
Sudah jam menjelang pulang kantor, hari ini terasa begitu lama dan entah mengapa aku juga merasa bersemangat jika memang harus ke Bali untuk memecahkan sebuah masalah sekalian healing dan Toby pun juga bersemangat, perjalanan pulang Toby mengajak mampir dulu makan mie Aceh, dia juga memutar musik di mobil dan menyanyikannya, dia memang manusia tersantai dan suaranya juga renyah ditelinga, lagu ariana grande yang stuck with u ternyata enak juga kalau dia yang nyanyi.
“Kamu punya tabungan untuk ke Bali?” tanyanya.
“Punya, tapi setelah itu akan langsung bangkrut, hahahaha.” Jawabku sambil tertawa.
“Tenang, kan ada aku sayang.” Jawabnya yang santai.
“Oh jelas tidak tenang, aku kan tidak ingin bergantung padamu,” jawabku tegas.
“Kenapa seperti itu? Aku kan calon suamimu.” Jawabnya dengan tegas juga.
“Iya tau, aku aja gak tau tabunganmu ada berapa, pengeluaranmu berapa, begitu juga sebaliknya, jadi kita masih harus punya tembok masing-masing urusan pribadi.” Jawabku.
“Kalau kamu ingin tau tanya aja apapun itu,” jawabnya.
“Oke, berapa biaya bangun rumah dan kantor? Dapat dari mana saja uang itu?” tanyaku yang aku tau tak seharusnya aku tanyakan tapi aku butuh tau kekurangan dia karna dia sama sekali tak pernah sharing apapun padaku.
“Kamu mau tau?” tanyanya.
“Dari jaman dulu aku selalu investasi, mamaku juga mengajariku bagaimana menabung dengan uang atau emas, kamu tau tempat kopi biasanya aku kesana kan? Pendapatan itu sebagian masuk di aku, dan gajiku di kantor satunyakan tembus dua digit, belum lagi kalau menang tender dan ada bonus-bonus lainnya.” Jawabnya dengan tegas.
“Hmmmm, so cool.” Jawabku.
__ADS_1
“Kalau dari keuangan aku jelas siap karna aku sudah memperhitungkan segalanya, hanya saja aku memang butuh waktu untuk menjadikan rumah kita kelar 100% karna memang banyak sekali pengeluaran untuk rumah itu, karna memang aku memakai bahan bangunan yang bagus dan ingin tinggal disana dengan tenang denganmu, aku memberikan yang terbaik meski itu hanya cat.” Jawabnya dengan nada yang yakin.
“Iya aku tau, kamu bekerja keras dari zaman kita kenal dulu, kamu kerja serabutan waktu kuliah, jadi aku gak kaget kalau kamu punya penghasilan yang besar, sedangkan gajiku mungkin hanya cukup untuk diriku sendiri,” jawabku yang yakin kalau dia memang siap secara finansial.
“Jangan merendah gitu, kamu bisa bikin perusahaan, menggaji karyawan gaji UMR itu sudah hebat, terlebih kamu tau kalau perusahaan baru akan gaji dibawah UMR, lihat aja lawan kita.” Jawabnya memberikan semangat.
“I know, aku berusaha keras untuk itu, karna aku tau rasanya bekerja di bidang kreatif yang menghabiskan isi otak dan tenaga lalu ide-ide kita dan lainnya hanya dihargai kecil.” Jawabku kesal mengingat masa lalu.
“Dan gara-gara bidang seni dihargai rendah kamu membangun istanamu dan memberikan bukti kalau seni itu mahal.” Jawabnya menenangkanku lagi sambil mengusap rambutku yang sudah lepek.
“Thanks bi,” jawabku dan ternyata kita sudah sampai dan langsung memesan mie Aceh terenak di kota ini.
Kami makan dengan lahap sambil membicarakan kebutuhan ke Bali, budget dan lain-lainnya dengan semangat, aku juga harus cerita ke bapak apakah bapak setuju dengan ini atau aku malah tidak diperbolehkan. Aku juga tak lupa membungkuskan buat bapak, Toby pun juga bungkus buat keluarganya. Kami Pun pulang dan aku langsung cerita lengkapnya ke bapak dan bapak mendukung apapun keputusanku, bapak juga akan memberikanku uang saku untuk ke Bali, aku pun bahagia karna memang aku udah tua masih saja diberi uang saku, kata bapak uang bapak bekerja memang hanya untuk keluarganya dan aku berhak menerima itu dan wajib terima, bapak tak ingin ada penolakan.
Pagi puntiba, dan ternyata setiap pagi memang hujan, rasa malas pun menghampiri, aku memasak bubur ayam pagi ini karna memang bapak lagi pengen bubur ayam dan ayamnya diganti ikan. Tak lama Toby datang dan sengaja ingin sarapan dirumahku, aku pun selalu kaget karna dia tak pernah menghubungiku dulu.
“Gimana masakan anakku ?” tanya bapak yang sedang membanggakan putrinya.
“Enak sekali, sangat enak,” jawabnya dan pengen nambah lagi.
“Enak kan? Ini ikan juga enak?” tanya bapak.
“Tentu om, kapan om mancing lagi?” tanya Toby.
__ADS_1
“Sabtu malam minggu ini, kalau kamu mau ikut datang aja kesini.” Jawab bapak.
“Yang harus dibeli apa aja om, karna aku gak punya pancingan,” jawab Toby.
“Tenang aja, bapak punya banyak koleksi pakai aja punya bapak.” Jawab bapak senang.
Mereka lanjut membahas tentang memancing sedangkan aku bersih-bersih piring dan mangkok setelah sarapan pagi, mereka pun asik makan roti panggang dan kopi hangat ditemani hujan pagi yang sangat romantis ini, tak lama bapak berangkat dan aku siap-siap juga untuk ke kantor.
Hari ini aku ingin memakai hoodie dan celana jeans biasa tapi yang berbeda, rambutku yang sudah panjang ini aku kuncir satu dan memakai anting bulat besar, aku memang suka berganti-ganti anting dan banyak sekali koleksi aksesoris dari jamanku kecil. Anehnya hal ini mengingatkanku pada Amini yang gemar koleksi printilan yang lucu-lucu, ternyata kami punya kesamaan itu, hanya itu.
“Kamu cantik sekali ca,” ujar Toby sambil membukakan pintu mobil.
Aku yang merasa biasa saja karna memang kebiasaan Toby bukain pintu mobil, bukain tutup botol atau bukain barang-barang yang lain, ternyata kalau dilihat Toby ini sweet sekali, di ratukan dan aku tak pernah sadar.
“Kali ini aku ingin menyetir bi,” jawabku dan langsung berpindah tempat.
Aku menyetir dengan santai karna gaya Toby nyetir juga santai padahal aku suka ngebut tapi tau tempat dan situasi, kali ini aku mengikuti gaya Toby dan menyetel lagu yang cocok dengan hujan yaitu instrument aja yang menenangkan jiwa.
“I love you,” ujar Toby tiba-tiba.
“Hah?” jawabku kaget.
Dia hanya menatapku tanpa berkedip sedangkan aku harus fokus lagi ke jalanan, aku tau apa yang dia ucapkan, hanya saja aku merasa sedikit canggung. Sampai kantor yang masih sepi ini aku melihat HP ku dan ada mention dari Cantika yaitu sebuah foto jaman dulu saat ibunya masih tinggal dirumah itu dengan orangtuanya.
__ADS_1