanya Aca dengan muka menahan emosi.
“Yaa … karna aku bingung kalau Toby gak kunjung bangun masa iya kami hanya berduaan, aku takut jadi fitnah, jadi ya aku hubungi kamu untuk berjaga-jaga.” Jawab Dina dengan penuh percaya diri.
“Emang perutku sakit banget sangat sakit, aku gatau habis makan apa atau gimana buat tubuhku kunang-kunang.” Jawabku.
“Terus sekarang gapapa kan bi ? bentar aku ambilin minum dulu.” Ujar Dina penuh perhatian, sedangkan Aca masih melihatku dengan tatapan yang sangat mengerikan.
“Ini bi .. minum,” Ujar Dina sambil memberikan air hangat.
Aku melihat Aca memegang kepalanya pertanda dia sangat pusing dan berusaha tetap tenang disituasi yang entah dia harus bersikap bagaimana, aku pun ak tau bagaimana bisa berada disini, aku pikir masih dalam lingkup hotel karna memang hotelnya benar-benar ada disebelah apartemen ini. Perutku teramat sakit seperti ditusuk-tusuk dan tak bisa menjelaskan kenapa dan kok bisa. Seingatku aku tak makan apapun yang berlebihan atau tak punya alergi sama sekali.
“Udah ?” tanya Aca.
“Iya udah,” jawabku.
__ADS_1
“Yaudah yuk pulang, udah gak sakitkan perutnya ? kita mampir ke rumah sakit aja.” Jawab Aca.
“Udah gapapa kok,” jawabku.
“Jangan gapapa gapapa, entar gapapa tiba-tiba mampir ke tempat cewe lain,” jawab Aca monohok.
“Iya ca,” jawabku pasrah.
“Mobilmu dimana ?” tanya Aca.
“Mobil Toby ada diparkiran, terus kamu tadi kesini naik apa ca?” tanya Dina.
“Naik Ojek,” Jawab Aca singkat.
“Ini kunci mobilnya,” Ujar Dina memberikan kunci mobil.
“Iya, makasih ya din udah jagain Toby, kami pamit dulu.” Jawab Aca dan aku berjalan pergi, saat aku melihat Dina terlihat dia senyum tipis penuh kepuasan, entah mengapa aku seperti melihat hal itu terjadi atau hanya perasaanku aja atau emang dia merencanakan hal ini agar melihat reaksi Aca yang tak terlihat menarik dengan ulahnya ini.
Kami pun pulang dan Aca masih tetap diam tanpa berbicara apapun yang membuatku semakin bingung harus bagaimana.
“Ca … maaf yaa, aku gatau kalau hal ini bisa terjadi,” ucapku berusaha memulai pembicaraan.
“Iyaa … jaga kesehatan yang bener jangan sampai hal ini terulang lagi.” Jawabnya datar.
“Kamu marah kah ?” tanyaku,
“Menurutmu ?” tanyanya balik.
“Marah, karna kamu diam aja.” Jawabku.
“Dah tau gitu yauda gausah tanya,” jawabnya ketus.
__ADS_1
“Tapi aku gatau kalau Dina bawa aku ke apartemennya.” Jawabku.
“Dahlah, gausah membela diri,” jawab Aca singkat.
“Tapi aku beneran gak membela diri, emang kaya gitu adanya.” Jawabku yang membuat Aca kesal.
“Bi! Bisa diam gak ?” ujarnya dengan tatapan yang sangat menakutkan.
“Iya ca, maaf.” Jawabku sambil menundukkan kepala penuh dengan penyesalan.
“Kamu bisa kena radang usus tuh kek apa ? bisanya daya tubuhmu lemah itu ? hah? Kalau kau gak peduli sama dirimu sendiri aku ogah banget sama kau nih. Gausa ngerokok ngevape itulah.” Amarah Aca yang mempermasalahkan gaya hidupku.
“Memang aku kebanyakan duduk dan jarang olahraga, makan makanan berlemak dan ngevape dan emang tenagaku terforsir gajelas.” Jawabku.
“Hmm.. dah sekarang istirahat aja, kamu udah kabari tante Marenta belum?” Ujar Aca.
“Mama lagi ada dirumah mbah putri, jadi aku sendirian dirumah.” Jawabku.
“Tengah malam gini makan apa yaa yang buka,” ucap Aca sambil menoleh kanan kiri mencari makan.
“Nasi goreng aja,” jawabku.
“Dimana ?” tanya Aca.
“Kamu lurus aja, nanti sebrang jalan ada nasi goreng yang biasanya tutup dijam 1 an.” Jawabku.
“Bentar lagi tutup dong…” ucap Aca bergegas agar keburu sampai.
Akhirnya sampai dan Aca menyuruhku menunggu dimobil aja dan dia yang menyebrang jalan untuk memesan. Aku merasa kasihan dengan Aca yang tengah malam begini masih diluar dan masih ngurusin aku yang habis berpesta malah makan nasi goreng padahal habis pesta makanannya enak-enak. Setelah pesan kami langsung pulang ke rumahku yang hanya berjarak 500 km lagi dari sini. Setelah kami pulang dan Aca langsung menyiapkan makanan nya dia membeli nasi goreng dan capcay.
Kami berdua lanjut makan dengan sunyi karna memang Aca sepertinya gak mood untuk ngobrol, setelah itu dia menyuruhku minum obat dan istirahat sedangkan dia pamit pulang, lalu aku melarangnya karna ini sudah kelewat pagi jadi aku memintanya untuk menginap saja tidur di kamar mamaku, dia menolak karna tidak enak tetapi aku memaksa. Akhirnya dia setuju dan kami istirahat di kamar masing-masing. Baru aku sadari ternyata dia keluar memakai piyama aja, sebegitunya dia khawatir sampai cuek aja keluar pakai piyama naik ojek lagi, astaga dia yang sudah effort jemput aku nih masih saja berpikir negatif bilang dia gak peduli padahal dia benar-benar peduli dalam diam.
__ADS_1
Pagi pun datang, aku bangun sudah jam 8 pagi, kenapa Aca gak bangunin aku ya. Saat aku keluar kamar Aca sudah menyiapkan bubur ayam dan note dia pulang pagi-pagi karna hari ini dia ada meeting dengan client dan menyuruhku untuk istirahat aja dirumah, masalah kantor dikerjakan dirumah aja dan dia akan bilang ke anak-anak yang lain. Aku pun tersentuh dengan Aca yang perhatian seperti ini karna sepertinya aku ga pernah merasakan perasaan seperti ini.