Rumah 7 Turunan

Rumah 7 Turunan
88. Toby [18]


__ADS_3

Menjelang malam kami berhenti di pinggir jalan untuk sekedar menikmati matahari tenggelam, senja yang teramat indah adalah hari ini, memang ya orang sedang jatuh cinta itu tak bisa dipungkiri kalau perasaanya sangat-sangat mendalam bisa membuat mood sepanjang hari naik.


Hal baik ini akan selalu ada di kenang dalam hati, tak luput aku juga selalu mengambil video untuk dokumentasi, entah itu untuk disimpan sendiri atau diabadikan terpublish dan banyak massa yang tau, terserah Aca karna dia yang jago ngeditnya. Setelah menikmati senja dalam diam karna tak ada yang memulai pembicaraan, setelah matahari benar-benar tenggelam.


“Thanks bi, thanks a lot,” ucap Aca dengan suara pelan.


“Iya ca, kamu senang kan hari ini?” tanyaku.


“Jangan ditanya lagi, tentu saja jawabnya teramat senang.” Jawabnya sambil menebar senyum yang semakin membuatku meleleh.


“Yuk masuk dalam mobil, disini banyak sekali yang menatap kita,” ucapku sambil menggandeng Aca masuk mobil.


“Apa ? para setan ?” Ujarnya sambil melihat ke sekeliling.


“Iya apa lagi cobak,” jawabku datar, sambil melihat situasi agar kami tak diganggu ataupun diikuti.


“Mereka pada ngapain bi?” tanya Aca.


“Iseng aja ngeliatin, penasaran mungkin.” Jawabku.


Lalu kami pergi, berencana untuk menikmati malam di cafe yang baru dibuka disini, dari foto sih tempatnya asik ya, kek ala-ala camping gitu dan cantik dimalam hari. Sesampainnya di cafe itu memang konsepnya outdoor camping dan banyak pohon-pohon ala-ala di hutan, rupanya Aca menyukainya, karna dia memang ingin nikah konsep seperti film twilight, dan aku juga berusaha menabung untuk mewujudkannya.


“Di sini banyak makhluk tak kasat mata gak bi?” tanya nya yang diluar prediksi, aku pikir kata yang diucapkannya adalah, bagus ya bi, ini malah lain.


“Tentu ada ca, kamu tenang aja ga akan aku biarkan kamu kenapa-kenapa.” Jawabku.


Lalu karna aku sudah reservasi,kami langsung ditunjukkan dimana kami duduk dan viewnya memang sangat bagus, terasa nyaman dan dingin, untung Aca memakai jaketku, meskipun aku lupa juga bawa jaket tambahan tetapi di tempat dingin ini aku merasa hangat.


“Kita nikah konsep twilight seperti yang kamu suka ?” tanyaku.


“Hahhaaha… gak kepikiran lagi bi,” jawabnya sambil tertawa.


“Kenapa gak kepikiran ? kamu lupa kita mau nikah?” tanyaku kesal.

__ADS_1


“Bukan itu, sekarang karna sudah mau menikah aku lebih milih untuk sederhana dan hanya mengundang saudara dekat dan temen dekat.” Jawabnya.


“Kan di twilight juga sama,” jawabku.


“Iyaaaa…. Tapi kalau pernikahan kita musim hujan kan juga gak mendukung.” Jawabnya.


“Ya pilih yang cuacanya berawan dan indah,” ujarku.


“Iya tapi kan kita gak bisa memprediksi langit,” jawabnya.


“Jadi maunya gimana ?” tanyaku lagi.


“Maunya gimana ya, mungkin akan tetap outdoor dengan konsep yang sama tapi lebih minimalis.” Jawabnya.


“Okey, aku ikut kamu aja,” jawabku.


“Emang pengennya kamu kek apa dulu, sebelum sama aku.” Tanya Aca.


“Aku sih selalu mendahulukan siapapun pasanganku, aku gak punya keinginan khusus.” Jawabku sambil menyeduh kopi.


“Aku juga merasa bersyukur bertemu denganmu dan merasa feelings itu mengatakan kamu punyaku.” Jawabku dengan senyuman yang entah hatiku ini rasanya ada kupu-kupunya.


“Kamu happy denganku?” Tanya Aca.


“Tentu saja.” Jawabku dengan yakin.


“Kenapa? Aku kan nyebelin dan punya rasa pengertian sama kau kan, aku juga cuek-cuek aja gak peduli, gak pernah ngabarin atau baik denganmu.” Ujar Aca.


Aku hanya membalasnya dengan tawa lalu mengelus rambutnya yang sudah sepanjang bahu itu, lembut dan sangat manis.


“Memang perasaan akan hilang begitu aja saat perasaan itu tak dibalas dengan sama ?” Tanyaku.


“Gatau yaa, mungkin aja udah lelah yakan.” Jawab Aca.

__ADS_1


“Tapi aku gak menyerah semudah itu, buktinya sekarang kamu bisa nyaman sama aku.” Jawabku.


“Iya emang sih, makasih yaa…” Ujarnya sembari memelukku dari samping.


Aku yang tiba-tiba nge freeze dan jantungku ini rasanya berlarian tidak karuan, karna bingung juga harus gimana langsung gatau gak jelas sendiri, berasa gak pernah dipeluk cewek aja. Aku membalas pelukannya dan mencium kepalanya.


“Kamu kedinginan gak ca? Tadi gak bawa celana panjang.” Tanyaku.


“Gak kok, eh kamu yang gak pakai jaket nih kek apa?” tanyanya.


“Gak apa, aku udah merasa hangat.” Jawabku.


“Gombal mulu bi,” jawabnya kesal.


Kami makan dan menghabiskan minum, ngobrol lebih dalam lagi dan berakhir karna diganggu oleh Roy yang menelponku.


“Halo bi, dah balik?” Tanya Roy.


“Kenapa? Ganggu orang kencan aja.” jawabku. 


“Aku sama Kris habis dari rumah nya Sekar nih, kepalaku pusing banget soalnya akhirnya kami pulang dan sekarang dijalan pulang sih,” Ujarnya.


“Ngapain kesana ?” tanyaku.


“Ih gak baca grup ya gini.” Jawabnya kesal.


“Kenapa terus?” tanyaku.


“Aku udah hubungi Ana dan kami mau kerumah Ana agar dibersihkan sama ibunya Ana, terus aku juga malam ini mau nginep rumahmu aja, entah gatau nih kenapa pusing banget aku jadi parno.” Jawabnya.


“Yaudah, langsung kerumah aja, nanti biar aku kabari mama kalau kamu mau nginep kerumah.” Jawabku.


“Okey bi, thanks yak. Have fun.” Jawabnya mengakhiri telepon.

__ADS_1


Lalu aku bilang ke Aca, dan Aca langsung ngecek HP dan membaca grup, Aca kaget kalau ternyata Roy dan Kris udah sejauh ini dan berani mau datang kerumah itu lagi. Aca gak sabar pengen tau detailnya, tapi dia sepertinya ingin meminta pulang sekarang tapi takut membuatku kesal. Sekarang sudah jam 9 malam memang, jadi seharusnya kami pulang saja karna perjalanan pulang selama 2 jam.


Perjalanan pulang Aca memutar musik kesukaan nya, dia suka lagunya One Ok Rock dan dia bernyanyi dan membuat story dengan lagu berjudul Cry Out itu. Dia memang tipikal independent dan berjiwa bebas, dengan pilihan musik-musik yang selalu keras dan jarang sekali aku tau dia memutar lagu-lagu galau atau mendayu-dayu, yang diputar selalu yang bikin kepala ikut bergoyang. Aca ingin menggantikanku menyetir karna dia tau aku mungkin lelah padahal biasa aja, tapi dia memaksa karna ingin long drive with boyfriend katanya. Dengan irama musik yang bikin jingkrak-jingkrak membuat kita memang benar-benar menikmati malam bersama-sama, sesampainya kita di rumah Aca dan nampak juga ada bapak dan tetangganya bermain catur, dan mereka tidak berdua tapi banyak penghuni disini ikut main juga dengan berisiknya mereka mengamati dua orang yang main catur diteras. Aku langsung ikut Aca masuk untuk menyapa bapak dan minta maaf karna pulang malam, bapak hanya menjawab dengan santai aja, dan menyuruhku untuk masuk kerumah dulu bersantai karna capek, tapi aku harus langsung pulang karna mungkin saja Roy sudah menungguku dirumah.


__ADS_2