
Ini salah seharusnya dalam masa rapuhku aku tak boleh terlena dengan keadaan yang menenangkan karna ini menyangkut perasaanku, tapi aku juga tak tahan dalam kegelapan dan tak bisa bernapas dengan lega. Seakan terbakar dan aku memutuskan untuk berhenti terbakar sampai hangus dan sedang menyembuhkan luka ini. Aku bertanya pada Roy apakah aku lebay jadi perempuan? Jawabnya tidak, marah itu wajar karna memang sangat berbeda lingkungan disini yang adat timur dengan yang disana, meskipun kami sering menginap di kantor, tetap saja ruangan wanita dan lelaki dibedakan, tidak sama bahkan sekasur, Roy juga tidak terlalu menyalahkan Toby tapi sangat menyayangkan nya hal ini bisa terjadi, karna semua itu tergantung dengan pilihan masing-masing. Semua masalah batasan dan bagaimana cara menjaga diri saja, bukan malah terjun kejurang yang sama dengan lingkup itu.
Kami berdua menikmati udara yang bersih dan angin sepoi-sepoi membuat rambutku berantakan dan rasanya enak sekali, aku berbaring tiduran menatap awan yang sangat cantik kali ini, sambil bertanya.
“Aku cukup kaget dengan yang dilakukan Toby, mengingat begitu dia berusaha mendapatkan hatiku, giliran aku menyadari ketulusannya dan menaruh rasa, mengapa dia dengan sadar melakukan hal ini?” tanyaku ke Roy sambil memandang langit.
“Mungkin dia juga kaget dengan situasi di sana dan berusaha tidak berbeda, tapi lama kelamaan nyaman dan mulai terbiasa hingga lupa ada hati yang harus dijaga,” jawab Roy yang hanya aku dengar saja tanpa melihat wajahnya.
“Dia bahkan tak bisa bertemu denganku karna akhir pekan ada meeting yang mungkin luar biasa pentingnya untuk jajaran orang penting, padahal bisa saja dia jawab akan mengupayakan bertemu tapi tidak minggu ini, dan berusaha meluangkan waktu meski harus pulang pergi.” jawabku dengan lamunan dan menutup mukaku karna panas dengan topi.
“Itu kalau dia serius, sayangnya dia tak pernah menjumpai wanita lain, circlenya hanya itu-itu saja, giliran bertemu wanita lain merasa ternyata dunia begitu besar dan harus mencoba dengan berbagai macam karakter wanita, sampai dia menemukan yang mana yang terbaik baru dia menikah, mungkin kemarin berusaha dengan gigih bertunangan denganmu karna dia merasa kamu sudah cukup, tetapi ketika dia keluar lingkaran, kamu hanya segelintir debu.” jawabnya dengan tegas dan serasa ditusuk belati jantungku.
Lalu tiba-tiba Toby telepon di HP Roy karna dia melihat story nya Roy yang entah apa itu, ini perkiraan Roy sih sebelum dia mengangkat telepon itu.
“Halo!” ujar Roy dengan sedikit bentak kan, dan di loudspeaker teleponnya.
“Dimana kau?” tanya Toby langsung ngegas.
“Kenapa emang?” tanya Roy balik dengan ngegas.
__ADS_1
“Kau ngapain keluar sama Aca hah? Gausah ikut campur kau Roy,” jawab Toby marah.
“Kenapa emang? Gak boleh? Terus gunamu jadi lakinya apa? Cuma bikin sakit hati aja? Gak guna kau, bocah kau gak bisa selesaiin masalah malah lari.” jawab Roy dah mulai keluar urat-urat amarah.
“Yang lari siapa? Aku cuma kerja dimari, siapa yang lari? Acanya aja terlalu sensi, udah jelasin baik-baik juga gak bakal diterima karna gak sepaham!!” jawab Toby yang langsung membuat hatiku tertusuk.
“Ya kerja, kerja aja kali, bukan malah asik berparty-party ria, sewa cewek lagi, bahkan tidur bareng temen cewek tuh, temen atau demen kau? Kalau gak lari ya sini dah! Datang kau kesini, gak berani kan?” jawab Roy dengan penuh amarah dan aku hanya memegang pundaknya agar dia tak begitu meladeni Toby.
“Yang gak berani dateng tuh siapa? Aku cuma gak bisa minggu ini tuh gak bisa! Sabar kenapa bukan malah langsung mengakhiri hubungan sepihak, kalau gini yang bocah siapa?” tanya Toby yang menyalahkanku.
“Woi binatang kau ya, bisa kau nyalain cewekmu sendiri atas kesalahanmu? Gak punya malu kau?” jawab Roy yang udah makin marah.
“Napa? Bebas dong, kau kan bukan siapa-siapanya!” Jawab Roy.
“Aku nih kerja buat dia, buat nikahin dia, buat hidup lebih baik sama dia, gak ada maksud lain, kalau caraku salah aku minta maaf, kalau kek gini kenapa gak larang aku pindah aja dari dulu, kenapa sekarang malah dipermasalahkan? Tinggal duduk manis aja, yang kerja aku susah payah, susah kek gitu? Lakinya kerja malah dituduh macem-macem.” jawab Toby.
“Hey bro, kalau mau dipercaya berikan kepercayaan yang tidak memberi rasa sakit sama pasanganmu! Niat nikah gak sih? Hubungan bukan cuma masalah uang bro, inget!!” ujar Roy nasehatin.
“Entahlah aku merasa tertantang untuk menjadi kaya dan punya segalanya, intinya ini masalah sepele, kalau dah nikah juga Aca ikut aku disini, sudah pasti aku ajak keluar dengan circle disini, ini masalah penerimaan Aca aja, Acanya yang gak mau terima.” jawabnya seakan dia benar.
__ADS_1
“Oh gitu? Syukur deh Aca masih punya otak buat mikir, gak cocok Aca sama laki modelan kau. Thanks ya udah dengan sadar melepaskan Aca!” jawab Roy lalu langsung dimatikan teleponnya sama Roy dan HPnya juga dimatikan untuk mencegah dia telepon lagi. Sedangkan rasanya badanku lemas dan bergetar mendengar Toby berbicara seakan ini semua adalah kesalahanku dan aku hanya bisa menangis dalam diam dan Roy hanya bisa menenangkanku. Aku sangat-sangat berterima kasih dengannya yang selalu ada dipihakku dari dulu sampai sekarang, rasanya memang dia dari dulu mengerti bagaimana aku, bagaimana moodku, bagaimana caraku berpikir akan sesuatu, dia yang paling tahu dan dia yang paling sabar menghadapinya, lalu karna langit tiba-tiba mendung Roy mengajak untuk kembali dan bersiap jika hujan datang, akhirnya kami kembali ke motor dan berjalan-jalan lagi mencari bakso, makanan favoritku dimanapun dan kemanapun hanya bakso yang paling mudah ditemukan dan dimakan di segala suasana.
Kami menemukan bakso yang sepertinya nampak enak dan tiba-tiba saja langsung hujan dan bersyukur sekali pas sudah ada tempat berteduh sekaligus makan.
“Gimana perasaanmu sekarang ca?” Tanya Roy.
“Hahaha… sudah lebih baik dari kemarin-kemarin, thanks ya Roy!” jawabku tersenyum lebar.
“Kalau kamu butuh apa-apa aku selalu ada disampingmu, didepanmu, dimanapun.” jawabnya dengan senyum hangat.
“Ngomong kek gitu gausa pake hati, entar makin cinta lagi sama aku,” jawabku percaya diri dan ingin bercanda aja tapi malah diseriusin.
“Kalau memang iya gimana? Aku berharap demikian, setelah bisa move on kita gak perlu tunangan tapi langsung nikah aja.” jawabnya bercanda entah serius aku gak paham.
“Dih napa gitu? Pd banget sih, siapa juga yang mau nikah sama playboy.” jawabku bercanda juga biar gak sedih-sedih mulu.
“Mana ada sih playboy? Ya karna kita udah kenal lama, aku ngerti kamu, kamu juga paham aku, kenapa gak kita menjalin hubungan yang lebih serius, toh dari dulu aku naksir juga tapi gak sadar.” jawabnya sambil makan bakso.
Kami pun hanya bercanda ria entah itu bermaksud apa aku juga tak begitu mengerti karna hati ini masih ditusuk-tusuk sakit seakan sesak nafas, dan hanya membuat suasana tidak canggung dan horor lagi. Kami menghabiskan makanan dan juga menunggu reda, lalu kami bersiap pulang saja karna cuaca makin dingin dan Roy khawatir aku sakit di kondisi seperti ini.
__ADS_1