Rumah 7 Turunan

Rumah 7 Turunan
46. Sesat


__ADS_3

Semakin hari semakin lama aku menetap di dunia ini, semakin terbiasa bahkan terkadang lupa bahwa diriku ini Aca bukan Amini. Sama-sama berawalan huruf A dan berbeda style dan juga karakter. Lama kelamaan aku menjadi ke Amini-aminian, mulai dari berbicara, cara jalan dan kesopanan dalam duduk, atau berperilaku mirip Amini, sosok ku tak ada lagi dan bahkan aku lupa dengan karakterku sendiri. Semakin lama semakin hanyut menjadi Amini, terkadang juga lupa bahwa aku memiliki keluarga dan teman yang di dunia lain sudah menungguku.


Asmirah sedang bersiap untuk melahirkan, beberapa hari ini sudah merasakan sakit, Santi akan datang di dunia ini, sosok yang berani keluar dari aturan-aturan lama yang dibuat orang tuanya yang mengakibatkan anak keturunan nya mempunyai jiwa pemberontak. Aku menantikan Santi datang dan ingin mengenalnya lebih dalam akan bagaimana karakternya dan segalanya membuatku penasaran. Tetapi aku harus sadar kalau setiap aku penasaran maka aku akan terlalu terbawa akan dunia ini dan menjadi semakin tersesat kedalamnya tanpa ada pertolongan untuk keluar dari dunia masa silam.


Aku menyadari bahwa masa silam ini adalah masa dimana antar manusia bisa berkomunikasi sangat dekat saling melengkapi dan mengasihi meskipun tak mempunyai internet ataupun gadgets padahal dulu pernah berpikir kalau orang jaman dulu itu ngapain ya kalau gabut ga ada handphone dan internet selain baca buku, dan ternyata terjawab bahwa bisa di bilang adalah masa tenang sebelum gempuran teknologi ini membawaku menjadi tahu bahwa kalau gabut ya masih bisa belajar banyak hal. Apalagi bonding satu dengan yang lain nya ku acungi jempol, tak ada tuh yang lagi ngobrol malah main hp atau sibuk dengan game nya.


Suatu saat jika aku kembali ke masa depan mungkin aku akan merindukan masa ini, dimana attitude dan adab adat pun masih terjaga dan semoga lestari. Terkadang aku juga ingin bertemu dengan moyangku, apakah tinggal di daerah sini juga atau di daerah lain, bagaimana kehidupan mereka, aku cukup penasaran tetapi entahlah kalau berjodoh pasti bertemu, tetapi bagaimana aku kenal, aku saja tak memiliki nama belakang keluarga karna di keluargaku random saja nama-namanya.


Aku termenung sembari melihat mbok Darmi yang sibuk mengurus Asmirah yang akan melahirkan, bahkan dukun beranak juga akan segera datang hanya saja terkendala oleh hujan angin. Daerah sini memang teramat dingin apalagi jika cuaca sedang hujan. Aku ingin melihat Asmirah hanya saja aku tak ingin melihat bu Diajeng karna perasaanku tak enak dan membuat sakit kepala jika melihat roh yang sedang menuntut dendam karna di bunuh. Sedangkan yang membunuh ini juga dalam pertempuran antara hidup dan mati.


Rumah ini seketika bau aroma bunga, ternyata Asmirah ingin melahirkan dengan keadaan rumah yang harum dan menenangkan, aku antara kagum dan benci melihat Asmirah, karna terkadang baik terkadang meresahkan. Tetapi dia sangat di cintai oleh suaminya, mereka saling mencintai sampai punya 3 anak yang cantik dan tampan. Tetapi mengapa meskipun memberikan kekayaan kepada generasinya, mengapa yang mereka minta adalah setelah kematian harus tetap tinggal disini. Mengapa rumah tak dibiarkan menjadi rumah saja bukan rumah beserta makam. Menurutku ini aneh, adakah ajaran sesat di jaman ini. Mengingat banyak sekali ilmu-ilmu ghaib dan lain-lain.


Tapi aku tak pernah melihat pak Broto seperti itu, beliau hanya benar-benar pandai melukis dan memiliki jiwa seni yang tinggi. Asmirah pun sama dia juga begitu sangat stylish dan passion nya mungkin di dunia mode sangat bagus, aku tak melihat ada persekutuan dengan yang ghaib-ghaib. Mereka benar-benar berkarya dan menghasilkan yang sukses sampai bisa memberikan privilege untuk generasinya. Menurutku ini sangat keren dan akan aku contoh di masa depan, sebaiknya memang aku mengambil yang baik dan membuang yang buruk. Yang baik akan aku serap dan bercerita bagaimana tentang passion, financial, berumah tangga dan parenting yang baik.

__ADS_1


Karna aku melihat pak Broto sangat baik dan berjiwa pemimpin kepada anak-anaknya bahkan dia menghormati keputusan anaknya, memberikan ruang pada anaknya untuk ikut bersuara. Hal-hal baik seperti itu memang menbuat anak menjadi percaya diri dan bahkan memiliki jiwa-jiwa kepedulian yang tinggi. Asmirah pun sama, sangat baik antara keras dan juga memanjakan anaknya. Meskipun dia tidak stabil dalam emosinya dan suka main tangan terhadap anaknya tetapi dia jika normal pun sangat memanjakan dan menyayangi tanpa banyak kata.


Batara memang takut dengan Asmirah karna Asmirah membuat banyak aturan dalam bergaul dan lain-lain kepada Batara yang extrovert dan mungkin menjadi pendiam dan dingin karna Asmirah yang membatasinya, bisa jadi seperti itu. Dalam diam aku hening dan memikirkan apa yang terjadi di sini, sekelebat kenangan asliku muncul dirumah ini bekerja, lembur heboh dan berisik dengan teman-temanku. Dimana saja letak hantu-hantu yang menjahili kami dan aku sekarang tahu siapa saja mereka, karna aku tahu di setiap sudut ini dimana lokasi mereka semasa hidup menjadi tempat favorite nya.


Mungkin untuk generasi anak dari Amini dan selanjutnya aku tak begitu tahu detail tetapi aku sudah bisa memperkirakan apa yang terjadi meski itu bisa saja menjadi salah atau malah plot twist. Pikiran-pikiran ku menjadi semakin dalam dan sesat, sampai mbok Darmi menepuk bahu ku karna aku melamun.


"Non.. Ibu sudah melahirkan, baiknya non masuk ke kamar. " Ucapnya memberikan kabar.


"Non... non takut yaaa ibu kenapa-kenapa? ini minum dulu. " Ucapnya menenangkan sambil menyodorkan minum.


"Terimakasih mbok. " Ujar ku sembari meneguk minum setelah itu menghampiri Asmirah.


Aku melihat bayi perempuan sedang menyusu kepada ibunya, sangat mungil dan sangat mirip dengan Asmirah. Wajah lelah Asmirah sangat terlihat, antara kesakitan dan juga kebahagiaan. Batara sedih karna yang lahir perempuan padahal dia menginginkan adik laki-laki, tetapi di tenangkan oleh pak Broto dan di beri tahu kalau harus tetap menyayangi adiknya. Batara hanya diam saja tanpa jawaban, dia merasakan kekecewaan yang membuat wajahnya jadi semakin mengemaskan.

__ADS_1


"Anak bapak dan ibu yang ketiga ini dan juga adik dari Amini dan Batara akan di namakan Adrisanti seno. " Ujar pak Broto mengumumkan nama.


"Nama yang cantik. " Jawab ku.


"Namaku juga cantik. " Jawab Batara.


"Nama kalian semua cantik nan indah anak-anak ku. Kalian harus mencium ibu dan Santi. " Ucap pak Broto.


Lalu kami memeluk dan mencium Asmirah dan juga Santi. Kami semua berpelukan termasuk pak Broto yang berterimakasih kepada istrinya yang sudah memberikan tiga anak dan juga sudah kuat berjuang bersama-sama demi keluarga tercinta.


Sweet sekali sangat berlinang air mata ini merasakan kasih dan sayang dan rasa hormat serta melindungi wanitanya, entah bagaimana situasinya jika pak Broto tahu kalau ibunya tiada karna istri yang di sayanginya. Akan sehancur apa jika tahu. Rasa bahagia dan juga kasihan dan tanpa sengaja aku melihat bu Diajeng di pojok kamar sedang menatap antara haru dan dendam. Badan ku langsung merinding bahkan panas dingin sekaligus.


Sesat sesat aku semakin sesat, tiba-tiba suara yang menyakitkan berdengung di telingaku membuatku kesakitan dan menutup telinga. Lalu aku melihat sayup-sayup tangis di ujung kamar, aku melihatnya, iya aku melihatnya, aku harus berjalan menuju itu, menujumu.

__ADS_1


__ADS_2