
Tak akan gentar dan takut kalau memang kita sudah menaikkan bendera peperangan, entah apa yang mereka pikirkan dan akan lakukan, walaupun kami tak memiliki pegangan atau orang yang akan menolong kami tapi kami percaya dengan Tuhan masing-masing, kalau memang ada jalan pasti ada jalan. Hari dimana keberangkatan ke Bali telah tiba, Ana sudah sangat senang sekali karna dia akhirnya bisa berlibur dan ganti suasana, sedangkan aku harus ke Bali dengan segudang pekerjaan yang tak bisa di tinggal. Di pesawat Ana memilih untuk duduk di dekat jendela sedangkan aku di tengah karna kata Ana aku bisa berpelukan dengan Toby sedangkan Ana sendirian.
Tapi aku hanya tidur saja karna lelah sekali habis lembur semalam untuk deadline hari ini dan aku masih belum panggil anak baru untuk interview karna jadwalnya aku buat setelah aku pulang dari Bali, ke Bali hari jumat dan pulang senin pagi dan langsung interview waktu jam siang, wow sangat padat sekali ya pekerjaanku ini. Setelah sampai di bandara kami langsung dijemput sendiri oleh Cantika.
“Halo, saya Cantika, selamat datang di Bali.” ujarnya dengan tatapan bahagia.
“Halo kak, saya Aca,” jawabku sambil bersalaman dan dilanjut Toby dan Ana mengenalkan diri.
“Yuk, langsung saja ke tempat parkir, kebetulan saya jemput sendirian.” jawabnya dengan senyum yang sangat ramah sekali.
Kami jalan menuju mobilnya dan di perjalanan dikenalkan dengan jalan-jalan disana, Cantika sangat ramah tamah sekali, energi positif dan penuh senyum sangat friendly dan membuat kami semua tidak canggung. Sesampainya di rumahnya yang sangat khas Bali, kami langsung diantar di ruang untuk tamu, yang sudah ada kamar tamu dan ruang tamu dan ada mini bar, jadi rumahnya memang terpisah dengan rumah tamu ini, bagian rumahnya ada di belakang dengan dapur yang terpisah juga tapi masih dalam satu pagar yang luas.
“Tunggu ya, istirahat aja dulu, kalau mau minum ambil aja di dapur kecil ini ya, sudah disediakan, saya panggil mama dulu.” ujarnya sambil menunjukkan isi kulkas dan kamar kami.
“Iya kaka, makasih ya.” jawabku.
Kami pun langsung rebahan di kasur karna memang sangat lelah dan aku rasanya ngantuk banget, tapi Toby nyuruh untuk di ruang lesehan aja nunggu. Akhirnya aku menuruti sambil membuka kulkas yang isinya banyak banget dan aku mengambil minum untukku dan anak-anak.
“Bagus ya rumahnya, model terbuka gini enak banget,” ujar Ana sambil foto-foto.
__ADS_1
“Iya, nyaman banget.” jawab Toby yang punya inspirasi untuk furniture rumahnya.
“Pintunya cakep bi, coba nanti kita cari pintu kek gini ya, bukannya pintu rumah belum terpasang.” ujarku.
“Iya bagus, kayu ukir cari yang modern dan minimalis.” jawabnya.
Tak lama bu Yani datang dengan sangat ramah menyapa kami semua dan duduk lesehan sambil berkaca-kaca terharu karna ada yang mencarinya, karna sedari menikah sudah lama tidak bersosialisasi dengan orang luar Bali bahkan saudara-saudaranya. Bu Yani juga menanyakan maksud kami sampai datang jauh-jauh mengunjunginya, tak lupa kami juga membawakan buah tangan dan beliau sangat senang dan terkesan karna sudah lama tidak makan makanan khas dari mana beliau berasal. Kami disuruh untuk makan dulu sambil bercerita, karna bu Yani sudah masak banyak sekali untuk kami, bu Yani juga memperkenalkan anak-anaknya sedangkan suaminya sedang bekerja jadi belum datang.
Kami makan dengan hidangan yang sangat lezat sekali sambil Ana yang menceritakan semuanya dari awal sampai akhir, sedangkan Toby bagian melihat sekitar misal ada sesuatu yang aneh dan tugasku adalah mengamati reaksi keluarga ini. Tak lama suaminya datang dan dengan ramah menyapa kami dan ikut bergabung juga mendengarkan cerita ini, mulai dari kaget dan juga berakhir dengan tangis ekspresi bu Yani sampai harus ditenangkan oleh suaminya. Tak lama cucunya menangis karna pengen ikutan nimbrung tapi dilarang oleh neneknya, sampai akhirnya aku coba menggendong dan bermain dengannya sambil melihat ikan koi yang cantik-cantik di dekat ruang makan, rumahnya sangat segar dan hunian yang adem sekali.
“Gimana ya nak, saya tidak menyangka sebenarnya hal ini bisa orang luar sampai tau, padahal dulu itu memang hak waris atas rumah itu selalu tidak untuk satu orang tapi dibagi rata untuk semua keluarga, tetapi saya lebih memilih untuk ikut suami setelah menikah itu, dan setelah saya memaksa untuk pergi dan lepas dari keluarga itu dengan memutus hak waris saya, saya ikhlas, tetapi malah diikuti oleh adek yang lain serta keponakan-keponakan saya, saya tau karna saya masih berhubungan dengan keponakan saya.” jawab bu Yani sambil meneteskan air mata.
“Memang kenapa sampai ada perjanjian harus meninggali rumah itu bu?” tanyaku.
“Lalu adakah yang aneh dengan membangun rumah disampingnya itu?” tanyaku.
“Gak ada nak, memang tidak apa kan masih satu kawasan ya. Hartanti itu menantu yang baik hanya saja dia janda dan anaknya tidak boleh tinggal dirumah itu karna bukan bagian dari keluarga, jadinya mungkin itu janji turun menurun yang dilanggar Hartanti dengan kontrakin rumah lama itu ke kalian.” jawab bu yani dengan tenang.
“Mama gak pernah cerita ini sama aku?” Tanya Cantika.
__ADS_1
“Kalau mama cerita mama takut pandanganmu tentang mama akan berubah nak.” jawab bu Yani.
“Lalu adakah yang bisa kami lakukan untuk memutus gangguan dari keluarga itu bu?” Tanya Toby.
“bisa , yaitu dengan pindah kota sepertiku, tapi kalian jangan sampai berkorban hanya demi itu, itu sangat melelahkan.” jawabnya.
“Lantas adakah cara lain?” tanya Ana.
“Hmmm… kalian bisa menemukan surat warisan turun temurun itu lalu melenyapkannya.” jawabnya dengan nada lirih dan pelan seakan-akan takut ada yang mendengar.
“Dimana itu bu?” tanyaku.
“Setahu saya nak, kakek saya itu selalu menyimpan apapun di ruangan bawah tanah, kan jaman dulu masa penjajahan ada ruang bawah tanah untuk mereka berlindung.” jawabnya.
Seketika kami saling bertatapan dan tersenyum dalam hati namun juga takut karna ini sangat menyeramkan.
“Ada dimana itu bu ruangannya.” tanyaku.
“Dibawah pohon mangga. Kalian bisa menggambarkan denah rumah itu saat ini? “ tanya bu Yani.
__ADS_1
“Bisa,” jawabku dengan semangat dan menunggu Cantika untuk mengambilkan kertas dan pulpen.
Lalu aku menggambarkan denah rumah Broto Seno.