Rumah 7 Turunan

Rumah 7 Turunan
28. Gelap


__ADS_3

Gelap, aku tak bisa melihat, mataku tak mau terbuka, tubuhku kaku. Aku tak merasakan apapun, apakah aku mati?


"Amini... amini.. anakku sayang" Terdengar suara bu Asmirah. Suara sayup-sayup terdengar diikuti suara lain.


Aku samar-samar melihat siluet, tak begitu jelas, samar dan membuatku bergidik merinding. Bukan bu Asmirah saja yang aku lihat, tetapi ada wanita bersanggul, mengenakan baju lusuh dan jarik batik sedang menatap penuh dendam ke bu Asmirah. Serasa gelap dan angker aku merasakan nya, sangat sesak dada ini.


"Anakku, Amini... minum air putih ini nak, segar sekali air kendi ini". Ucap bu Asmirah sambil menyuapi minum.


"Asmirah! kenapa Amini ini? " Tanya pak Broto dengan keras dan penuh kekhawatiran.


"Saya juga tidak tahu mas, mbok Darmi yang panggil-panggil saya". Jawab bu Asmirah dengan wajah tegang penuh ketakutan.

__ADS_1


"Biar aku cari dukun untuk mengobati Amini" Seru pak Broto sambil melangkah pergi, tapi dihalangi oleh bu Asmirah.


"Jangan mas, Amini nanti ketakutan. Coba lihat wajah Amini ketakutan" bu Asmirah melarang.


"Nak... kamu kenapa sayang? apa yang sakit? " Tanya pak Broto sambil memegang tangganku.


Tapi aku tak bisa berkata-kata, karna aku merasakan kesakitan disekujur tubuhku. Bu Asmirah mukanya masih tegang dan kalut, aku melihat ibu dari pak Broto ada disampingnya, apakah selama ini arwahnya selalu mengikuti seperti ini, atau dia tau kalau aku ini bukanlah cucunya. Bagaimana aku mengatasi ini, sangat membuatku semakin pusing saja.


Lalu mereka menyuruhku untuk beristirahat dan tidur karna aku sama sekali tak bisa menjawab pertanyaan mereka. Mereka pergi dan kulihat arwah itu masih terus menatap bu Asmirah dan mengikutinya. Pertanyaanku kenapa aku ada ditubuh Amini dan kemana Amini sebenarnya. Aku terus-terusan berpikir sampai aku tertidur.


"Kak... maafkan aku" Ucapnya sambil menitihkan air mata.

__ADS_1


Aku hanya mengangguk karna suaraku belum kembali, dia kesakitan karna kakinya habis di pukul bu Asmirah, dia menceritakan kesakitanya dan rasa takutnya kepadaku yang hanya bisa ikut menangis. Batara memelukku dan menyuapiku air putih, setelah itu dia pergi dari kamarku. Apa selama aku tidur dia berada disampingku ya. Aku berusaha bangun tapi tak kuat karna tulangku serasa remuk tak berasa. Ada suara kaki aku memejamkan mata dan berpura-pura tidur.


Ternyata yang datang adalah bu Asmirah, meski aku pura-pura tidur seakan aku bisa merasakan kalau dia sedang mangamatiku dan dia juga mengoleskan obat ke leherku yang sangat terasa perih. Tak lama suara pak Broto terdengar.


"Apa tidak kita panggil orang pintar saja dek? " Tanya pak Broto ke bu Asmirah.


"Kamu percaya ? lebih baik kepada dokter bukan orang pintar" Jawab bu Asmirah bernada tinggi.


"Dokter juga orang pintar, sama sajaaa". Jawab pak Broto ngeyel.


" Tidak! tidak akan pernah" Suara bu Asmirah marah dan langsung beranjak keluar dari kamarku.

__ADS_1


Pak Broto mendekat ke arahku dan mengelus kepalaku dengan tatapan yang sangat sedih melihat anaknya kesakitan, seakan aku merasakan kesedihan itu. Tiba-tiba saja aku menanggis sesengukan, meski untuk bicara saja aku payah. Pak Broto memelukku dan menyarankanku tak perlu bersuara dan menguatkan aku. Pak Broto menyuapiku makanan seperti bubur yang diberikan mbok Darmi. Sangat sulit sekali kutelan dan sakit.


Setelah itu pak Broto menyuruhku istirahat lagi dan tidur, saat pak Broto memakaikanku selimut dan memberikan kecupan di dahi. Tiba-tiba tubuhku terasa enteng seperti melayang. Apakah aku diganggu lagi?


__ADS_2