
Ada malam yang lebih dingin dari malam ini, ialah malam tanpa cahaya dengan hujan yang begitu deras disertai gemuruh kilat dengan sambaran yang menggelegarkan. Kalian tau apa artinya itu? Padahal ini belum masuk musim hujan lagi, tapi entah mengapa malam ini terasa dingin dan membisu, bukan karna aku yang hanya memakai kaos tipis dan celana gombrong, tapi memang suasana yang tidak syahdu dan tenang lagi, tetapi suasana penuh dengan ketegangan.
Malam ini kami semua berkumpul di rumah Ana, ibunya, kakaknya serta tantenya dan Ana sendiri sedang berusaha untuk berkomunikasi, tak ada apapun disini, tak ada bunga atau kemenyan untuk memanggil, tak ada apapun karna tak mau mereka makin semena-mena, ini pyur karna sebuah ketulusan, dan harapan untuk bisa berkomunikasi dengan mereka yang tak kasat mata. Aku yang merasakan dingin tapi mereka berkeringat seperti penuh upaya dalam memanggilnya, aku sangat-sangat kedinginan sampai-sampai meminjam selimut Ana karna memang entah mengapa badan langsung gak enak dan mual yang tak tertahankan, aku ingin tanya teman-teman yang lain tapi mereka hanya diam mengamati sekitar dan berjaga agar tidak ada apa-apa, terutama Toby yang berjaga bagian luar, entah aku tak mengerti tapi seperti itulah adanya.
“Ca, kamu ngerasa dingin gak?” Tanya Kris yang akhirnya merasakan hal yang sama.
“Iya, makanya aku ambil selimut di kamar Ana.” Jawabku.
“Boleh bagi gak?” tanya nya lagi.
“Tentu.” Jawabku singkat lalu kami berbagi selimut dan Ambar juga karna dia merasa tengkuknya sangat berat dan merasakan dingin namun berkeringat.
Saat ini kami semua tidak tau posisinya bagaimana, keadaanya bagaimana karna tak ada yang memberi tau. Bahkan Toby pun hanya diam di pojokan dan memejamkan mata,kami yang tak bisa melihat hanya turut berdoa agar lancar, tapi semakin lama suasana yang dingin itu terasa semakin panas dan membuat gerah yang sampai berkeringat mengalir deras. Rasanya sampai ingin ke kamar mandi untuk mandi atau cuci muka, tapi Toby berbicara dengan lirih dan pelan.
“Jangan ada yang keluar dari ruangan ini, tetap bersama.” Ujarnya.
Tapi sayang sekali, sebelum Toby ngomong itu barusan saja dia berdiri dan sepertinya ke kamar mandi. Toby langsung berdiri dan menyusulnya, tapi proses Toby nyusul Roy yang harusnya cepet aja kalau manggil ke kamar mandi karna jaraknya dekat sekali tapi seperti berlangsung lama, sedangkan aku seperti melihat bayangan-bayangan aneh yang seakan menatap kami dengan tajam, aku konfirmasi ini dan tanya pada Kris dan Ambar, mereka pun merasakan hal yang sama, bahkan disamping kami pun terasa sangat sesak seakan ada yang ikutan duduk namun posisi mata menatap kami. Sangat mengerikan suasananya dan benar-benar berkeringat dan dingin menjadi satu, aku seakan ingin muntah karna tak tahan dengan tekanan, seperti asam lambung naik padahal aku sehat-sehat saja.
“Sumpah ya, aku lihat bayangan seperti anjing.” Ujar Kris.
__ADS_1
“Iya aku seperti mendengar lolongan anjing.” Jawab Ambar.
“Toby kok lama ya, apa aku susul ya?” tanyaku.
“Jangan, jangan tinggalkan kami dong, kita tunggu aja disini.” Jawab Kris.
“Apa kita merem aja ya? Tutup mata aja.” Ujar Ambar.
“Gak bisa, aku kalau tutup mata semakin membayangkan yang gak-gak tauk!” jawabku.
“Iya sama.” Jawab Kris menimpali.
“Terus gimana dong, aku rasanya sesak disini.” Tanya Ambar.
Tiba-tiba Ambar diam saja dan menunduk dan mengubah posisi duduknya dengan posisi yang anggun dengan tatapan yang kosong, aku sudah curiga jangan-jangan dia kerasukan, tapi aku berusaha berpikir positif, jadinya aku biarkan saja sampai dia benar-benar menunjukkan reaksinya, karna aku juga bingung harus bagaimana, aku hanya memberi kode ke Kris untuk melihat Ambar, dan Kris langsung reflek kaget dan ketakutan, jadinya Ambar yang entah itu siapa didalamnya melirik kami dengan tatapan yang aneh dan senyum dengan teduh, kali ini memang senyumnya sangat teduh dan terasa normal penuh dengan sopan santun, entah mengapa aku bisa merasakan kalau pasti orang baik yang merasukinya, aku mau bilang ke Ana tapi Ana dan yang lain seperti sedang bersemedi, dan Toby dan Roy yang menghilang, aku tak tau harus bagaimana. Kris rasanya juga ingin lari karna ketakutan. Akhirnya aku minum kopiku untuk menenangkan diri dan berpikir apa yang harus aku lakukan.
Akhirnya aku menawari Ambar untuk meminum kopi, lalu dia meminumnya dengan senyuman dan mata yang berbinar seakan tidak pernah merasakannya, aku bertanya dengan pelan.
“Kamu siapa?” tanyaku pelan setengah berbisik.
__ADS_1
Dia tak merespon malah heboh dengan kopi dan diminumnya habis, ini memang coffee latte ala cafe mahal bukan kopi biasa.
“Maaf kamu siapa? Jangan sakiti temanku yaa…” ujarku karna takut Ambar kenapa-kenapa.
Sedangkan dia hanya nyengir saja tanpa respon yang jelas, lalu tiba-tiba saja Ana sudah di depanku dan memegang pembuluh darah di tangan Ambar lalu entah apa yang dia ucapkan dan tiba-tiba saja matanya Ambar bagian hitamnya hilang dan hanya putihnya saja, dia mengeluarkan suara yang menggelegar dan aku ingat suara siapa ini, ini suara cewek yang kemarin datang kerumah dan menyuruh untuk berhenti. Sontak aku kaget kenapa tatapannya begitu berbeda, ini nampak kalem dan santun sedangkan yang kemarin benar-benar seperti iblis yang sangat jahat.
Ana biasa saja dengan reaksinya yang sangat-sangat tidak normal itu, lalu Ana seperti mengeluarkan dia dari tubuh Ambar sehingga Ambar merasa sangat lemas dan tak berdaya, dan disuruh untuk baring tidur saja karna akan merasa capek untuk kedepannya.
“Toby kemana?” tanya Ana.
“Tadi dia ke belakang jemput Roy yang lagi ke kamar mandi,” jawabku dengan ekspresi bingung.
“Udah dari tadi?” tanya Ana.
“Iya, gak tau kok lama banget.” Jawabku khawatir.
“Ca, bisa kamu jagain Ambar dan Kris juga kamu harus tetap tenang yaaa..” ujar Ana yang mau nyusul Roy dan Toby.
“Jelasin dulu situasi saat ini bagaimana?” tanyaku.
__ADS_1
“Kami sedang berusaha untuk masuk ke pintu paling rumit, mereka sedang menghadang kita dengan membuat banyak pintu dan kita harus masuk satu-satu.” Jawab Ana lalu Ana pergi ke belakang untuk menyusul mereka berdua.
Aku entah mengapa semakin pengap dan mencoba untuk menutup mata agar tenang. Tapi bayangan-bayangan yang tak terhingga itu terasa semakin mendekat dan membuatku harus tetap melek, aku harus buka mataku lebar-lebar agar aman.