
Aku berjalan pada cahaya remang-remang di antara kegelapan, entah apakah aku mati? atau aku semakin masuk terjebak pada sesuatu yang tak ku mengerti. Jalanan terasa berat seakan aku berjalan pada lumpur hisap tetapi saat aku melihat ke bawah, aku tak melihat apapun. Terdengar bisikan-bisikan yang aku tak mengerti bahasanya dan bahkan aku juga tak bisa melihat dengan jelas.
Aku terus berjalan antara takut dan menoleh kebelakang harus kah aku kembali atau menelusuri lubang lorong ini yang entah mengarah kemana, terdengar sayup-sayup kebahagiaan akan lahirnya Santi, terdengar tawa serta canda, di sisi lain terdengar suara bisikan yang sangat menganggu, membuat telinga tak nyaman membuatku jatuh dan menutup telinga, seperti suara dolby atmos di bioskop yang suara dari kiri ke kanan, all around you. Tetapi kata-katanya sangat bising sekali tak mampu telinga ku mencerna artinya, hanya saja telinga kiri dan kananku sakit sekali, aku tak bisa mendeskripsikan bagaimana karna semakin lama, semakin kunang-kunang mataku, semakin pusing tetapi aku tak boleh tak sadarkan diri disini, bisa saja aku malah tersesat semakin jauh.
Aku hanya perlu fokus ke satu sumber suara saja, suara yang mungkin bisa membawaku keluar dari lorong ini, tetapi aku tak menemukan suara yang mampu ku cerna, karna segala suara ini membut telingaku berdarah, mungkin darah karna seperti keluar cairan, karna gelap aku tak bisa memastikan itu darah atau bukan. Aku berusaha berdiri tapi kaki ini terlalu lemas untuk berdiri, aku merangkak mencari jalan keluar tetapi tak menemukan nya. Ini serupa lorong antara maju dan mundur, tetapi tidak, tiba-tiba jalanan menjadi berbagai arah terbentang, tak ada lagi pilihan, siapa yang bisa berpikir jernih dalam situasi ini.
Apakah aku harus kembali saja ke belakang, iya itu jalan terbaik. Tetapi ketika kembali ternyata jalan kembali sudah hilang bagaikan taman sesat, entah kemana. Aku terduduk diam berusaha lagi untuk fokus, memikirkan hal-hal baik, memikirkan keluarga pak Broto, keluargaku. Tiba-tiba saja semua memori seakan melayang di atas kepalaku, apakah memori kenangan itu akan hilang? ataukah aku sedah sekarat saat ini? apa yang harus aku lakukan? iya, aku harus fokus, aku harus berusaha dan tak boleh lemah, ini hanya bayanganku saja, semua ini fana, semua ini tak nyata. Aku harus bisa melewati ini, bunyi-bunyi tawa menyeramkan nan membuat bergidik, tiba-tiba saja muncul wajah-wajah seram tak beraturan, aku pun kaget dan berteriak, apakah aku ini bisa tahan dengan nuansa horor ini? apakah aku akan melemah?
Aku hanya bisa duduk diam, berusaha mencari apa yang ingin aku dengar saja, berusaha tetap fokus, berusaha tetap menutup mata agar tetap fokus, berusaha baik-baik saja. Iya, aku harus tetap berpikir positif dan menyebarkan nya keseluruh tubuh, pikiran dan jiwaku, aku bisa melindungi diri sendiri dan akan baik-baik saja. Aku harus yakin kepada diri sendiri, aku harus yakin dan bisa, aku mampu keluar dari sini dan entah harus berakhir dimana kehidupan ku, setidaknya aku berusaha.
"Amini... bagaimana nak, kamu bahagia punya adik perempuan? " Terdengar suara pak Broto bertanya.
__ADS_1
"Amini... balaskan dendam nenek nak.. " suara yang tak asing masuk tiba-tiba.
"Amini.. cantik kan adikmu mirip dengan mu. " Terdengar suara lagi.
"Batara juga mirip kakak kan? " Suara Batara yang melengking.
"Amini... tugas mu semakin bertambah, bunuh ibu mu sebagai penebus dosa nya. " Suara lantang terdengar yang membuat telinga ku semakin perih.
"Amini ... bunuh.. bunuh. .. dasar anak pembunuh, kau harus membayarnya. " Suara yang begitu keras penuh dendam.
Arghhhh... Suara dari mana ini, mengapa begitu banyak suara yang aku dengar. Apa yang harus di bayar? mengapa aku yang harus membayarnya. Aku bukan Amini... Aku Aca.. Aku Acaaaaaa.... Teriak ku begitu kencang. Semakin aku berteriak dan memberontak dengan berbagai macam suara yang aku dengar tadi, maka seakan aku semakin tengelam dalam kegelapan, diiringi sayup-sayup suara angin dan air. Membuatku semakin memberontak dengan penuh ketakutan, aku tak boleh pasrah, aku harus bergerak keluar dari lubang gelap ini.
__ADS_1
Harus kemana kah aku? sedangkan aku dihantui rasa bersalah dan dendam yang begitu mengusik jiwa, bagaimana Asmirah tahan dengan semua ini, bagaimana bisa dia bisa berupaya tetap waras di situasi rasa amarah serta bersalah atas pembunuhan, bagaimana dia tetap tenang seakan tak terjadi apapun padahal dia membuhun, saksi kunci pun sudah lama mati, tak ada bukti, tak ada kebenaran, lantas arwah-arwah yang bergentayangan itu menuntut balas, tetapi mengapa harus ada aku yang di telan dalam kehidupan masa lalu ini? mengapa?
Lama-lama aku semakin gila, rasa waras dan usaha menjadi tetap waras pun tak ada, aku putus asa, aku hanya berdiam dalam kegelapan ini, tak ada cahaya penerangan, hanya ada suara-suara yang menyakiti gendang telingaku. Dimana aku? siapun ku mohon selamatkan lah aku. Aku tak bisa ada di dalam sini, aku mau keluar. Teriak ku pada kehampaan yang berisik ini. Sekali lagi aku berteriak dengan tangisan harapan dalam keputusasaan.
Tiba-tiba aku mengingat semua keluargaku, temanku, semuanya. Apakah ingatan ini sebagai bentuk perpisahan karna aku akan mati? ataukah aku di kurung di dunia ini sebagai penuntut balas dendam. Untuk apa mengambil ku? tak ada guna. Mereka semua di dunia nyata sudah mati, biarkan lah generasi baru yang mengurus dunia hidup mereka, mengapa orang mati mengurus yang masih hidup. Pak Broto dan Asmirah pun sudah lama mati, mengapa sampai akhir hayatpun mereka tak jujur, dan mereka kan sudah mati apakah mereka tak bisa berkomunukasi dengan bu Diajeng dan menceritakan kebenaran?
Mungkin saja tak bisa, karna meski mati mereka tetap di alam manusia, mengapa mereka tak pergi dengan damai saja, mengaa mereka masih ada di dunia orang hidup. Aku sangat marah dan kesal sekali dengan kenyataan yang ambigu ini. Untuk apa sebenarnya aku di bawa kemari dan untuk apa mereka tidak pergi dengan tenang?
Segala pertanyaanku tak ada yang bisa aku jawab, semuanya aku tak memiliki jawaban. Kehidupan masa lalu terlalu rumit untuk di buka benangnya satu-satu. Akupun juga orang lain dan mengapa aku masuk kedalam lingkaran keluarga setan ini, ucap ku dalam marah membuat jantung semakin berdegub dengan kencang, tak ada lagi rasa takut, yang ada hanyalah amarah dan amarah yang sangat luar biasa menantang dan mempertanyakan untuk apa aku di sini.
Aku berteriak bahwa aku adalah Aca, aku Aca, berulang kali aku berteriak dalam tangis ku sambil berusaha berdiri dan mencari jalan keluar, tiba-tiba seakan aku melihat sedikit cahaya dan tiba-tiba saja tangan ku yang tremor ini ada yang menarik dan menggenggam, pelan-pelan ku buka mata, ku dapati ada Toby yang sedang menatap khawatir dengan genggaman tangan yang sangat kuat lalu menangis dan tersenyum ketika melihat ku membuka mata.
__ADS_1