
Malam ini pukul sebelas malam, aku benar-benar sendirian dan satu persatu ruangan aku matikan, namun saat mau keluar entah mengapa lampu di ruang kerja tengah hidup lagi, lalu aku balik lagi karna mungkin aku kecapekan dan lupa, dan aku matikan lagi, beberapa langkah ternyata hidup lagi, disitu aku sudah merinding dan ngeri takut balik badan ada apa-apa yang nongol kan gak lucu, lalu aku telepon Ana tapi gak diangkat, jadinya aku mencoba menenangkan pikiran dan melihat ke arah ruang tengah itu masih saja saklar seperti dimainin, lampu menyala, mati, nyala, mati, aku lihat benar-benar tak ada orang dan gak mungkin ini ulah manusia jelas ini ulah setan, aku duduk di ruang tamu untuk memastikan kalau ini bukan ulah maling atau apapun itu, karna selain itu lututku juga lemas jadi aku duduk, ingin rasanya langsung mengunci pintu tapi sudah lemas duluan, aku memang cupu padahal selama ini dirumah sendirian biasa aja.
Aku coba terus-terusan telepon Ana sampai akhirnya diangkat setelah mungkin sepuluh kali.
“Kenapa sih Roy, gangguin orang tidur aja!” ujarnya dengan suara serak.
“Na, aku mau pulang nih, tapi situasinya tiba-tiba lampu tengah aku matikan tapi dia nyala mati terus-terusan,” jawabku dengan setengah berbisik.
“Serius?” jawab Ana yang teleponnya diubah ke mode video call.
Aku memperlihatkan situasi ini dan muka Ana nampak tegang dan langsung bangun, aku disuruh tinggalin aja kantor sekarang cuekin aja, tapi masalahnya lututku lemas, berdiri pun rasanya tremor dan bener-bener gak bisa aku coba berulang kali. Ana menyuruhku untuk berpikir positif, anggap aja disitu ada Aca yang menyuruhmu segera pulang dengan emosi, jadi aku harus kuat dan benar-benar mencoba untuk tidak lemas. Akhirnya aku bisa berdiri dan berjalan keluar, mengunci pintu dan menuju mobilku dengan sedikit menyeret kaki karna benar-benar terasa berat dan lemas bersamaan.
Aku berhasil masuk mobil dan aku masih video call dengan Ana, dia juga muka kaget sekarang seakan didalam mobil ini aku tidak sendirian, aku melihat di kaca dan aku sendirian aku harus berpikir bagus-bagus aja, jangan sampai parno atau gimana-gimana.
“Roy, bisa mampir ke rumahku gak?” tanyanya.
“Ngapain na? Udah malam juga ga enak lah,” jawabku dengan suara yang seperti tenggorokan sangat kering.
“Dah mampir aja, kalau mampir kamu bakal aman, kalau gak aku gatau ya,” jawabnya seakan memberikan pertanda kalau ini hal yang wajib.
“Yaudah, jangan dimatiin, aku otw kesana.” jawabku dengan datar tapi muka tegang sangat-sangat tegang.
Seperjalanan aku berusaha tenang, Ana pun juga sambil nyanyi-nyanyi agar suasana ramai tidak hening, akupun juga disuruh nyanyi membuatku sedikit panik dan takut bersamaan, padahal kakiku benar-benar berat, seakan dibelakangku juga ada seseorang dan ini benar-benar gak akan lagi aku lembur sendirian. Aku gak pernah mikir akan ada hal aneh di kantor karna kantor benar-benar bersih dan Ana keluarganya sudah memastikan, tetapi kenapa ada kejadian janggal yang seharusnya gak ada. Sesampainya dirumah Ana aku turun dana membuka pagar dan Ana buka pintu depan rumahnya dan aku disuruh masuk menemui ibunya, sedangkan Ana malah berjalan keluar pagar seakan-akan ada yang dia temui.
Aku menemui ibunya yang saat itu sedang membuat kue malam-malam di dapur, dan ibunya kaget dan sudah mendengar cerita dari Ana, beliau menyuruhku minum air putih dan beliau juga menyiapkan aku makan, karna aku bisa sakit karna kurang makan. Aku minum dan aku makan lalu Ana datang dan dia sudah merasa sangat capek dan berkeringat di malam yang terbilang dingin ini.
__ADS_1
“Kenapa na? Apa yang terjadi?” tanyaku dan Ana melihat ibunya seakan memberikan kode yang cuma keluarganya aja yang tahu, Ana pergi pamit mau tidur karna capek sekali, sedangkan aku yang kebingungan hanya disuruh melanjutkan makan sampai habis oleh ibunya Ana.
“Kamu harus ingat Roy, kalau peperangan dengan keluarga Broto juga belum selesai, bahkan kalian juga masih bingung bagaimana bisa ke ruang bawah tanah rumah itu kan?” tanya ibunya Ana.
“Iya buk, lantas apa yang terjadi?” tanyaku.
“Mereka mengirim makhluk halus untuk bisa masuk ke tubuhmu, mereka akan menggerogoti tubuhmu dan membuatmu lebih sakit dan sakit sampai jiwamu dibawah oleh mereka,” jawabnya dengan muka yang serius.
“Astaga buk, kenapa mereka bisa begitu kejam, padahal kami sudah pindah.” jawabku yang kaget dan ngeri.
“Entahlah, ibu juga gak begitu paham dengan keluarga aneh itu, karna otaknya ada di Asmirah, rencana ibu akan ngobrol dengan dia tapi nunggu malam tertentu karna ada malam yang ibu tunggu disitu adalah malam yang membuat mereka lemah,” jawab bu Wulan dengan mata yang terpancar penuh kekesalan.
“Kapan itu ?” tanyaku.
“Ada di bulan tertentu, kami udah itung-itungan tanggal dan sudah ada tanggalnya, tinggal ditunggu aja, tetapi harus mempersiapkan segalanya dengan begitu baik dan gak boleh gagal.” jawab bu Wulan.
“Kalian cukup mendukung dengan doa dan diam saja, tapi Ana ngobrol dengan suruhan Asmirah yang berupa pocong, dia ikut ada diatas mobilmu juga, dan Ana menghilangkannya dengan susah payah, karna Ana sebenarnya takut dengan wujud itu.” jawab ibunya Ana.
“Ih ngeri kali, jadi yang mainin saklar begituan.” jawabku takut.
“Iya, malam ini kamu tidur disini aja, karna saat kamu keluar dari sini bisa aja dia masih ngikut kamu, kan dia gak bisa masuk rumah ini karna sudah dipagari semuanya,” jawab ibunya Ana menyuruhku bersih-bersih kekamar mandi dan bersiap tidur sedangkan beliau masih sibuk dengan pesanan kuenya.
Aku pun sedikit shock dan takut, tapi entah mengapa memang aku merasa aman kalau sudah masuk rumahnya Ana, meskipun disini juga ada tapi makhluk-makhluk baik yang mendiami rumah ini sekaligus menjaganya, aku tidur di ruang tv dan sudah disiapkan bantal serta selimut oleh bu Wulan, dan aku pun bisa tidur dengan nyenyak. Sampai pagi pun tiba aku mendengar Ana yang ribut dengan membuat sarapan dan aku bangun lalu mencari kemana bu Wulan, ternyata ibunya Ana tidur dan Ana yang menyiapkan sarapan yang lumayan banyak, buat nanti para temen-temen ibunya yang bantuin catering makan. Aku pun hanya diam melihat Ana masak dengan porsi yang cukup banyak, sedangkan dia juga nanti bekerja yang cukup menguras tenaga dan pikiran, makanya dia tidak sempat untuk mempunyai hubungan serius dengan seseorang karna memang benar-benar gak ada waktu, setelah bekerja pun dia juga membantu ibunya lagi.
Karna sudah bertahun-tahun dia jalani dan dia merasa biasa aja dan menyenangkan, ibunya juga senang karna memasak memang hobi mereka berdua, sedangkan kakaknya Ana juga sekarang memilih kontrak rumah, padahal sebelumnya ibunya gak setuju, tapi karna ada masalah dengan keluarga Broto ini dan ada bayi jadi ini bentuk untuk mengamankan bayi karna disini energinya bukan main-main. Aku menemani Ana dalam diam sampai akhirnya dia selesai masak dan menyuruhku untuk makan, kami makan bersama walaupun Ana makannya sedikit karna memang katanya kalau masak sendiri tuh jadi malas makan, nanti jam 7 karyawan ibunya bakal datang dan mereka katanya punya grup sendiri jadi datang jam-jamnya sesuai jam pesanan dan banyaknya pesanan, kadang mereka juga datang jam 3 pagi, dan Ana juga udah pesan nanti siang makan siang di kantor kami menu-menunya juga sudah ada jadwalnya, yang bikin Ana dan Ambar dan aku yang menyepakati tapi kebanyakan Ambar yang ACC karna dia gak mau mahal-mahal dan menghemat keuangan kantor.
__ADS_1
“Masalah kemarin itu hal yang fatal ya Roy, jadi anak-anak yang lain harus tau.” ujar Ana.
“Tapi kan kita punya karyawan baru yang di divisinya Aca itu gimana? Dia kan bagian inti juga termasuk.” tanyaku.
“Iya dia karyawan kontrak kan, belum tetap, jadi dia gak masuk di rapat kita, bilang aja kita masing-masing ada ketemu siapa gitu, jadi dia ngurus kerjaan lain dan tetap di kantor, jadi nanti ini langsung ketemu aja semuanya, entar jam-jam makan siang baru ke kantor.” jawab Ana.
“Kalau gitu aku bilang aja ke grup inti kita, dan suruh mereka merapat ke rumahmu ini ya, terus bilang ke grup umum kalau datangnya pada telat.” jawabku.
“Nah, bener, dah sana hubungin anak-anak,” jawab Ana yang lagi males.
Sedangkan aku lupa gak charge HP ku dan aku ngecharge sambil kasih tau anak-anak di grup inti dan mereka sudah penasaran sekaligus takut, mereka juga akan siap-siap ke rumah Ana. aku lanjut makan lalu mandi, keluar-keluar sudah ramai karyawannya ibunya Ana yang sibuk dengan pesanan.
Ana sudah ada di ruang tamu dengan rapi sambil ngemil gorengan pagi-pagi karna ada orang lewat di depan rumahnya, dia emang penikmat pisang goreng dengan kopi dipagi hari, aku pun mencoba dan rasanya emang enak dan lezat. Sampai akhirnya Ambar datang dan langsung menyantap makanan dimeja karna dia gak sempat makan saking penasarannya, tapi nunggu yang lain datang dulu. Sampai akhirnya semua teman-teman sudah berkumpul ruangan menjadi harum karna parfum mereka sangat menusuk hidung semua.
“Ada apa Roy?” Tanya Toby.
“Kemarin aku diganggu pocong.” jawabku yang sontak membuat mereka semua kaget dan banyak sekali pertanyaan mereka.
Jadi aku langsung menceritakan dengan detail cerita versiku dan Ana juga menceritakan secara detail versinya Ana, mereka semua tercengang sekaligus takut kalau ada penampakan pocong karna selama ini gak pernah sosok pocong yang muncul, biasanya kan bentuk wanita yang menyeramkan, Aca pun jadi mulai parno dan bukan hanya Aca tapi semuanya, serta Toby yang cukup bisa melihat itu minta maaf karna gak kemarin gak bisa temani aku karna dia ada urusan dengan keluarganya. Aku pun tidak mempermasalahkan itu.
Ana pun bilang ada suatu bulan dan tanggal yang sudah ditetapkan dan di hari itu ibunya akan mencoba membuka komunikasi dengan Asmirah, bukan untuk melawan tapi meminta dia mengakhiri teror-teror aneh yang gak perlu karna mereka meminta kami pergi dari rumahnya dan kami sudah pergi tapi dia tetap saja, kalau komunikasi itu tidak lancar, maka kami akan dengan paksa masuk ke rumahnya dan menemukan ruang bawah tanah, itu yang dikatakan ibunya Ana, jadi sekalian aja, kalau dia mau menghancurkan kita, maka kita juga akan melawan dengan berani karna kita gak salah.
Semuanya pun terdiam sekaligus takut dengan moment ini, sedangkan Kris semakin stress karna dia mau menikah tapi hal begini belum selesai, takut terornya ke Kris dan membuat gagal dia menikah atau apalah karna Kris pernah kerasukan, jadi dia semakin takut. Sedangkan Ana mencoba menenangkan kami semua dan mencoba untuk berpikir lebih positif lagi karna selama kami bisa berpikir dengan normal dan tenang tanpa memasukkan ketakutan yang berlebihan maka hal itu bisa jadi terlaksana dengan baik, kita yang manusia harus percaya diri melawan makhluk yang sudah mati dan mengandalkan kekuatan dan bersekutu dengan makhluk lain.
Kami ngobrol panjang lebar dengan rencana-rencana yang belum matang tetapi sudah ada dalam bayangan, bagaimana kita masuk kerumah itu dan bagaimana mencari kunci yang katanya ada dibawah tangga dan gimana menemukan pintu bawah tanahnya, kami sudah mencoba merancang dan berhasil tidaknya tergantung kami. Paling penting adalah jangan ada rasa takut, entah dihantui makhluk seram apapun karna kami hidup jangan takut selama dia tak membuat kami dalam bahaya atau mematikan kami, Ambar pun takut kalau ada yang dibuat sakit bahkan tak ada seperti bu Hartanti, tapi mengingat bulan itu adalah bulan yang membuat mereka lemah, setidaknya saat ibunya Ana berkomunikasi dengan Asmirah, yang lain bagi tugas dengan masuk ke ruang bawah tanah, sedangkan ada Laras dan Sekar yang membuat kami bingung harus bagaimana supaya bisa masuk ke rumahnya sedangkan kami sedang perang dingin.
__ADS_1
Jalan satu-satunya adalah kami harus meminta maaf pada mereka dan berteman kembali agar kami bisa leluasa bermain lagi kerumah mereka itu, sebanyak apapun keluarga mereka yang sudah menjadi makhluk halus, pasti ada jalan untuk mereka tidak tau apa yang kita lakukan di kehidupan nyata, yaitu dengan membuat mereka menjalani kehidupan layaknya mereka masih hidup, dan itu bisa terjadi di bulan tertentu juga. Di mana mereka menjali kehidupan seperti mereka dulu di tahun dimana mereka hidup, seperti menjebak mereka di lingkaran waktu tertentu dan itu bisa dilakukan oleh orang cukup kuat tenaganya untuk mengunci mereka di putaran waktu.
Dan yang bisa membuat para makhluk halus itu terjebak di putaran waktu yang sama adalah guru spiritualnya ibunya Ana dulu, karna sekarang beliau ada di desa yang sedikit pelosok dan ibunya Ana juga tidak tahu nomor teleponnya jadi mengharuskan kami untuk menemui guru spiritualnya itu agar dibantu, disini yang bersemangat adalah Aca sedangkan yang lain sudah ketakutan dan pusing dengan keluarga orang lain yang tak kunjung selesai padahal kami sudah keluar dari rumah itu.