
Aku langsung melahap makanan di meja makan dan bersiap bersih-bersih rumah lalu mandi agar terasa lebih segar dan entah mengapa hari ini aku sangat bahagia dengan situasi percintaan yang mulai membaik meski belum sepenuhnya hanya saja ini sudah lebih dari cukup untuk sebuah permulaan. Aku merasakan kalau keajaiban akan datang dan semua akan baik-baik saja. Semua kepahitan akan berlalu dan akan membaik bagi semuanya. Sesuatu yang menyeramkan tak akan lagi datang.
Waktu berlalu setelah bersih-bersih rumah dan mandi ternyata aku ketiduran lagi dan entah mengapa obat ini membuatku sangat ngantuk dan merasa nyaman untuk tidur. Saat melihat hp ternyata sudah jam 12 siang dan ada notif dari anak-anak dan tentunya juga dari Dina yang minta maaf sudah membuat suasana gak nyaman kemarin. Aku hanya membalas iya saja karna sungguh aku tak ingin meladeninya karna aku sudah cukup dengan satu wanita dan tak berencana untuk nambah lagi atau menyakiti yang lain. Karna berkaca dengan keadaan mamaku yang sangat berjuang dengan kesakitannya dalam menyembuhkan luka batin dan perasaannya.
Ternyata Aca tak mengirimiku pesan sama sekali, mungkin saja dia sedang sibuk meeting dan desain-desainnya yang harus segera final acc dengan client. Lalu tiba-tiba Ana datang tanpa pemberitahuan, karna pintu rumah tidak dikunci dia langsung masuk pintu dan masuk ke kamarku membuat kaget dan kesal.
“Na … kenapa bikin kaget sih?” tanyaku.
“Sakit apa kau nih ? perasaan kemaren baik-baik aja?” ujar Ana yang merasa curiga.
“Gapapa, perutku lagi bermasalah, “ jawabku.
“Bukan gara-gara hal astral kan ?” tanya nya.
“Gak ada hal semacam itu,” jawabku datar.
“Syukurlah, karna suasana kantor yang sedikit sibukkk buangettt dan sangat membuat rusuh, karna ada tamu nya Roy dateng , dia client VIP jadi harusnya ada Toby disana malah gak masuk,” ujar Ana menjelaskan situasi kantor.
“Ya gimana terusan ?” tanyaku.
“Terus ya Roy dan Ambar yang ngurus, Kris sibuk keluar juga, Aca ada meeting penting juga.” Jawab Ana.
“Dan … orang di depanku ini ?” tanyaku.
“Orang di depanmu ini sedang ada dirumah orang sakit,” jawab Ana ngasal dengan muka tidak peduli nya.
“Yaaa… ngapain kemari sih na ?” tanyaku.
__ADS_1
“Ada urusan sama Toby, “ jawabnya yang seakan berbelit-belit.
“Kenapa ?” tanyaku lagi.
“Aku semalem mimpi, dan mimpi ini sumpah serem banget bi,” ujar Ana.
“Aku gak mimpi tuh, tidur dengan nyenyak terus barusan tidur juga nyenyak banget, ini aja baru bangun tidur aku.” Jawabku pamer.
“Huh.. ngeselin banget sih ni cowok,” ujar Ana mulai kesal.
“Coba ceritain mimpimu itu,” ucapku.
“Jadi aku mimpi ada di basecamp lama itu, kita semua masih bekerja disana, masih nginep disana, masih beroperasi lah pokoknya disana itu. Lalu tiba-tiba ada yang aneh yaitu Amini juga ada disana dengan kita bisa berkomunikasi nih sama kita, cuma bedanya memang dunia kita lain, hanya saja dia membantu kita untuk terbebas dari cengkraman keluarganya.” Jawab Ana.
“Gimana bisa bantuin? Orang Amini aja gabisa lepas dari ibunya sendiri.” Jawab ku berpikir pakai logika.
“Amini aja butuh bantuan kita agar bisa lepas dari Asmirah, kok malah bisa mimpi Amini yang bantuin kita, hati-hati bisa jadi itu sebuah tipu daya agar kita percaya.” Jawabku berusaha berpikir dengan tenang.
“Iya bi, betul juga, aku jadi ingat ucapan kakek yang ada di kampung asri, kalau kita bisa saja sekarang ini dalam masa manipulasi, mereka bisa dengan mudah memanipulasi kita dengan kondisi kita yang sedang kebingungan ini.” Jawab Ana.
Lalu tiba-tiba Aca telepon.
“Yaaa ca ?” tanyaku lewat telpon.
“Dimanaa?” tanyanya.
“Di kamar ini, kenapa ?” tanyaku lagi.
__ADS_1
“Yaudah bagus, aku pikir kelayapan.” Jawab Aca.
“Gak dong sayang, aku kan nurut sama kamu, aku habis bangun tidur ini ngantuk gara-gara obat.” Jawabku.
“Iyaa … makan siang sekarang, terus minum obat lagi. Kerjaanmu udah kusuruh Roy untuk handle. Kalau kerjaan remote kantormu satunya aku gatau, usahain jangan capek-capek.” Ucap Aca penuh perhatian.
“Iya ca, “ jawabku yang belum selesai sudah dipotong oleh Aca.
“Udah dulu ya bi, aku mau lanjut ngurusin ini dulu, bye.” Telpon langsung tertutup tanpa menunggu jawaban dariku.
Hal ini membuatku kesal tapi aku cukup menyadari kalau Aca sudah sangat effort untuk menelponku jadi aku hanya perlu bersyukur saja. Ana yang melihat aku tersenyum malu ini dia jadi tertawa terbahak-bahak dan tak kunjung berhenti.
“Dah na, cukup! Ngapain ngakak terus.” Ujarku yang kesal melihatnya.
“Iya habis lucu banget tauk hwahahahah ..” jawab Ana lanjut tertawa semakin menjadi-jadi.
“Udahlah.” Jawabku lemas.
“Makan sono bi, bini mu udah nyuruh makan dan minum obat,” ujar Ana yang ngegodain.
“Yuk makan,” ajakku sambil berjalan ke dapur.
Kami berdua makan siang dengan lahap sambil berbincang langkah apa selanjutnya dan sebaiknya harus cepat bertemu dengan Laras dan Sekar agar bisa mengerti kondisi saat ini dan harus melakukan apa saja. Ana merasa semakin hari semakin tak bisa percaya dengan mereka berdua entah seperti tak percaya lagi karna bisa saja mereka berbohong atau bermain intrik apa gitu. Karna selama ini mereka selalu bermain dengan aman, selalu menjadi manusia dalam keluarganya yang tersakiti, bahkan saudara yang lain saja sudah pindah dan pergi dari kota ini. Mereka sudah melepas hak waris kepada keluarga Laras dan Sekar ini.
Secara logika sangat jarang ada keluarga yang mau melepas warisan terlebih lagi mungkin sangat-sangat banyak dan memilih menjalani kehidupan yang baru dengan keluarga barunya, sedangkan bu Hartanti dan suaminya menetap tinggal di rumah itu, tanpa pernah mencoba menghubungi keluarga lain dan memang mereka mengklaim bahwa hak waris ada dalam keluarga mereka.
Ana dan Aca sempat ingin menghubungi keluarga yang lain karna tau akunnya dari tante Sari yang sedikit mencurigakan juga tetapi akun itu lama tidak aktif jadi Ana menyuruhku untuk mencari akun dia yang bisa dihubungi. Aku merasa menjadi detektif padahal aku hanya seorang IT yang bekerjanya bukan sebagai hacker. Sebenarnya ini sangat merepotkan tapi aku juga ingin menjalani masa depan tanpa ada hambatan dari makhluk lain. Jadi aku harus turut menuntaskan ketidakjelasan ini. Hanya waktu yang berbicara mari kita tunggu saja tanggal mainnya.
__ADS_1
Selesai berdiskusi Ana pamit untuk kembali ke kantor dan dia merasa kenyang dengan bubur buatan Aca ini, Ana juga aku ceritain apa yang terjadi semalam dan dia cukup shock dengan respon Aca yang sangat tenang. Karna jika Ana ada diposisi Aca mungkin hal buruk akan terjadi.