
Akhirnya tak lama Roy datang dengan membawa berbagai macam cemilan dan juga kopi, sepertinya dia tau apa yang aku butuhkan yaitu mendengarkan ceritaku sambil ngemil, hal simple yang selalu aku lakuin, aku cukup terharu. Langsung saja dia duduk dan membukakan kopi yang dia beli dan memberikannya padaku dengan tatapan yang sangat tulus nampaknya, entahlah aku tak mengerti apakah bagus untuk bercerita padanya, padahal dia sudah mengaku menyukaiku, apakah pantas tapi diakan sahabatku sekaligus bos, jadi harusnya tak masalah jika aku bercerita padanya.
"Ca, ambilin gelasnya dong, " ujarnya yang heboh keluarin segala macam makanan.
"Iya-iya sabar," jawabku sambil jalan ke dapur.
Lalu aku memberinya gelas dan dia tuangkan kopi yang dia beli itu dan menyuruhku membuka makanan yang dirasa aku pengen makan.
"Jadi gini Roy," ujarku yang membuat suasana tiba-tiba menjadi tegang dan sunyi.
"Iya bentar-bentar kok jadi horor gini suasananya, aku minum dulu," jawabnya sambil minum dan aku pun ikut minum.
"Gini,bisa gak kamu carikan kantor baru?" tanyaku.
"Buat apa?" tanyanya.
"Aku mengakhiri hubungan sama Toby, jadi aku gak mau ada sengketa apapun lebih baik MMA pindah, dan aku balikin sertifikat itu ke dia biar dibalik nama," jawabku dengan tenang.
"Hah? tiba-tiba? dan ini udah dipikirin bener gak nih?" tanya Roy yang kaget.
"Iya, aku udah gak bisa lagi sama dia, menurutku apa yang dia lakukan disana sangat buruk dan aku gak bisa nerima itu," jawabku.
"Dia ngapain? kalau mabuk-mabukan dugem ya udah biasa kali kehidupan disana," jawabnya.
__ADS_1
"Terus kau suruh aku memaklumi? hah? kau belain dia? " sontak aku langsung ngegas emosi.
"Bukan itu Acaaaa… tapi kehidupan disana kan emang seperti itu, dunianya emang beda, coba kalau kamu nonton drama kan pasti ada moment minum bersama, karaokean dan banyak macem," jawabnya berusaha menenangkan.
"Iya, dia minum-minum party, karaoke sewa cewek-cewek telanjang, hal-hal yang menjijikkan yang bisa dihindari tetapi dia memilih untuk jadi bodoh," jawabku dengan nada sedikit bergetar.
"Serius? " tanya Roy.
"Iya, bahkan mungkin aja dia nidurin partner kerjanya, " jawabku berusaha tegar karna aku sedang mengumpulkan bukti-bukti.
"Anjing!! gak habis pikir aku si Toby bangsat!" jawabnya emosi dan langsung minum kopi banyak.
"Kalau kamu maunya gitu, sementara kantor pindah ke rumahku aja lebih aman, bagian bawah sudah cukup luas, kalau mau istirahat biar diatas, " jawab Roy dengan mata yang merah.
"Nih, minum dulu sama nih makan dah makan yang banyak, " jawab Roy sambil menyuapiku dengan paksa.
Lalu kami berdua hanya diam dan Roy entah berpikir apa, tapi suasana sepi kami hanya makan dengan tenang.
"Aku marah sekali dan gak nyangka Toby bakal kek gini, aku bakal urus masalah kantor dan pindah juga, kamu coba pamit ke mamanya Toby baik-baik tapi bilang bapak dulu, biar bapak juga tau, jangan sendirian ke rumahnya mamanya Toby," ujar Roy.
"Iya Roy, tolong banget ya, dan gak usah kasih tau anak-anak dulu, gak perlu juga marah-marah ke Toby, aku pengen pergi dari hidupnya dengan tenang, mau dia menolak dan meminta aku ga akan luluh, keputusanku udah bulat, " jawabku sambil menyeka air mata yang sudah penuh rasanya.
“Iya kamu wajib tenangin diri dan berpikir ribuan kali, karna kalau sudah begini bukan cuma tentang kamu dan Toby aja, tapi juga orang tua kalian, kalau memang kamu sudah yakin jangan sampai menyesal di kemudian hari.” ujar Roy menenangkanku sambil menepuk pundakku.
__ADS_1
“Iya,” jawabku singkat.
Setelah itu Roy pulang dan dia juga meninjau pindah kantor dan keperluan yang lainnya, sedangkan aku berusaha memikirkan bagaimana bilang ke bapak dan bilang ke mamanya Toby, tapi memang aku sangat-sangat tidak bisa memaafkan Toby dan berusaha mengerti dia lagi, karna sudah keterlaluan apa yang dia perbuat di belakangku, hal sepele bagi orang tapi sangat menyakitkan bagiku. Aku tau dia gak akan mungkin selingkuh seperti papanya tapi apa ini, dengan banyak bohong begini, berfoto vulgar dengan rekan kerjanya, bahkan bisa menginap bersama, mau heran tapi kota metropolitan. Aku berpikir sampai ketiduran dan bapak membangunkanku karna sudah malam dan aku lupa nyalain semua lampu karna memang ketiduran, lalu bapak langsung aku ajak ngomong serius di ruang makan sambil makan malam.
“Pak, maaf yaa… aku putus sama Toby,” ujarku sambil berusaha bercerita dengan tenang tanpa ada tangisan atau drama apapun.
“Iya, bapak tau, Toby tadi menghubungi bapak,” jawab bapak dengan wajah bingung.
“Kamu yakin putusin Toby? Dengan alasan kamu capek dengan kebohongannya untuk melindungi perasaanmu?” tanya bapak.
“Bukan hanya itu pak, ada sesuatu yang lain yang susah untuk aku ceritakan,” jawabku.
“Kamu harus tau, ini mungkin sebuah ujian, karna berumah tangga juga tidak gampang, bisa jadi ini latihan untuk hubungan yang lebih serius,” jawab bapak.
“Jadi bapak melindungi Toby?” tanyaku.
“Bukan melindungi, tapi bapak cuma memberitahu aja, kalau kamu jangan gegabah dalam mengambil keputusan, karna Toby bapak lihat sangat menyukaimu, biarkan lelaki yang lebih mencintaimu maka kamu akan bahagia,” ujar bapak.
“Kalau memang dia menyukaiku dan menjagaku dia gak akan berbuat seperti itu pak, dia akan tegas dengan batasan-batasan dan apa yang harus dilakukan serta bagaimana tanggung jawab dia, tapi dilihat sampai sini dia selalu saja mengulangi kesalahan yang sama, aku udah berusaha membiarkan tapi susah sekali, dia tetap saja gak ngerti.” jawabku kesal.
“Toby selingkuh?” tanya bapak.
Lalu aku memberikan semua bukti yang sudah aku kumpulkan kalau dia memang sangat tidak respect denganku, mulai dari kebohongan-kebohongan kecil sampai besar, bagaimana dia mabuk dan peluk-peluk cewek lain, bahkan tidur dalam kasur yang sama, meskipun mereka gak ngapa-ngapain tapi menurutku ini bentuk dia gak peduli denganku, bahkan sering sekali partner kerjanya ini bikin-bikin story seakan mereka memang pasangan, padahal sudah nampak sekali kalau postingan Toby ada aku, mungkin aku kalah cantik dan bergaya tante-tante dengan baju-baju ketat dan makeup yang cetar dan body yang bagus, mungkin karna laki-laki akan selalu melihat penampilan yang tidak ada di pasangannya. Setelah aku memberitahu bapak dan bapak mengerti bapak menghormati segala keputusanku dan bapak akan membantu menyampaikan ke keluarga Toby dan kata bapak aku tak perlu ikut, biarkan ini jadi pembicaraan antar orang tua dulu, kalau sudah akan bicara dengan aku dan Toby kalau dia bisa pulang kesini.
__ADS_1