
Aku ... aku merasakan sakit ditubuhku, kepala yang nyeri karna rambut yang ditarik Asmirah dan didorongnya aku sampai terpelanting, maaf bukan aku, maksudnya Sri. Entah mengapa aku merasakan segala kengerian ini, bahkan batin dan jiwaku terasa sesak dan terluka.
"Apa yang kau lakukan Asmirah! " Seru pak Broto kaget dengan perbuatan istrinya.
"Aku tak terima dia memelukmu. " Ujar Asmirah marah.
Pak Broto mengernyit marah dengan sikap istrinya dan bingung dengan situasi ini. Beliau menghampiri Sri dan menolongnya berdiri dan dibawa nya ke dalam rumah. Sontak Asmirah langsung panik dan menggigit jemarinya pertanda tak tenang dan takut ketahuan.
"Ada apa denganmu Sri? " Tanya pak Broto sambil menenangkan Sri dan menyuruh Asmirah mengambilkan air putih.
Sedangkan disini Sri masih menangis sesengukan tak bisa berhenti. Asmirah datang menatap tajam Sri sambil memberikan air putih. Asmirah seperti memberi tanda penuh ancaman jika Sri sampai membocorkan hal ini, maka kematian akan datang pada neneknya. Asmirah memang tidak berkata apapun, tapi bahasa tubuh Asmirah seakan-akan mengatakan hal itu.
Sri ketakutan kalau sampai neneknya kenapa-kenapa bahkan dibunuh oleh Asmirah, Sri meminum air dan menenangkan diri dan berusaha berpikir jernih langkah apa yang harus dia lakukan, agar neneknya tak sama nasib nya dengan bu Diajeng.
"Emm.. mas Broto, kemarin.. kemarin. " Ujar Sri terbata-bata.
"Kenapa kamu Sri? " Tanya Asmirah, menatap tajam.
"Bentar dulu, biarkan Sri tenang. " Ujar pak Broto sambil menatap Asmirah heran.
Sedangkan Sri sangat kalut dan sesak, beberapa hari ini stress menyaksikan pembunuhan tanpa sengaja dan diperkosa orang suruhan Asmirah, Sri tahu karna dia bekerja dirumah orangtua Asmirah.
"Sri.. kenapa kamu berteriak pembunuh, siapa pembunuh? " Tanya pak Broto langsung membuat bergidik ngeri, harus menjawab apa dan Asmirah pun semakin galau kesetanan.
"Hmm... aku melihat pembunuhan mas.. " Ujar Sri sebelum dipotong oleh Asmirah.
"Apa? .. apa maksudmu Sri? kamu mau curhat kalau kamu dilamar? " Kata Asmirah dengan lantang.
__ADS_1
"Sri di lamar siapa? " Tanya pak Broto.
"Itu.. yang kerja sama orangtua ku mas, si Badrun, iyakan Sri? " Ucap Asmirah sambil berkedip menyuruh Sri menjawab iya.
"Iya.. " Jawab Sri menunduk lesu.
"Lantas kenapa kamu berteriak histeris? " Tanya pak Broto heran.
"Badrun kemarin memperkosa saya mas, tepat dibelakang rumah mas Broto, dan jeng Asmirah tahu. " Ujar Sri sambil menatap Asmirah dengan ketakutan, tapi Sri berpikir akan pelan-pelan saja membongkar semuanya, untuk saat ini, lebih baik hal ini dulu yang membuat Asmirah dalam masalah.
"Apa .. apa maksudmu Sri? aku tak mengerti! " Seru Asmirah kebingungan.
"Astaga, kenapa Badrun bisa memperkosa Sri? kenapa kamu diam aja Asmirah? " Tanya pak Broto marah.
"Aku tak tahu, kemarin memang badrun kemari untuk mengantar makanan, tapi aku tak tahu kejadian itu. " Jawab Asmirah tak berani menatap suaminya.
"Kemarin saat aku hendak kemari, Badrun tiba-tiba menutup mulutku dan merangkul ku dibawa nya aku ke pojokan pohon rindang di belakang rumah. Dia membuka pakaianku dan melakukan hal keji, aku memberontak berteriak tak ada yang mendengar, sedangkan aku yakin jeng Asmirah ada dirumah. Sungguh jahanam sekali kalau dia tidak keluar mendengarkan jeritan wanita yang sedang mengalami nasib buruk karna nya. " Ucap Sri sambil menatap Asmirah dengan sangat tajam dan penuh keyakinan.
"Sri.. sungguh aku tak tahu hal itu terjadi padamu. " Ujar Asmirah sambil menggigit jemarinya.
"Astaga Sri, sungguh biadab sekali Badrun melakukan hal tak senonoh itu, aku akan segera mencarinya dan memberi dia pelajaran! " Seru pak Broto hendak pergi dan menghajar Badrun tetapi dihentikan oleh Asmirah.
"Mas .. mas tenang dulu, Badrun kemarin melamar Sri, mungkin maksudnya dia menyukai Sri tetapi karna takut Sri menolak jadi itulah caranya dia menunjukkan cinta, " kata Asmirah sambil berpikir.
"Aku sama sekali tak mengenalnya, tahu pun cuma tak sengaja lihat dia berjalan kerumah ini. Bertemu tak pernah, bagaimana dia bisa menyukaiku dengan melakukan hal keji. " Jawab Sri sambil menghela napas.
"Badrun sungguh kurang ajar, dia tak tahu kalau Sri adalah adikku" Ucap pak Broto dengan kemarahan nya.
__ADS_1
"Mas.. mas tenang dulu. " Ujar Asmirah.
"Tenang! tenang katamu? Sri ini adikku, bisanya orangmu menghina dan merampas kesucian nya, untuk apa dia melamar segala, tak sudi aku menerima nya. Jangan mau Sri, harga diri paling utama. " Ujar pak Broto dengan lantang dan membuat Sri terharu dan menangis.
"Aku takut mas, aku sedih diperlakukan seperti ini. " Jawab Sri dengan penuh kesedihan dan amarah.
"Tenang Sri, aku akan membelamu, jika kamu hamil, aku yang akan menafkahi mu dan bertanggung jawab penuh, karna kamu sudah aku anggap sebagai adikku sendiri. " Ucap nya sambil memeluk Sri dan menenangkan nya.
"Apa-apaan ini mas? " Teriak Asmirah sambil menarik pak Broto.
"Sudah lah Asmirah, kau panggil yang namanya Badrun kesini! cepat!! " Seru pak Broto marah.
Asmirah hanya bisa kesal memandang suaminya yang peduli pada wanita lain, membuatnya semakin marah dan dipenuhi rasa dendam. Padahal hal itu dilakukan untuk membuatnya diam dengan kematian mertuanya, malah membuat masalah lain. Asmirah berjalan pergi sambil memikirkan siasat dan pembenaran perihal Badrun menghadapi suaminya.
Di sisi lain, Sri merasakan hangatnya seorang lelaki yang dicintainya dari dulu, andaikan dia tak mengenal Asmirah mungkin bu Diajeng masih ada. Sri sangat ingin sekali menceritakan apa yang ia lihat, tetapi Sri harus lebih pintar melawan Asmirah yang gila itu. Sri bercerita kalau dia memimpikan bu Diajeng, bu Diajeng bilang dia tak mati karna bunuh diri, tetapi di bunuh. Sontak pak Broto kaget dan bingung dengan mimpi Sri.
Tetapi pak Broto juga bercerita kalau dia seperti melihat kebiasaan ibunya dirumah ini, sedangkan Asmirah berulang kali meminta pindah dari rumah ini. Sri menyarankan agar tidak pindah karna kenangan masa kecil semuanya ada disini, dan Sri meminta pak Broto agar menikahinya, karna Sri sudah tak ingin hidup jika mengingat hal keji itu.
Pak Broto bingung harus bagaimana, tak mungkin dia beristri dua seperti bapaknya dan membuat ibunya terluka hingga bunuh diri, tapi Sri meyakinkan pak Broto kalau bu Diajeng dibunuh, dan berharap pak Broto di datangi bu Diajeng agar mengerti. Tetapi pak Broto bingung, siapa yang tega membunuh ibunya jika memang benar mimpi Sri.
"Mas, aku mohon, nikahilah aku demi melindungi ku mas, aku takut ada yang mau membunuhku juga. " Ujar Sri dengan tatapan putus asa.
"Aku tak bisa menikahimu, tapi aku akan menafkahimu Sri dan menjadikanmu keluargaku. " Jawab Pak Broto pelan.
"Ku mohon mas, pikirkan lagi, aku takut dan putus asa, " ucap Sri memohon.
Mereka berdua hanya saling bertatap dan memeluk menenangkan diri sambil hanyut dalam isi pikiran masing-masing.
__ADS_1