
Saat sudah sampai dan ternyata rumahnya sangat sepi, lalu kami tanya tetangga sebelah katanya memang sedang gak dirumah sudah beberapa hari, jadi mungkin kalau gak di rumah sakit ya ada di rumahnya yang lain, kami pun disuruh masuk untuk istirahat tapi aku langsung pulang aja tanpa mampir, sebenarnya bisa cari informasi ke mereka tapi nanti jadi panjang dan kemana-kemana, jadi aku mencari gorengan di warung si mbah yang pernah Aca beli, eh ternyata lagi tutup juga, akhirnya kami memutuskan untuk ke rumah kakek yaitu kakek keturunan sahabatnya pak Broto tapi juga masih besan sih.
Kami datang kesana dengan posisi lupa gak bawa buah tangan jadinya agak sungkan tapi diterima dengan baik oleh kakek dan katanya juga sampai mimpiin kami karna gak tau kabar kami bagaimana, kami ceritakan situasi kami saat ini lalu kakek terdiam dan menyuruh kami untuk minum dulu kopi yang disuguhkan karna cerita terus nanti kehausan. Kakek bilang kalau memang diceritakan mereka adalah keluarga yang dermawan dan bisa memanusiakan manusia yang ekonominya dibawah mereka, jadi memang orang awam akan nampak kalau beliau ini sangat baik seakan tak ada celah kesalahannya, kakek juga kadang mampir melihat mas Teguh kalau lewat depan rumahnya dan nampak sudah mulai sehat dan baik-baik saja, warga sekitar juga kadang menengok karna memang orangnya sangat ramah, kakek juga selama masuk di rumah itu suasananya memang buruk dan sedikit sesak mungkin karna energi balas dendam yang begitu kuat.
Kakek memberikan barang peninggalan jaman dulu berupa kenang-kenangan dari pak Broto kepada sahabatnya yaitu berupa cangklong atau pipa rokok jaman dulu yang mungkin bisa membantu jika ingin bertemu pak Broto harus punya barang yang mungkin dia kenal. Kami pun pamit pulang karna sudah jamnya kakek untuk istirahat siang, padahal kakek tidak mengusir sih cuma dikasih tau anaknya kalau kakek memang harus banyak istirahat. Dalam perjalanan balik kantor kami mampir dulu untuk makan pangsit di daerah kampung asri dan pangsitnya enak banget dan murah lagi.
“Agak ribet ya Roy,” ujar Toby.
“Iya, kita kasih pipa ini ke Ana aja,” jawabku.
“Mampir ke Ana dulu aja, takut juga aku megang ini.” jawab Toby.
“Iya… terus besok berangkat jam berapa? Padahal selain Ana ada Toby yang bisa ngeliat sekarang gak ada lagi.” jawabku yang seakan kehilangan dan sedikit penyesalan.
“Maaf yak, aku pasti bantuin kalau ada apa-apa, walaupun dari jauh gak ngefek karna aku juga gak punya kekuatan apapun.” jawabnya.
__ADS_1
Setelah selesai makan dan bungkusin pangsit buat Ana dan ibunya, saat sampai disana ternyata lagi sepi, karna ibunya dan karyawannya lagi liburan sehari, karna karyawannya pengen liburan bareng keluarga dan ramai-ramai jadinya diturutin sama ibunya Ana.
“Kalian dapet ini beneran dari kakek di kampung asri?” tanya Ana.
“Iya, kenapa?” tanyaku.
“Gak papa, tapi emang kuat sekali seakan pemberian kenangan sekaligus kasih sayang,” jawab Ana.
“Emang itu kado,” jawab Toby.
“Gak ada, biasa aja.” jawabku.
“Berarti coba si Aca yang pegang, kali aja dia bisa melihat masa lalu kek dulu itu,” jawab Ana
“Gak!!,” jawabku dan Toby berbarengan yang membuat Ana terkejut sekaligus kami berdua juga kaget karna sedikit membentak.
__ADS_1
“Iya okey, deal ku kasih ibuku aja,” jawab Ana dengan muka gak enak.
“Makasih ya pangsitnya, boleh tolong ambilin piring dibelakang gak? Sama ada kue-kue ambil aja,” jawab Ana.
“Okey siap nyonya,” jawab Toby dan berjalan ke dapur.
“Roy, apa-apaansih! Kalau suka jangan nampak gitu juga kali,” bisik Ana.
“Ya itu spontan aja na,” jawabku juga berbisik.
“Ah bikin kesel,” bisik Ana.
“Maaflah,” jawabku berbisik.
Lalu Toby datang dan kami makan kue yang enak sekali sambil ngobrol masalah pipa ini yang katanya Ana cukup kuat kenanganya dan kami semua berharap bisa bertemu dengan pak Broto tanpa harus melihat Asmirah dulu, karna bakal runyam kalau sama Asmirah dan makin gak jelas, aku juga cerita tentang suara sapu lidi malam-malam padahal aku yang nyapu ternyata ada suara begitu juga di malam tertentu padahal aku cuma sekali aja nyapunya, dan kata Ana itu memang mitos tapi juga adanya makhluk spiritual tapi kalau denger jangan cemas, biasa aja selama mereka gak ganggu, kalau ganggu kan berarti kekuatannya banyak sekali sampai bisa ganggu dan menampakkan diri. Karna sudah sore kami berdua wajib kembali ke kantor dan Toby juga ngelaporin dengan gimana perkembangan Adam selama ini dan ternyata Adam cukup pintar dan aku juga tau kalau Adam memang pintar dan kerjanya bagus, aku juga menyarankan Toby agar langsung pulang aja istirahat karna besok udah harus perjalanan jauh walaupun naik pesawat cukup satu jam tapi kan tetap aja jauh dan beda suasana, lalu dia mengiyakan.
__ADS_1
Sesampainnya di kantor Toby langsung pulang dan bilang sama Aca kalau habis kantor dia ditunggu mama dan mbahnya Toby dirumahnya, dan Aca pun mengiyakan dan aku hanya melihat mereka dengan perasaan campur aduk, antara kasihan dengan Aca atau kasihan dengan diriku sendiri. Aku melihat tumpukan kertas di mejaku langsung pusing seketika, aku harus melihatnya dengan seksama dan mengeceknya dengan sangat baik dan teliti, kalau gak bisa gawat, sampai waktunya pulang pun aku masih sibuk mengecek dan belum kelar-kelar, sedangkan yang lain sudah kusuruh pulang, tapi Kris menemani dan membantu. Dia merasa berterimakasih dan meminta maaf juga, undangan dia juga katanya udah pesan dan sekaligus minta pendapat tentang pernikahannya jadinya makin lama lah ini pekerjaan sampai akhirnya selesai dan pulang dengan lelah. Aku langsung pulang dan melihat Arin lagi pesan sate di depan rumahnya dan aku pun juga berhenti untuk pesan juga dan pamit sama si abang mau ganti baju dulu. Lalu makan lah kami di depan rumah Arin sambil ngobrol tentang sekolah ku dulu.