Rumah 7 Turunan

Rumah 7 Turunan
153. Castle


__ADS_3

Dia hanya membangun istananya tanpa membangun pondasi dan dinding yang kuat. Dia hanya ingin menjadikanku ratu untuk mengisi istananya, sedangkan dia hanya duduk di singgasana yang megah dan merasa cukup tinggi karna memiliki segalanya, dan mencekik ratu jika hanya terdiam dan tak bisa mengikuti alunan lagu yang sedang dia mainkan. Dia hanya menginginkan istana itu terisi tanpa mengerti dan melindungi istananya dengan baik, bangunan tak kokoh karna tak dibangun dengan serius, hanya ingin memiliki istana dan ratu sendiri dan membuktikan pada papanya kalau dia adalah raja yang kuat, semua ini hanya tentang balas dendam dan pembuktian saja, aku hanya masuk dalam ceritanya, karna dia merasa aku cocok sekali mendampingi dia sebagai raja.


Itu adalah hasil dari pikiranku yang termenung sepanjang malam melihat banyaknya chat dia dan makian karna aku gak tau diri dan gak tau diuntung, sudah diberikan kenyamanan malah memberontak, beginilah sang raja yang berkuasa, mencekik ku tapi tak berharap mematikanku, lantas salahkah jika aku memutuskan pergi secara terang-terangan, bukan kabur tapi pergi secara gentle, bukan malah bersembunyi dibalik kegiatan pekerjaan yang begitu padat, semakin malam semakin yakin dengan pilihanku, aku tak ingin menjadi ratunya dan mendampingi raja yang begitu tinggi hati, sungguh kaget aku membaca chatnya yang begitu kasar karna tidak terima dan marah jelas karna dimarahi mamanya. Miris sangat miris, ingin membangun keluarga sendiri tapi malah blunder jadinya.


Tengah malam Roy telepon tapi aku ragu untuk mengangkatnya, dan akhirnya aku angkat.


“Kenapa Roy?” tanyaku.


“Teman-teman sudah tau karna diteror Toby dan diceritain Toby tentang kamu yang mutusin dia sampai bapak datang kerumah mamanya,” ujar Roy.


“Yaudah biarin aja, yang terjadi maka terjadilah.” jawabku santai karna sudah tak punya tenaga lagi.

__ADS_1


“Masalahnya sekarang anak-anak takut dan khawatir dengan keadaanmu, Toby marah-marah tapi Ana juga marah dan menyuruhnya dengan gentle untuk datang kemari, tapi dia gak bisa malah semakin marah,” jawab Roy.


“Keren Ana emang selalu didepan,” jawabku sambil sedikit tersenyum bangga.


“Rasanya pengen aku hajar si Toby, aku gak nyangka dia bisa seliar ini, aku pikir hubungan kalian renggang karna LDR, ini malah masalah yang parah.” jawab Roy.


“Gausah habisin tenaga dengan marah-marah, biarin aja, mungkin sudah jalannya.” jawabku chill.


“kemana?“ tanyaku.


“Ke Gunung mau gak?” Tanya Roy.

__ADS_1


“Keknya itu pasti gak dibolehin sama bapak,” jawabku.


“Kemana yak enaknya, ke pantai?” tanya nya lagi.


“Gak deh, aku lagi pengen makan dengan suasana persawahan aja, carikan yak, besok jemput aku jam 6 pagi, on time, oke goodnight.” jawabku mengakhiri telepon dan bersiap nyalakan alarm dan tidur.


Aku tau pasti Roy kesal sekali dengan jawabanku tapi aku emang cuma pengen makan aja sih dengan hamparan sawah yang enak banget pastinya, lalu aku tidur dan alarm sudah berbunyi jam 5 pagi lalu melakukan rutinitas pagi sampai akhirnya mandi dan ternyata jam 6 kurang Roy sudah nunggu di depan dan bapak bingung apakah aku ada kerjaan pagi-pagi tapi aku cuma bilang bapak kalau mau menenangkan pikiran dan ternyata Roy membawa motor bukan mobil aku jadi harus berganti celana yang nyaman karna aku memakai dress dan membuat Roy gak enak karna Roy emang berencana pakai motor biar bisa menghempaskan angin, dan aku hanya tersenyum mendengar jawaban dia yang sweet sekali. Aku naik dengan setelan baju olahraga yang santai, Roy pun juga begitu memakai setelah santai tanpa ada outfit-outfitan yang dia seperti biasanya selalu stylist.


Dalam perjalanan aku senang sekali karna sudah lama rasanya tidak menikmati perjalanan yang begitu menenangkan, sudah lama tidak ada yang memboncengku, biasanya memang sendirian sih, rasanya sangat segar karna udara pagi yang menyegarkan dan dingin membuat sejuk nan aroma-aroma pagi yang manis dan Roy membawaku ke daerah pedesaan yang semakin dingin dan melihat indahnya matahari mulai naik, kami tak berbicara sepatah katapun, hanya diam menikmati jalanan yang tak pernah aku ke daerah sini, aku senang sangat senang sampai lupa untuk mengabadikan dalam bentuk foto saking bahagianya hari ini setelah sekian lama, memang obat dari segala obat dari jenuh dengan pikiran dan perasaan adalah keluar menepi dan hirup udara segar. Lalu Roy mengajakku mampir beli makan dipinggir jalan ada seorang nenek-nenek berjualan bubur sumsum, dan kami berdua memakannya langsung disitu, rasanya enak tidak terlalu manis dan rasanya sangat pas, Roy mengeluarkan HP nya dan mulai memotret moment-moment disini, dia juga begitu ramah mengajak ngobrol nenek tersebut, senyum nenek itu sangat tulus dan terasa menenangkan jiwaku yang telah lama suram. Selepas itu kami lanjut berjalan-jalan lagi, melewati persawahan dan disuruhnya aku turun karna Roy ingin memotretku, dan aku pun menurutinya karna kapan lagi aku punya foto di cuaca secantik ini.


Kami tertawa seru karna ada anak kecil yang terjatuh karna dia sedang memancing sesuatu, lalu Roy juga memotretku diam-diam dengan anak kecil itu yang sedang asik disawah, dengan ibu-ibu yang menanam padi dan banyak lagi, karna kami berjalan menyusuri sawah dan motornya ditinggal di jalan sana. Roy hanya menatapku teguh seakan dia yang paling bahagia hari ini karna aku sudah lama memang tidak jalan dengannya, biasanya dari dulu jalan bertiga sama Ana tapi kalau Ana sibuk dengan katering ya aku sama Roy aja. Dia nampak bahagia sekali dan izin juga mau posting di story IG nya dan aku membebaskannya. Saat menyusuri sawah ini diujung ada sungai dan kami pun beristirahat di pinggir sungai itu, ternyata dalam tas Roy sudah ada cemilan dan minuman, saat dia mengeluarkannya aku tertawa terbahak-bahak karna dengan ekspresi lucu saat mengeluarkannya seperti memberi makan kucing yang sedang kelaparan. Dia hanya tersipu malu dan bingung kenapa aku menertawakannya, memang ya aku mau jaga jarak dengan Roy agar dia tak sakit hati atau terluka perasaannya tetapi teman tetaplah teman, mengingat seberapa lama kami berteman, aku berharap dia tidak memanfaatkan kesempatan ini untuk masuk kedalam hatiku dan berupaya menyadarkan ku tentang perasaan terdalamnya.

__ADS_1


__ADS_2