
Bangun-bangun sadar kalau aku ketiduran dan telepon ini masih nyambung dan terdengar suara ngorok Toby, lalu aku matikan dan kembali menutup mata karna rasanya sangat ngantuk tetapi harus bangun karna hari ini harus baik-baik saja, dan aku juga harus memikirkan langkah demi langkah menuju kebaikan tersebut. Aku masak nasi lanjut masak, cuma goreng-goreng aja karna aku udah beli ayam yang udah dibumbuin tinggal goreng aja dan bikin sambal, dan tak lupa beli krupuk dan selada air biar lengkap dan nikmat. Setelah selesai aku lanjut menyapu rumah dan mandi, tak lupa kasih makan Sunny dan bersihkan pup nya, bapak juga sudah bangun, lalu kita sarapan bersama dan bapak nanyain kabarnya Toby lagi, entah mengapa bapak jadi kepikiran kalau aku ga bisa hubungan jarak jauh, dan akan bertengkar terus menerus nantinya, jadi bapak menasehati dengan seksama dan aku cuma iya-iya aja karna gak mau jadi panjang. Bapak berangkat bekerja dan aku juga masih bersantai dengan Sunny sambil nonton TV, ternyata ada Ana menjemputku tiba-tiba datang sudah dengan kopinya dan memberiku juga kopi.
“You okay ?” tanya Ana
“Oke,” jawabku singkat.
“Aku jemput tiba-tiba karna aku pengen aja main sama Sunny dulu, gemesin banget nih bocil, kalau kucing campuran lucu juga ya, bulunya gak terlalu panjang.” ujarnya sambil menggendong Sunny.
“Iya, mungkin nanti kalau gede jadi ala-ala american shorthair kali ya,” jawabku sambil menyeduh kopi.
“Iya nih keknya, apalagi polanya marble gini, emaknya dimana?” tanya Ana.
“Kemarin aku coba cari-cari induknya gak nemu, jadi gak tau ni bocil dari mana juga, ngikut mulu pas liat aku.” jawabku.
“Ya berarti emang udah jodohnya disini,” jawab Ana.
“Tadi masak apa?” tanya Ana.
“Goreng ayam sama sayur selada air sama sambal aja,” jawabku.
“Enak tuh, aku hari ini cuma makan perkedel tahu aja sama sambal,” jawabnya.
__ADS_1
“Berangkat yuk,” ujarku sambil bersiap lalu kami berangkat bersama.
Sesampainya disana ternyata sudah pada datang padahal jam 9 aja belum, udah pada rajin-rajin, padahal mereka para intern nih banyak sekali tugas yang harus dipelajari, jadi kalau mereka susah ngikutin ya jadi susah. Sedangkan aku mengajak divisiku ke ruang rapat karna ada yang mau aku sampaikan dan kasih arahan pekerjaan.
“Halo, good morning semuanya Ilmi dan Tiar,” ujarku sambil tersenyum.
“Morning kak,” jawab mereka berbarengan.
“Aku ngumpulin kalian kesini mau kroscek aja gimana kalian selama bekerja disini dan perkembangan kalian, apa yang jadi keluh kesah kalian, kakak wajib tau yaa… jadi tolong disampaikan, mungkin dari Ilmi,” ujarku sambil menatap mereka dengan santai.
“Hmm… jadi deg-degan karna tiba-tiba kak, jadi gak tau mau hmm mau ngomong apa,” jawabnya terbata-bata karna mungkin nerves dan kaget.
“Santai aja il, gak akan ku makan hahaha,” bercandaku.
“Tapi Roy aman aja kan ya, gak melahapmu,” tanyaku.
“Iya, bos Roy sangat baik dan malah ngebercandain, saya jadi bingung dan makin gak konsen, akhirnya saya diajari cara konsen dan berbicara yang baik,” jawabnya dan aku tersenyum karna bayanginnya aja lucu.
“Terus gimana ? di approve?” tanyaku lagi.
“Banyak sekali revisinya kak, makanya hari ini saya berangkat lebih pagi biar bisa konsen,” jawabnya.
__ADS_1
“Okey, kalau gitu kamu tau kan apa aja yang perlu dipelajari dan dilakukan?” tanyaku.
“Iya kak,” jawabnya tersenyum.
“Kalau gitu sekarang Tiar,” ujarku sambil menatap Tiar.
“Kalau saya, sangat senang dengan pekerjaan ini karna memang saya menyukai di bidang ini, terlebih lingkungannya enak, istirahat bisa santai kemana aja, bisa tidur, buntu gak ada ide bisa nonton, hal-hal seperti itu membuat saya lebih bersemangat karna saya seperti di manusiakan, berbeda dengan pekerjaan saya yang dulu, makanya saya kaget. Kalau kesusahannya mungkin di menuruti selera client jadinya membuat ide-ide yang banyak dan saat di tolak masih sakit aja, mungkin itu sih kak.” jawabnya.
“Memang susah ya, kalau beda taste, tapi karna beda taste kita jadi bisa berkembang dan belajar taste-taste yang lain, jadi aku juga minta sama kalian kalau bekerja jangan dianggap beban, jalani saja yang sudah memang jalannya, kedepannya kalau ada apa-apa saya yang bertanggung jawab dengan divisi ini jadinya apa-apa harus lapor kesaya ya, sebelum ke bos besar.” jawabku lalu membubarkan rapat kecil-kecilan ini dan lanjut bekerja masing-masing.
Aku keluar sebentar karna pengen beli cilok dan beli banyak buat dibagikan ke anak-anak buat cemilan, mereka seneng dan bercanda ria sambil bekerja dengan serius. Aku juga jika berpapasan dengan Roy harus bersikap sewajarnya dan biasa aja, karna aku juga sedang merancang bagaimana aku harus bersikap kepada Roy dan Toby. karna LDR memang gak mudah mungkin ini salah satu dari banyaknya ujian dan bersikap tenang dan sabar juga tidak semudah itu.
“Ca, coba cek ini deh, gimana menurutmu,” ujar Ambar ke mejaku.
“Apa ini? Bukanya ginian biasanya sama Roy ya rundingannya?” tanyaku.
“Karna kamu kurang peduli dengan keuangan perusahaan, dan gak ada wakil juga, jadi kamu kan gantiin posisi Toby, biasanya aku rundingan sama Toby dulu.” jawab Ambar.
“Aduh pusing palaku mbar, liat angka-angka ini, sama Roy aja yaa…” jawabku pusing.
“Gak bisa, tolong baca amati, itung kalau udah panggil aku ya,” jawabnya lalu pergi.
__ADS_1
Emang susah ngelawan si Ambar ini, kerjaanku jadi nambah gak ada Toby nih jadi emosi, aku coba pap kan ke Toby dan ngomel dia cuma ketawa dan katanya biar dia yang ngeliat nanti kalau udah dikasihkan ke aku. Akhirnya dia ngerjain yang memang kerjaanya dan aku cuma menunggu lalu aku forward ke Ambar dan Ambar merasa aneh karna ini bahasanya Toby dan aku cuma tersenyum dan kembali lanjut ke pekerjaanku. Lalu Toby mengirimkan berkas-berkas yang harus aku pelajari karna kau menggantikan posisinya sampai kepalaku berasap membacanya dan mempelajarinya.