Rumah 7 Turunan

Rumah 7 Turunan
145. Another Day


__ADS_3

Suatu hari di mimpiku mungkin ini penyebutannya lucid dream dimana kita sadar kalau kita sedang berada di alam mimpi dan akan ingat apa yang terjadi seolah-olah memang ada didunia nyata. Aku disini berpenampilan sama sebelum aku tidur hanya saja aku disini sangat senang karna bisa melakukan apa saja termasuk menyapa orang di mimpiku dan makan makanan di tungku yang mereka sedang masak dengan cara pakai kayu tempat bakaran, aku juga makan dengan lahap dan mereka yang ada di mimpiku juga bersikap biasa aja, sayangnya aku tak membawa HP rasanya ingin memfoto momen indah ini.


Bagaimana orang berinteraksi dengan baik karna tak ada HP dan komunikasi mereka juga baik dan santun. Setelah makan aku akan menyapa pak Broto saat aku cari-cari ternyata beliau ada di depan rumahnya sedang berdiam diri dan aku kaget karna ini seperti bukan pak Broto yang aku lihat lagi, ini pak Broto versi muda yang sedang menunggu ibunya memasak dan dia sehabis mencari kayu, dilihat dari tangganya yang kotor, lalu aku menyapanya.


“Pak Broto,” ujarku.


“Pak? Saya masih muda nona, apa yang nona maksudkan?” tanyanya dengan nada yang enak.


“Maaf, apa benar anda namanya Broto seno?” tanyaku.


“Dari mana nona tahu?” tanyanya.


“Tentu saya tahu, apa yang sedang ibu masak? Kenapa aromanya harum dan enak,” tanyaku.


“Sedang memasak sayur, masakan ibu saya memang enak, jika anda mau mari makan bersama, saya akan menyiapkannya, tunggu yaa saya bilang ibu dulu,” jawabnya yang terasa sekali kalau pak Broto ini orangnya sangat hangat.


Lalu aku kebelakang dan ikutan makan dengan mereka padahal aku sudah makan dan entah mengapa melihat pak Broto dan ibunya sangat hangat dan penuh perhatian sangat senang dan teduh melihatnya, sangat terasa sekali kasih sayang seorang ibu kepada anaknya dan sebaliknya, entah bentuk simpati dan menjunjung tinggi kesopanan, lalu aku membantu pak Broto sedang memotong pohon bambu untuk memperbaiki rumah bagian belakangnya dan aku hanya melihat saja dan tak membantu karna memang tak dibolehkan sama beliau, sementara ibunya sibuk di dapurnya seakan memang dapur adalah miliknya, entah apa yang dibuatnya, memang jaman ini membuat apa-apa memang agak lama, karna memang gak ada kompor. Aku hanya menikmati suasana hari ini dengan nyanyian burung dan rakyatnya yang saling bertegur sapa jika berpapasan, sangat berbeda sekali dengan jamanku, kalau gak kenal ya gak tegur, bahkan kenal pun terkadang gak saling tegur. Sangat beda sekali vibesnya memang, dan entah mengapa aku menyukai vibes ini.


Yang aku sadari kain jarik yang dipakai ibunya pak Broto aku pernah melihatnya, entah mengapa terasa tak asing namun aku lupa pernah melihat dimana.


“Apakah bapak kamu bekerja?” tanyaku.


“Iya, beliau menjadi buruh dagang dan memang jarang pulang.” jawab pak Broto muda.


“Kapan kiranya pulang?” tanyaku.


“Tidak pasti, karna buruh jarang sekali punya waktu untuk pulang,” jawabnya sambil tetap memotong pohon bambu.


“Apakah kamu anak satu-satunya?” tanyaku.


“Tidak, ibu saya sedang mengandung adik saya saat ini,” jawabnya sambil tersenyum dan membuatku kaget, bagaimana bisa karna aku gak pernah bertemu adiknya selama ini.


“Benarkah? Tak kelihatan atau memang masih beberapa bulan?” tanyaku.


“Baru tiga bulan hitungannya, saya sangat bergembira dan berharap adik saya perempuan.” jawabnya dengan senang.


“Bapak kamu baru saja pulang kalau gitu?” tanyaku.


“Sekitar 4 bulan lalu pulang dua minggu setelah satu tahun tidak berjumpa.” jawabnya tenang.


“Apakah kamu merindukannya?” tanyaku.


“Tentu saja, terutama ibu saya yang suka menangis karna khawatir dan juga takut,” jawabnya sambil menoleh ke ibunya.

__ADS_1


“Maaf, umur berapa kamu sekarang?” tanyaku penasaran.


“Saya umur 14 tahun, saya juga sedang belajar membaca dan menulis, ibu saya juga belajar.” jawabnya senang.


Lalu beliau memperlihatkan apa yang dia bisa dan menulisnya di tanah dengan batu, dia memperlihatkannya dengan bangga dan aku jadi sedih karna biasanya cuma corat-coret di pasir kalau ke pantai dan sedangkan di zaman ini corat-coretnya di tanah, hanya mengandalkan batu tapi bisa sebahagia ini perasaannya dan membuatku terharu dan juga entah perasaan apa yang berkecamuk saat ini. Mengamati pak Broto dengan gayanya yang berbeda saat muda dan juga bagaimana sikap dia yang memang baik, ramah dan hangat. Masih tetap sama saat dia tua dan sudah memiliki anak, pantas saja anak-anaknya lengket dengan bapaknya karna beliau sangat hangat, lahir dari keluarga yang hangat yaitu ibunya. Sedangkan Asmirah sangat dingin dan penuh tata tertib kepada anak-anaknya makanya semuanya lebih dekat dengan bapaknya.


Lalu datanglah teman pak Broto yaitu sahabatnya yang sedang mencari daun pisang dan mampir buat ngobrol dengan pak Broto, masa muda sahabatnya ini memang sangat ceria dan mereka berteman dengan baik, aku senang dengan pemandangan masa muda mereka seperti ini, tapi anehnya aku lupa dengan nama-nama mereka selain pak Broto, padahal aku diluar mimpiku tentu saja hapal, tapi saat masuk ke mimpi ini rasanya aku lupa, semakin aku ingat semakin bertambah lupa. Aku pamit sebentar ingin berjalan-jalan keliling kampung dan rasanya kampung ini jarak antar rumah memang jauh dan harus melewati hutan baru ada rumah lagi, yang aku ingin cek adalah rumahnya Dipta di zaman dulu apakah sudah ada atau bagaimana, karna banyak sekali rumah yang belum dibangun di zaman ini, terbilang jauh-jauh jaraknya dan gak ada lampu, mungkin kalau malam memang akan horror sekali.


Lalu aku terbangun dengan nyamannya dan aku tersadar kalau aku sudah dirumah padahal aku masih ingin explore suasana jaman dulu dan aku juga belum sempat sampai ke rumah Dipta jaman dulu apakah sudah dibangun atau belum, saat aku keluar kamar ternyata bapak sudah bermain dengan Sunny dan membersihkan pupnya, bapak suruh aku beli bubur ayam aja karna lagi pengen sarapan itu, aku pun bersih-bersih ke kamar mandi dan bersepeda beli bubur ayam dan ternyata sudah banyak yang beli lalu bertemu Nilam.


“Hey ca, beli bubur ayam yaa?” sapa nya.


“Iyanih, bapak lagi pengen dan ternyata udah antri aja, kamu beli apa itu?” tanyaku.


“Beli makanan jadi, lagi malas masak ibuku, eh aku semalam lihat story Toby, kalian lagi LDR ya?” tanyanya.


“Story apa ya? Aku aja lupa gak bawa HP nih,” jawabku.


“Story kek screenshot video call dan tulisannya LDR,” jawab Nilam.


“Aku belum lihat, tapi emang dia lagi pindah ke kantor pusat, jadinya ya gini.” jawabku.


Lalu dia menemaniku antri karna dia juga mau nebeng bonceng sepeda kerumahnya, aku tawarin sih biar ada temen ngobrol juga karna aku juga lupa bisanya gak bawa Hp, pasti si Toby udah nyariin. Lalu mengantar Nilam pulang dan kembali pulang ternyata bapak sudah menyiram tanaman ditemani Sunny, hari ini bapak lagi libur jadinya bisa bersantai, lalu kami sarapan bersama dan ternyata hari ini bapak full mau dirumah aja karna sudah lama gak bersantai, bapak mau percantik halaman belakang biar Sunny nya nyaman jadi mau keluar beli kayu dan perlengkapan lainnya, dan aku pun cuma mengiyakan saja, hari ini aku juga bisa bersantai di pagi hari sambil buatin bapak kopi dan ngeliatin bapak gambar rancangannya, setelah itu aku berangkat ke kantor dan ternyata sudah ramai lagi makan kue kukus dibawain sama ibunya Ana karna lagi banyak pesanan dan di bawakan juga kesini, mereka asik ngobrol sambil makan sambil bikin kopi dan aku juga nyicip aja karna masih kenyang juga dan tak lupa balas pesan nya Toby yang sudah banyak itu karna baru juga sempat pegang HP, ternyata Toby pamit diajak bareng ke kantor tadi sama rekannya cewek dan cantik pula, aku cuma balas iya aja toh dia juga akhirnya nebeng bukan jalan sendiri.


“Kamu kenapa?” tanyaku.


“Gak papa kak, saya kembali ke meja saya yaa, soalnya kakak sudah saya chat tapi belum baca,” jawabnya.


“Oke, aku cek, sorry ya Ilmi baru buka HP juga, toh masih pagi kamu udah gercep aja nih, santai aja ya jangan ada ketakutan,” jawabku sambil buka emailnya Ilmi.


Dan aku ngecek kerjanya yang rupanya bakal di diskusiin sama Roy jadinya mungkin dia takut, sepertinya dia sedikit was-was takut kena revisi lagi makanya diperlihatkan ke aku dulu, aku sih ngeceknya udah oke sih, tapi ada sedikit perbaikan dan setelah perbaikan itu aku suruh dia print dan langsung ke Roy aja, karna aku mau keluar ke toko laptop jadinya aku gak bisa stay di kantor hari ini.


“Yar, jam 11 ikut aku ke toko laptop ya,” ujarku kemeja Tiar.


“Iya kak, mau beli laptop?” tanyanya.


“Iya, bingung mau laptop apa tablet, ini aku mau beli buat kamu biar enak ngerjainnya dan ini bisa dibawa pulang buat inventaris kantor, jadi tolong dijaga ya,” jawabku.


“wah , takut saya kak,” jawabnya.


“Gausah takut, laptopmu udah gak kuat kan itu, makanya aku dapet laporan kamu sering berangkat pagi ke kantor, karna disini kamu bisa pake PC, kalau kamu kualahan dan ngerjain dirumah juga susah, jadi mending kamu ku kasih kepercayaan pegang inventaris kantor,” jawabku.


“Makasih ya kak,” ujarnya.

__ADS_1


“Nanti kamu lihat, spek yang cocok ya, apa mau tablet kek punyaku itu, bisa buat gambarnya enak banget, itu coba ambil di mejaku dan lihat, atau kek laptopku juga di meja lihat aja, itu milikku pribadi tapi kantor perlu punya juga,” jawabku.


“Iya kak,” jawabnya sambil berdiri dan lihat dimejaku, sedangkan aku ke ruangan Roy minta uang buat beli laptop atau tablet, dan dia langsung mengiyakan dan suruh Ambar buat ngasih kartunya kantor ke aku.


“Enak bener ini minta langsung dikasih gak pake proposal,” canda Ambar.


“Yang minta kan bos, hahaha… toh juga buat keperluan kantor,” jawab Roy.


“Gak gitu juga Roy, keperluan wajib ini,” jawabku.


“Iya iya, wajib. Si Tiar bisa dipercaya gak, nanti dijual atau ilang atau rusak,” jawab Ambar khawatir.


“Udahlah percaya aja,” jawabku keluar dari ruangan Roy dan menemui Tiar.


“Gimana yar, kamu lebih prefer yang mana?” tanyaku.


“Terserah kak Aca aja,” jawabnya.


“Loh jangan terserah, kan kamu yang pegang.” jawabku.


“Iya kak aku bingung,” jawabnya.


“Kamu udah nyoba kan? Kalau gitu nanti dilihat langsung di tokonya aja yak,” jawabku.


“Baik kak,” jawabnya.


Lalu aku lanjut dengan kerjaanku sambil nunggu jam 11 siang, mau jalan jam 11 karna mau sekalian makan diluar juga dan pengen kenal pribadi Tiar juga, aku harus dekat dengan di visiku sendiri agar lebih bonding. Sudah jam 11 siang aku meminta Tiar buat keruangan Roy pinjam kunci mobil karna sangat panas sekali rupanya cuaca ini, lalu kami berdua jalan dan aku menyetel lagu dan lagu terakhir yang di dengar Roy adalah lagunya the weeknd yang save your tears dan aku jadi merasa sedih dengan perasaan Roy yang berpura-pura baik-baik saja saat ini, lalu seperti biasa aku nyanyi sambil nyetir entah mengapa itu sangat enak dan juga nyuruh Tiar buat nyanyi dan tanya-tanya genre lagu dia apa, pokoknya hal-hal biasa yang ditanyakan agar semakin bonding.


Akhirnya sampai di tempatnya dan mulai memilih dan melihat kegalauan dia dan rasa senangnya dia, aku juga membeli hardisk juga, dan akhirnya dia memilih tab yang multifungsi seperti punyaku, lalu kami mampir untuk makan dulu, lalu beli ice cream karna panas-panas enaknya ice cream, dan dia senang karna baru ini kerja dengan vibes yang menyenangkan, dan aku juga menggali tentang latar belakangnya juga, ternyata kehidupan keluarga dia tak baik dan hobinya juga tak disukai keluarga, karna dia punya band dan dia jadi drummernya, band nya juga band-band cadas dan aku suka dengan genre itu makanya aku mau denger lagunya dan keren juga. Aku hanya bisa memberikan banyak-banyak inspirasi dan pengertian, dia harus sering memberikan pengertian kepada orang tuanya kalau hal-hal yang dia sukai itu bukan sesuatu yang buruk. Dia juga tinggal dirumah yang kecil dan ekonomi yang tak stabil membuat keluarganya sering uring-uringan, dan banyak sekali cerita dia, dan aku membelikan roti premium untuk dia bawa pulang dan beri ke keluarganya, buah tangan selepas kerja biasanya membuat keluarga yang dirumah senang, aku menyuruhnya taro di jok motor nantinya biar tak ada iri dikantor.


Sampai kantor ternyata Ilmi sudah ada di ruangan Roy dan sampai Ana bertanya apakah aku terlalu keras dengan divisiku sendiri karna nampak sekali muka Ilmi tegang, dan aku hanya tertawa, gak mungkin lah aku keras ngapain juga, kalau ada salah baru.


“Ca, mana notanya?” Tanya Ambar.


“Buset langsung ditagih,” jawabku dan langsung memberikan nota dan kartu.


“Buset, mahal banget belanjaanmu ca… ca…” ujarnya sambil menggeleng-gelengkan kepala.


“Ya namanya juga belanja, hahaha… biar gak lupa langsung ditagih ya,” jawabku.


“Iya dong dari pana invoice nya ilang,” jawabnya dan kembali ke mejanya.


Dan aku mengajak Ana ke pantry aku cerita tentang lucid dream ku dan membuat Ana kaget, apakah itu beneran lucid dream atau aku kebawa lagi, tapi aku meyakinkan dia kalau itu cuma mimpi.

__ADS_1


__ADS_2