Rumah 7 Turunan

Rumah 7 Turunan
121. Roy [6]


__ADS_3

Karna telat bangun aku langsung bergegas ke kamar mandi dan langsung berangkat kerja, sedangkan papa dan mama sudah sarapan dan aku langsung marah karna kenapa gak bangunin aku, ternyata mereka sudah membangunkanku beberapa kali tapi aku tak kunjung bangun. Akhirnya aku hanya minum jus dan bergegas pergi karna aku sudah ditelepon dua cewek ini yang sama-sama emosian. Pertama aku menjemput Ana lalu Aca yang sudah ngomel-ngomel karna aku gak ditelpon gak diangkat dan aku bilang dengan jujur kalau aku mimpi indah jadi kek susah bangun, Ana mendengarnya langsung seperti tau apa maksud pembicaraanku ini.


“Udah kita buru-buru aja kekantor, karna aku ada hal yang mau diobrolin sama Ambar,” ujar Ana agar aku gak membahas perasaanku.


“Oiya, Kris udah minta aku buat bikinin dia undangan loh, keknya dia langsung nikah tanpa tunangan dulu, kau gak apa kan Roy?” tanya Aca tiba-tiba.


“Iya gak kenapa-kenapalah aku udah sadar kok kalau aku yang berlebihan dan itu bukan perasaan cinta, cuma aku yang gak terima kalau Kris sama orang lain.” jawabku tegas seakan menjelaskan kalau aku gak ada apa-apa dari awal sama Kris.


“Ya bagus deh langsung nikah, mending kamu sama Toby juga serius bahas tanggal pernikahan.” sambung Ana yang seakan tak memberikanku kesempatan.


“Sabar dong, urus temen yang lain juga, client kita juga banyak yang mau nikah.” jawab Aca dengan tenang.


“Emang kamu udah yakin sama Toby?” tanyaku langsung tepat sasaran yang membuat muka Ana kecut.


“Belum tau ya, tapi semoga aja dia memang jodohku,” jawab Aca dengan sangat santai dan seakan ada setan yang menyuruhku untuk mengganggu keyakinannya.


“Ya berarti kamu gak bener-bener yakin ca,” ujarku.


“Ih apaan sih bi,” jawab Ana.


“Kalian lagi berantem ya?” tanya Aca.


“Gak tuh, cuma rada gedek aja sama nih bocah.” jawab Ana dengan pandangan yang sinis.


“Ih na, paan sih lagi dapet ya.” jawabku semakin membuat Ana memanas.


“Tauk ah!.” jawab Ana kesal.


“Oiya Roy, nanti budget yang punyanya mbak Ika itu gimana? Dan oke belum ?” tanya Aca.


“Udah ku bahas sama Ambar kemaren lusa, jadi udah aman aja, drafnya udah dikirim Ambar kan?” tanyaku.

__ADS_1


“Udah tapi belum kubaca karna aku repot sama yang lain, nanti setelah aku rapat sama timku dan bagi tugas, temenin ketemu sama mbak Ika dan calonnya ya,” ujar Aca.


“Dimana?” tanyaku.


“Ada di apartemen yang mereka bakal tempati setelah menikah, karna pemotretanya mereka mau disitu jadi sekalian aku lihat tempat juga.” jawab Aca.


“Aku ikut ya?” tanya Ana.


“Bukanya sibuk ya? Gausah na, aku sama Roy aja.” jawab Aca yang membuat Ana diam sekaligus khawatir.


Akhirnya sampai di kantor dan Aca langsung rapat dengan timnya, Ana langsung rapat dengan Ambar dan aku sendiri di ruanganku sambil melihat PC dengan tatapan kosong karna aku bingung harus bagaimana sekaligus deg degan ini seperti bukan aku yang seharusnya. Tiba-tiba Kris masuk dan dia ingin mengobrol denganku tentang pernikahannya, dia ingin dapat diskon pegawai dan juga diskon untuk bekerja sama dengan Eo yang biasanya kita buat kerjasama, dia ingin semua diskon.


“Emang laki mu ini gak mampu kah?” tanyaku yang kesal karna disuruh ini itu.


“Ya masa sih pegawai gak dapat diskon coba? Kan acaranya ditempat wanita,” jawabnya kesal.


“Tapikan gak semuanya harus diskon ini itu, gimana ngomongnya mentang-mentang orang dalam gitu?” tanyaku sinis.


“Kalau tau sebuah seni ya gak bakal minta harga temen,” jawabku.


“Yasudah, ada harga diskon untuk pegawai kan?” tanyanya sekali lagi.


“Ajukan proposal, nanti aku cek.” jawabku singkat tanpa melihat matanya.


“Astaga Roy, harus kek gitu?” tanyanya.


“Kamu minta diskon pegawai kan?” tanyaku balik.


“Yaudah, aku bikin.” jawabnya dan langsung meninggalkan ruangan.


Aku gak pernah kepikiran bikin diskon harga pegawai atau apapun itu, baru kali ini diminta padahal kita gak semua kerja disini dan kebanyakan mengandalkan kerja sama dengan orang lain, otomatis perusahaan yang nombokin dong, Aca nih ada-ada aja saran gak jelasnya. Aku mengerjakan bagianku dan tanpa sadar Aca sudah masuk keruangan dan memintaku untuk menemaninya, lalu aku pun siap-siap untuk pergi.

__ADS_1


Di perjalanan dia banyak sekali cerita tentang konsep-konsepnya bagaimana konsep foto dan juga video dan lain-lainnya yang pasti membuat dia mual, aku juga bertanya bagaimana kerjaan anak baru apakah bisa mengikuti dengan yang dia mau, dan dia menjawab masih belum tau karna kan masih adaptasi dan perlu belajar lebih lanjut. Sedangkan Toby diluar kota satu minggu karna sibuk dengan kerjaan utamanya, disini dia hanya membantu dengan sangat membantu jadi bebas dia mau kemana aja yang penting kerjaan dia beres dan MMA aman. Aku jadi ingat dengan mimpiku yang Aca ingin bekerja dengan santai tidak seperti ini yang dikejar-kejar oleh deadline dan banyak hal yang membuatnya stress.


“Kamu ngapain suruh Kris ngajuin diskon-diskon segala?” tanyaku.


“Ya dia kan ingin hemat,” jawabnya simple.


“Tapi gak gitu juga, kalau dia minta satu diskon yaudah satu gak semua-semua, kita ini kerja sama dengan pihak luar bukan anakan dari perusahaan kita, kalau gitu sama aja kita yang bayarin nombok itu namanya.” jawabku dengan tegas sebagai CEO.


“Iya aku tau, tapi apa salahnya ngebantu temen sih? Kamu perhitungan bener.” jawab Aca santai.


“Jelas perhitungan karna mikir kedepan, uang itu bisa aja habis begitu aja sedangkan kita gaji orang, kalau kita jadi pegawai mah santai aja gak pusing mikirin beban ini uang ini, kalau kita yang gaji belum urus pajak, utang bank dan lain-lain.” jawabku tegas dan melihat Aca yang sedang mengamati ku berbicara.


“Tumben bapak Roy sangat berwibawa, biasanya komedi mulu,” jawabnya dengan senyum yang sangat manis.


“Ini serius ca,” jawabku berusaha cool.


“Kalau aku nikah gak ada diskon nih?” tanyanya.


“Gak!” jawabku singkat dan dalam hati berkata akan ada diskon kalau kamu denganku kamu gak akan ribut dengan biaya ini itu karna aku yang mempersiapkan semuanya.


“Hmm… pelit banget si Roy,” jawabnya.


“Semua-semua aja ngatain aku pelit, emang Toby gak mampu apa, dia mampu, kamu juga mampu.” jawabku berusaha tenang.


“Iya tau, tapikan dapet diskon itu menyenangkan, lagian juga gak tau kapan mau nikah, selagi masalah keluarga pak Broto belum kelar kek gimana mau nikah cobak, riuh dan ribet penuh kekhawatiran.” jawab Aca.


“Jadi nunggu itu beres?” tanyaku.


“Iya, mungkin tapi gak tau lagi ya, liat kedepannya kek apa.” jawab Aca.


Setelah sampai apartemennya yang estetik ini kami menunggu di suatu cafe dan membahas segala persiapannya, Aca memang sangat keren kalau masalah ini dan aku hanya mengamati mereka saja dan membantu jika ada perbincangan yang menemui jalan buntu.

__ADS_1


__ADS_2