Rumah 7 Turunan

Rumah 7 Turunan
43. Sajian Makan Malam


__ADS_3

Dini hari mbok Darmi membangunkanku untuk ikut berbelanja sesuai dengan perjanjian kemarin, sedangkan Batara bertugas untuk menata meja makan secantik mungkin dengan hiasan bunga yang segar-segar. Tetapi dia masih tidur dan merasa ngantuk, pak Broto sedang berolahraga pagi sembari mencari inspirasi.


Saat di pasar aku berencana membuat kue manis untuk di hidangkan sebagai dessert, dan makanan utama seperti semur, sup brenebon, perkedel dan ada beberapa lagi. Ternyata semua makanan itu di adaptasi dari belanda. Lapis legit pun ternyata jamuan gaya kolonial, tetapi kami lebih memilih membuat nagasari dan ongol-ongol. Untuk minuman kami akan membuat wedang uwuh dan air kelapa yang segar.


Saat berkeliling pasar aku menemukan orang menjual kain yang cantik dan aku ingin membelinya, tetapi karna mbok Darmi hanya membawa uang dan barteran yang cukup jadi aku tak bisa mendapatkan nya, kain itu motif dan coraknya sangat cantik dan segar, terasa sekali kalau kelak di masa depan kain itu akan digemari. Mungkin lain kali aku akan mendapatkan nya.


Selepas berbelanja kami lansung pulang dan bergegas memasak dan membuat aneka macam makanan dalam waktu seharian sungguh melelahkan, tetapi karna dilakukan dengan bahagia dan ikhlas jadi nya tak terasa kalau lelah. Batara pun bahagia dan membungkus beberapa barangnya untuk diberikan kepada Djaya sebagai teman dan aku diminta Batara untuk memberikan pakaian atau apapun itu untuk Laksmi, dan aku berusaha mencari apa yang pantas dipakai Laksmi, akhirnya setelah aku memilih aku memberinya beberapa pakaian dan aksesoris.


Tapi yang aneh, mengapa aku tak bertemu dengan arwah Sri atau arwah bu Diajeng yaa, mengapa malah bertemu dengan tetua lingkungan itu. Tapi aku sungguh tak sabar untuk bertemu dengan ibunya Adi yaitu bu Sari alias adeknya mbok Darmi. Rasanya sangat excited dan mendebarkan. Pak Broto sedang melukis gambar lingkungan rumah lama, sepertinya akan diberikan kepada sahabatnya pak Yadi. Sementara aku dan Batara asyik membantu mbok Darmi sampai tak terasa akhirnya selesai juga.


Tepat jam 6 malam mereka semua datang ke rumah ini sambil membawa beberapa kue kecil dan air kendi yang menyegarkan itu. Aku menyapa mereka semua dengan bahagia, Batara pun juga sangat gembira dengan mata yang berbinar-binar. Kami persilahkan bersantai dulu menikmati wedang uwuh dan berkeliling rumah kami, menikmati bintang-bintang di halaman belakang ataupun melihat lukisan dari pak Broto.


"Halo bu Sari... " Sapaku kepada ibunya Adi.


"Halo non, senang bertemu kembali, " ucapnya teduh.


"Panggil aku Amini ya bu. " Jawabku.


"Baik lah Amini, " jawabnya dengan senyum yang manis.


"Bagaimana jika berbicara di teras depan. " Ucapku mengajak bu Sari.


Sedangkan orang lain sedang sibuk masing-masing, ini kesempatanku untuk berbincang dengan bu Sari.


"Apakah bu Sari sudah sehat? " Tanya ku.


"Sudah nak, saya sudah cukup sehat, kemarin memang lelah bekerja saja. " Jawabnya ringkas.


"Jadi bagaimana kalau langsung saja pada intinya bu, apa yang ibu maksud kemarin? " tanyaku.

__ADS_1


"Hmm.. kamu sungguh tak sabaran nak, " jawabnya.


"Iya bu Sari. " Jawabku lagi.


"Jadi bagaimana saya menjelaskan nya ya, tetapi saya bukan orang pintar, hanya saja saya memiliki penglihatan terhadap sesuatu yang orang lain tak bisa merasakan nya. " Ucapnya.


"Bisa dibilang ibu indigo atau punya indra ke enam. " Jawabku.


"Saya tak mengerti nak, tetapi memang turun temurun seperti itu dari nenek moyang saya, dan kebetulan saya lah yang mendapatkan penglihatan itu, kalau mbak Darmi, beliau senang tak mewarisi hal-hal aneh. Tapi mbak Darmi merahasiakan ini dari orang luar, hanya keluarga inti saja yang tahu. " Jawabnya.


"Apakah bu Sari bisa melihat Sri? pemilih rumah itu? " tanyaku.


"Bisa, dia masih di sana melakukan hal yang sama, belum ikhlas pergi entah karna apa. Sempat beberapa kali saya tanya, tetapi dia tak menjawab dengan jelas. Bahkan di sini saja ada macan penjaga di depan rumah ini. " Ucap bu Sari.


"Hah? tepat di depan halaman ini kan bu? " tanyaku memastikan, karna Ana memang melihat macan penjaga rumah ini.


"Iya... sepertinya kamu juga peka ya Amini? " tanya nya.


"Ada bayanganmu sendiri yang mengikutimu, kenapa bisa saya melihat kamu ada 2 ya Amini, sepertinya bayangan. " Ucapnya dan aku kaget, apakah selama ini Amini menjadi bayanganku dan melindungi atau memberitahu sesuatu hanya saja aku yang tak sampai bisa mengerti.


"Entahlah bu, aku juga tak paham. Hanya saja selalu merasa aneh dengan bu Asmirah. " Jawabku.


"Nyonya Asmirah dari kecil sampai gadis dan bahkan menjadi ibu saat ini, beliau sangat baik dan penyayang, wanita yang tangguh dan terpelajar, hanya buta karna cinta saja yang dapat menyebabkan malapetaka. " Ucapnya sambil memejamkan mata.


"Iya." Jawabku singkat sambil berpikir bahkan hampir hanyut dalam lamunanku.


Hening untuk beberapa lama, kami berdua hanyut dalam pikiran masing-masing.


"Saya berpesan pada non Amini untuk tetap memberikan kasih dan sayang kepada nyonya Asmirah, beliau menghadapi hidup dan mati saat melahirkan Amini, bahkan beliau bersikeras tetap melahirkan kamu kedunia ini, padahal dukun beranak mengatakan hanya ada 1 yang akan selamat. Tapi takdir menolong kalian berdua. " Ucapnya memberikan nasihat.

__ADS_1


"Benarkah itu? aku tak pernah mendengar cerita tersebut. " Ucapku kaget. Ternyata perjuangan seorang ibu memang tiada tara.


"Iya Amini, sebejat apapun ibumu beliau tetap ibumu. Hanya ada satu cara melepas semua lingkaran hitam ini, yaitu kejujuran. " Jawabnya.


"Kejujuran? " Tanya ku.


"Nyonya harus mau mengakui segalanya jika ingin keluarganya tetap utuh, dan hal-hal buruk tak datang menghantui keluarga ini. " Jawabnya.


"Tapi bagaimana? tak mungkin pak Broto mau memaafkan. " Tanya ku sambil mengernyit.


"Bisa, jika yang telah pergi ikhlas. " Jawabnya.


"Bisakah bu Sari membantu melepaskan lingkaran hitam ini? " Tanyaku.


"Lingkaran ini bak benang kusut, sangat kusut sampai tak tahu bagaimana cara melepaskan nya. " Jawabnya.


"Lantas bagaimana? " Tanya ku lagi dan lagi.


"Hanya jika mau Nyonya jujur dan mempertanggung jawabkan kesalahan nya. Entah itu masalah dengan mertuanya atau dengan Sri. " Jawabnya.


"Apakah Sri? di bu... " Tanyaku terhenti.


"Iya, tak sengaja. Tetapi saat nyonya hamil kamu, dia berusaha merawat anaknya dengan baik. Tapi takdir berkata lain. " Ucapnya.


"Aku sangat sedih sekali mendengar itu, aku kasihan dan benci pada ibuku. " Jawabku.


"Semoga suatu saat, nyonya bisa jujur dan berani. Saya tahu sungguh berat menjalani kehidupan yang di ganggu oleh makhluk lain. Bahkan mampu berusaha tidak takut padahal sedang dihantui. Tapi yang perlu kamu ketahui, anak dari Sri itu kembar, yang satu meninggal dan yang satu lagi dibawa kabur dukun beranak yang katanya jika di satukan akan mati semuanya dan sampai saat ini semua orang sudah berusaha mencarinya tak kunjung bertemu. " Ucapnya.


Sontak aku kaget dan dikagetkan juga oleh Batara yang menyuruh kami untuk berkumpul di meja makan karna acara makan malam akan dimulai. Kami pun masuk dengan tatapan yang masih belum puas dengan perbincangan kami, aku pun tak tahu anaknya laki-laku atau perempuan dan siapa nama dukun itu agar aku bisa mencarinya.

__ADS_1


Tetapi aku melihat bu Sari orang yang baik dan tidak menghakimi, dia malahan seperti hidupmu adalah hidupmu, hidupku adalah hidupku. Aku mulai mengaguminya karna tak mudah merahasiakan rahasia pahit dan tak bisa menuduh karna tak mungkin juga ada bukti kuat. Nanti malahan bisa menjadi bumerang sendiri.


Kami menyantap makanan dengan lahap dan mendengarkan kisah masa lalu para orang tua ini dan mendengarkan nasihat mereka. Ini adalah makan malam yang tenang dan mengembirakan sampai akhirnya hujan badai yang sangat deras membuat para tamu tak bisa pulang, dan pak Broto meminta semua tamu untuk menginap.


__ADS_2