Rumah 7 Turunan

Rumah 7 Turunan
107. Message


__ADS_3

Aku sangat senang sekali karna beliau membalas pesanku dan aku langsung memberikan nomorku agar beliau bisa menghubungiku lalu gak lama aku meminta Toby menepi karna ada nomor tak dikenal telepon dan aku sudah menduga kalau ini mungkin beliau tadi.


“Halo, pagi, apakah ini dengan akun username Alcamadisa.” Ujarnya dengan suara yang renyah.


“Iya halo, benar sekali kak, kenalkan saya Aca,” jawabku berasa jadi operator.


“Iya halo kak, saya anaknya mama Yani yang kakak DM, kebetulan saya pegang hpnya karna mama lagi sakit dan saya penasaran dengan DM kakak.” Jawabnya dengan suara yang renyah dan lembut kek enak banget suaranya.


“Maaf ya kak mengganggu kayak, tapi apakah benar kakak dan ibunya masih bagian dari keluarga bu Hartanti yang rumahnya saya sebutkan di DM?” tanyaku pelan-pelan.


“Iya kak, kebetulan suami tante Har itu adiknya mama saya, sudah lama mama saya tidak berkunjung ke rumah punden, karna mama setelah menikah memang ikut papa, karna papa kerjanya di pindah-pindah kota.


“Kakak lagi ada dimana sekarang? Oh iya nama kakak siapa ya?” tanyaku.


“Saya lagi ada dirumah sakit nemenin mama kontrol, saya di bali kak, nama saya Cantika.” Jawabnya.


“Jadi kak Cantika tinggal di Bali ya?” tanyaku lagi sambil mikir gimana enaknya ceritainnya.


“Iya kak Aca, mama maagnya lagi kambuh jadi saya juga tanya ini kenapa ada yang cari mama, padahal keluarga dari mama aja gak pernah cari kami.” Jawabnya.


“Lalu bu Yani bilang apa kak?” tanyaku.


“Mama juga bingung kak, karna sudah lost kontak gitu sama keluarganya, memang ada apa ya?” tanyanya.

__ADS_1


“Hmmm… saya bingung kak jelasin dari mana karna cukup rumit, kalau bu Yani sudah sembuh bolehkah saya ngobrol langsung?” tanyaku.


“Iya boleh dengan senang hati, tapi saya udah keburu penasaran boleh dijelaskan sedikit gak?” tanyanya dengan excited.


“Pertama tante kakak yaitu bu Hartanti sudah meninggal dunia sekitar beberapa bulan lalu, terus saya hanya ingin mengkonfirmasi sesuatu kepada ibu kakak tentang keluarga besarnya.” Jawabku berusaha menerangkan dan memang cerita ini tak bisa dirangkum jadi bingung.


“Astaga, ma! Tante Har meninggal sudah beberapa bulan lalu.” Ujarnya teriak ke mamanya dan dilanjut obrolan bahasa Bali yang tidak aku mengerti.


“Kak maaf ya, makasih ya sudah kabarin kami. Kalau gitu simpan nomer saya ya, nanti saya kabarin kalau mama sudah mendingan.” Jawabnya.


“Iya kak Cantika, makasih ya,” jawabku dan mematikan teleponnya.


Sudah kuduga itu bagian dari keluarganya, karna memang di feed IGnya ada foto taman belakang dan memang dilihat dari IGnya memang ada di Bali, dengan 4 anak dan mungkin Cantika ini anak terakhirnya. Kalau bu Yani adalah kakak dari suami bu Hartanti kenapa di foto nampak muda dari bu Hartanti, mungkin dari pakaian dan gaya hidup kali ya.


Toby langsung mencium keningku bahagia melihat calon istrinya bisa dapat kontak keluarga Laras, dia terlihat bangga dan aku kaget dengan tingkah Toby itu, sepanjang perjalanan kami membicarakan kemungkinan-kemungkinan sampai akhirnya sampai kantor dan cuma ada Ana dan para intern, ternyata anak-anak yang lain telat karna hujan deras dan aku tau pasti mereka malas buat masuk. Aku langsung telepon Roy dan memarahinya karna gak bisa jadi contoh yang baik padahal punya mobil api gak berguna, aku juga chat anak-anak lain yang punya mantel dan gak berguna sedangkan para intern dan Ana pun bisa datang.


Lalu ada sebuah pesan dari Cantika yang isinya, pesan dari mamanya kalau hati-hati dengan keluarga itu karna bisa membuat kepenatan dan kesedihan, kalau memang benar bu Hartanti meninggal maka hati-hatilah dengan anaknya, lalu aku jawab kalau bu Hartanti memiliki 3 anak dan anak yang mana yang dimaksud, lalu tak dibalas lagi, lalu aku langsung screenshot dan kirim ke grup, langsung ramai pada penasaran dan menerka-nerka. Kenapa ya tiap ada sesuatu itu ujungnya tidak ada dan malah bikin pertanyaan baru, itu yang membuatku sangat kesal dan merasa putus asa, sudah berpikir kalau ini akan dekat akan pintu ternyata pintunya masih jauh lagi.


Karna aku pusing dan sakit kepala karna ini, aku membuat coklat panas di dapur dan melihat anak-anak intern juga sedang membuat kopi, katanya dingin dan aku tertawa suruh mereka kalau kedinginan matiin AC nya aja jangan sungkan-sungkan untuk bilang, lalu aku matikan AC dan membuka jendela agar udara sejuk hujan didepan bisa masuk dan membuat suasana semakin tenang dan tak pusing lagi. Aku juga bilang kalau di kulkas itu ada makanan ambil aja, ada frozen food kek cireng dan lain-lainnya kalau mau goreng aja lalu mereka senang dan mengiyakan. Rupanya toby titip minta bikinin kopi ke anaknya, mentang-mentang ada anak intern di divisinya bisa gitu ya.


“Ca, kamu yakin mau datengin mereka ke Bali?” ujar Ana yang tiba-tiba nimbrung di mejaku.


“Kenapa emang? Enak ngobrol langsung kan jadi meminimalisir kesalahpahaman.” Jawabku.

__ADS_1


“Kapan?” tanyanya.


“Aku gak tau kapannya kan beliau juga masih sakit,” jawabku.


“Yaudah tunggu aku nabung dulu dong, aku juga mau ikut.” Jawabnya merengek.


“Hahaha … kamu juga mau ikut? Aku pikir kamu gak bisa ninggalin kerjaan,” jawabku.


“Kan ada intern di aku, jadi aku bisa bagi tugas gitu kalau aku ke luar kota.” Jawabnya.


“Ya tapikan kerjaanmu itu banyak ketemu orang, kamu yakin kah bisa percayakan anakmu?” tanyaku.


“Bisa kok, sekarang nih lagi banyak sekali yang aku ajarin.” Jawabnya bersemangat.


“Udah klop banget yak?” tanyaku.


“Iya, dia bisa diandalkan dan bagus dalam kerjanya meski gak percaya diri dan takut-takut.” Jawabnya.


“Iya okelah, atur aja, aku ke Bali juga bawa kerjaan, enak betul punya anak yang bisa backup kerjaan kita.” Jawabku sedih.


“Mau open recruitment lagi?” tanyanya.


“Gausah deh, nanti aja, yauda nabung aja sana nanti aku kabarin.” Jawabku.

__ADS_1


“Emang kamu udah ada tabungan buat ke Balinya?” tanyanya.


“Kalau ke Bali sih ada uang yang cukup, tapi setelah itu ya langsung hemat, hahahaha…” jawabku sambil tertawa.


__ADS_2