
Imajinasi terbayang tak terbantahkan kalau aku sangat ingin berakhir dengan Aca, semua tentang Aca aku menyukainya bahkan bisa berkompromi dengan keburukannya, tetapi ini bukan obsesi melainkan benar perasaan dari hati.
Melihat Aca kesakitan karna hal ghaib saja sudah membuatku murka. Dia sangat gigih menyelesaikan masalah keluarga ghaib yang menimpa kami semua, padahal semuanya ingin hidup dengan tenang tanpa ada gangguan, mencoba biasa saja namun gangguan semakin menjadi-jadi. Entah siapa yang patut disalahkan atas semua masalah yang menimpa kami.
Asmirah biang jahat yang susah sekali diajak berdiskusi secara baik, kenapa power kejahatannya semakin naik saat kami melemah ingin berdamai dan membuatnya kembali ke alamnya, yaitu neraka.
Hanya bisa membuang napas yang penuh sesak mengharap kelegaan. Sudah lama tak melihat Aca tersenyum tenang tapi kali ini di rumah Dipta dia bisa tersenyum kecil menyiapkan makanan, aku hanya memandangnya dari jauh dengan berbagai macam over thingking dikepala.
Tiba-tiba Dipta menghampiri, duduk disebelahku dan bertanya.
"Melototin Aca mulu, bro! " ucapnya heran.
"Hahaha... nampak betul yaa? " tanyaku tertawa.
"Iya, sangat nampak kau sedalam apa menyayanginya, " jawabnya sambil memakan apel.
"Orang lain bisa melihat, mengapa hanya dia yang tak lihat bagaimana caraku memandangnya, miris. " Jawabku sambil menghisap vape.
"Mungkin dia nampak keras diluar, cuek tapi sebenarnya dia tau hanya saja ya memang begitu karakternya. " Ujar Dipta.
"Iya, memang seperti itu dia, kalau dia tak memiliki rasa yang sama gak mungkin dia mau menerima pinanganku. " Jawabku mulai merasa percaya diri.
"Sejak kapan suka sama Aca? " tanya Dipta.
"Hmm.. sejak kapan yaa, gatau. Gak pernah mikir juga kek ngalir aja, " jawabku sambil mikir.
"Lantas, apa yang kau suka dari dia? " tanya Dipta mulai dalam menggalih perasaanku.
"Gak ada hal spesifik, suka aja, ingin bersamanya aja. Kek feeling banget dia istriku. " Jawabku sambil tersenyum.
"Udah pernah deep conversation sama Aca? " tanya Dipta lagi.
__ADS_1
"Belum, hmm pernah gak yaa... keknya uring-uringan terus, " jawabku sambil tertawa karna merasa tak pernah berkomunikasi dengan baik.
"Ngobrolin masa depan misal, atau perasaan kalian berdua? " tanya Dipta terheran-heran.
"Yang kami obrolin palingan kerjaan, setan dan hal-hal mendesak seperti deadline. " Jawabku sambil mengulas memori kebelakang.
"Hah? kalian kan udah tunangan masa iya komunikasi cuma begitu? " jawab Dipta heran.
"Hahahah.. berarti emang kurang komunikasi dan hanya mengandalkan kepercayaan serta kompromi aja, " jawabku sambil memegang kepala seperti baru saja menemukan masalah hubungan kami.
"Berarti kau yang harus lancar mendekatinya berlahan namun pasti bro, " ujar Dipta sambil menepuk bahuku yang nampak terasa berat.
"Iya, thanks bro, aku mungkin berusaha berkomunikasi dengan baik, tapi emang Acanya yang menutup diri dan gak mau komunikasi dua arah. " Jawabku sambil menghisap vape ku lagi.
Tiba-tiba Ana nyamperin.
"Bii... panggangin beefnya dong! malah nongkrong disini, kan kau yang paling jago. " Ujar Ana ngomel.
Aca mendokumentasikan kegiatan ini, Ana dan Kris memasak, Roy membantu ku, Dipta menata dessert dan tante belajar motret dari Aca dan ingin mempostingnya di sosial medianya.
Kami sibuk masing-masing sampai akhirnya waktunya makan dimulai. Terlihat sangat tenang sangat damai melihat semua orang bersuka cita menikmati hidangan dan kebersamaan. Namun dibalik itu banyak mata memandang, banyak dari mereka yang ingin bergabung, ada yang ikut bahagia dengan acara makan dibelakang rumah, ada yang benci dan tak suka melihatnya. Semakin malam entitas dari mereka semakin nampak dan membuatku pusing.
Aku melihat Ana dan dia baik-baik saja, memang energi Ana sangat baik namun rawan sekali kemasukan. Tetapi dari itu semua yang aku takutkan adalah Aca, karna aku melihat Ana selalu dekat dengan Aca dan seperti mengingatkan sesuatu pada Aca yang membuatku curiga.
"Na, kenapa? " tanyaku.
"Aca gaboleh kosong, karna bisa saja dia kebawa lagi kedunia lain. " Jawabnya serius.
"Hah? ada apa sebenernya? kasih tau aku, " ucapku yang kesal mendengar pernyataan Ana.
"Yaaa.. itu tadi, jagain aja dia. " Jawab Ana singkat.
__ADS_1
Baiklah aku harus lebih ekstra jagain Aca, memang dua orang ini Aca sama Ana paling keras kepala dan bikin makin rumit dengan entitas yang lain, ngeselin sih tapi mau bagaimana lagi emang dua orang ini kek gini.
Kami pun selesai bersantai, bermain dan makan, kami semua membersihkan semuanya, piring dan alat-alat lain, mencucinya menarohnya ditempat semula sampai beres dan pamit untuk pulang. Tetapi tante melarang karna sudah cukup malam dan kamar disini banyak, jadi disuruh menginap saja.
Aca pun langsung menyetujui tanpa berdiskusi dengan kami, dan teman-teman yang lain juga merasa lelah dan iya-iya saja. Aku pun marah dan kesal dengan Aca yang giat seperti itu.
"Ca, sini ngobrol. " Ujarku mengajak dia duduk diteras depan.
"Kenapa bi? " tanya nya sambil duduk.
"Kenapa mau nginep disini? mau menggali apa lagi? kurang informasinya? mau melengkapi sampai mana? " tanyaku mencerca banyak pertanyaan karna sangat marah dan khawatir.
"Kau marah? " tanya nya simple.
"Menurutmu? " jawabku juga simple.
"Bi... aku lelah sangat sakit rasanya berada dalam lingkar setan, apalagi aku masuk kedalamnya, aku ingin keluar dan mencari jalan untuk keluar itu kenapa kau marah? " tanyanya dengan nada yang lelah.
Aku terdiam merasa sedih dan kasihan namun juga merasa dia berlebihan dan butuh jeda untuk istirahat.
"Gak bisakah percayakan hal itu padaku? kasih kepercayaan dan kamu tuh istirahat yang bener jangan apa-apa kamu sama Ana aja gerak sendiri, itu gak bener. " Jawabku tegas.
Aku melihat Aca tersenyum tipis dan bersandar ke sofa dan melihat ke langit malam. Dia hanya diam menarik napas dan menghembuskannya. Lalu aku mendekat dan memeluknya dengan erat dan melihat ke kedalaman matanya dari dekat tanpa ada penolakan darinya lalu aku kecup dahinya.
"Inget ca, kamu punya aku dan kawan yang lain. Kami semua berada disisi mu, jangan sendirian kamu harus sharing. Oke? " Ujarku dengan nada yang sangat lembut.
Aca hanya diam dan mengangguk sambil mengenggam tanganku dan berkata.
"Oke bi, terimakasih, yuk istirahat mataku rasanya ngantuk banget. " Ujarnya dan berlalu masuk kedalam rumah.
Ini pertama kalinya dia mengenggam tanganku dan aku merasa jantungku berdetak sangat kencang dan tersipu malu. Tiba-tiba malam yang dingin terasa begitu hangat. Memang seperti inilah rasa kasih dalam cinta selalu bergelora dalam situasi apapun.
__ADS_1
Gelap pun mendapatkan pendar cahaya, dingin pun bisa hangat, ketakutan pun bisa terasa tenang, sakit bisa menjadi sembuh, seakan semua bisa teratasi jika kita memiliki rasa itu.