
Mama pernah sangat sakit hati sekali dengan papa, karna papa gak pernah ada waktu buat dirinya dan selalu sibuk dengan pekerjaan meskipun papa juga sebagai pewaris tapi papa tipikal yang mencoba dari bawah, padahal dulu dia juga bukan pewaris yang kaya raya, masih sederhana dan biasa saja, papa belajar macam-macam untuk mengembangkan bisnis dan mencari relasi sana-sini, jaman dulu hal-hal seperti narkoba dan obat-obatan itu banyak, dan mama pernah menemui papa posisi lagi ngobat dan itu bikin mama sangat sedih dan sakit. Moment itulah mama meninggalkan papa karna mama sadar kalau papa hanya ingin bermain dengannya sedangkan mama mau hubungan yang serius.
Mama lahir dengan keluarga yang terbilang kurang, mama adalah anak ke-5 dari 8 saudara, mama juga berusaha dengan keras agar mama bisa fokus kepada kehidupannya sendiri karna selama ini selalu di anak tirikan karna mama cukup mandiri dan mengupayakan dia segera keluar dari rumah yang kecil dan cukup sempit untuk ditinggali bersama, mama memilih merantau dan bertemu dengan papa, menjalin hubungan sampai 5 tahun tapi tak kunjung ada kejelasan ditambah papa yang sibuk dengan dunianya, akhirnya putus dan mama bertemu dengan laki-laki yang bisa langsung menikahinya karna dia juga kaya dan ingin meratukan mama, mama mencoba segera membuka hati dan melupakan papa, tapi papa gak terima dan akhirnya minta maaf dan merubah pola kehidupannya.
Mama dan papa akhirnya menikah meski keluarga papa tidak terlalu setuju karna mama hanya menang cantik tapi bukan di kalangan orang berada, tapi papa meyakinkan kalau papa bisa sembuh dari ngobat karna mama jadinya direstui dan menikahlah mereka berdua, laki-laki yang menyukai mama ingin menjatuhkan usaha papa di tengah banyaknya hutang kepada bank, mama sampai sedih apakah harus mengalah dan berpisah dari pada membuat papa bangkrut, tapi papa malah mempercayakan dan mengajari mama berbisnis dan membuat laki-laki itu kalah dan mengikhlaskan mama. Lama-lama mama suka sekali dengan bekerja sampai tak punya anak dalam beberapa tahun sampai dipaksa harus punya anak, lalu mama mengandungku dan membesarkanku dengan baik, meski sangat sering dititipkan tapi kata mama selalu membelikan apapun dan melakukan apapun dengan baik, hanya kurang bonding saja, mama tau dengan begini aku bisa kuat menjalani hidup dari pada selalu dimanja, mama mendukung apapun dari belakang dan ternyata backinganku tersembunyi adalah mama, ada masalah di sekolah juga mama yang menyelesaikannya, mama ternyata peduli hanya jalur belakang saja. Padahal aku dulu dibully karna badanku cukup gemuk dan pipiku bulat, karna itu aku rajin olahraga dan menjaga pola makanku sebisa mungkin, dan semua itu juga mama yang menyiapkan tapi melalui orang lain, mendengar itu semua aku cukup terharu dan sedih, kalau bukan karna mama aku gak akan sadar kalau aku punya perasaan terhadap Aca, mama begitu peka hanya saja mama diam dan itu menyebalkan.
Setelah itu kami pulang dan tanpa sadar sudah malam aja, berasa seharian di mall dan membuatku kesal, dan mama hanya tertawa terbahak-bahak karna aku memang sama sekali gak pernah menemani mama seharian seperti ini. Ternyata mama bisa begitu sabar menghadapi papa makanya papa sangat respect dengan segala pilihan mama. Malam ini aku akan tidur dengan nyenyak dan melanjutkan hari-hari yang membosankan, tapi tak akan bosan jika hari-hariku diisi oleh Aca.
Saat di kantor jam makan siang pun datang, Ana masuk ruanganku dan bilang kalau hari ini kami semua makan diluar karna Aca menemukan tempat geprek baru yang enak. Karna banyak sekali pekerjaanku aku gak bisa ikut, Aca memaksa tapi aku memang tak ingin keluar karna banyaknya kerjaan dan aku ingin konsentrasi, Ana menatapku bingung seakan aku kenapa-kenapa. Akhirnya mereka semua pergi hanya tinggal aku disini, aku berpikir apakah aku membeli bangunan kantor ini dari Toby, tapi bangunan ini atas nama Aca, jadi bagaimana caraku agar bisa bersama Aca, lalu tiba-tiba mama telepon.
__ADS_1
“Ya ma?” tanyaku setelah mengangkat telepon.
“Toby kerja dimana kantor utamanya?” tanya mama tiba-tiba.
“Di firewalls, kenapa ma?” tanyaku.
“Oh iya, mama lupa nama perusahaanya, mama berencana mau ketemu sama yang punya dan suruh dia untuk nambah beban pekerjaan Toby jadi dia gak bisa tuh WFA lagi,” jawab mama.
“Iya mama kenal, yang punya orang jepang kan? Mama pernah ketemu kok,” jawab mama.
__ADS_1
“Jadi aku harus gimana ma?” tanyaku bingung.
“Kamu ikutin aja alur mama, nanti mama kasih tau lebih lanjut, mama sekarang mau berangkat ke jepang, kan itu kantor disini kan cabang kan, pusatnya beda lagi, jadi karna orangnya ada di jepang, mama sama papa sekalian mau bulan madu ya,” jawab mama enteng.
“Yaudah, terserah mama aja, hati-hati, berangkat sekarang banget nih?” tanyaku.
“Iya, janjian sama papa di bandara, kamu lanjut kerja aja nak, hati-hati dirumah ya, nanti kalau ada apa-apa kabari,” jawab mama dan mematikan telepon.
Seketika aku tersenyum puas dan merasa lega, ini awal yang baik dan aku juga harus segera mencari pekerja baru buat gantiin si Toby, aku cari-cari teman yang bisa dipercaya dulu deh, aku juga gak akan ceritakan ini ke Ana atau siapapun itu karna bakal bahaya, Toby harus segera kembali ke kantornya karna aku sama sekali gak bisa memecat karna memang gak bisa dan gak mungkin mengingat bagaimana kami berteman, aku juga harus bahagia karna mama sampai bertindak seperti itu, jadi aku harus berterimakasih, mama terang-terangan membantuku tidak sembunyi-sembunyi lagi. Aku melanjutkan pekerjaanku sampai teman-teman yang lain balik dan mereka sudah heboh sekali terdengar, lalu Ana masuk dan memberiku bungkusan geprekan karna dia tau aku gak bakal sempat untuk makan jadi aku makan sambil bekerja.
__ADS_1
Dia tak tanya macam-macam memang kami semua cukup pusing dengan banyaknya pekerjaan ini, sampai-sampai aku harus lembur, Ambar juga sedang bernegosiasi dengan client yang menyuruhku untuk ikut dia karna aku gak bisa ikut dia aku percayakan pada Ambar aja. Semua teman-teman pulang dan Aca masuk ruangan ngajak pulang tapi aku gak bisa balik sekarang, Aca nyamperin dan mengecek kerjaanku, dia cukup iba dan kasihan tapi hanya itu saja lalu dia tertawa dan menyuruhku bersemangat karna aku bosnya jadi harus semangat. Dia tertawa riang sambil melambaikan tangan dia mau pamit pulang saja aku udah happy dan terasa dia menyemangatiku secara tulus, sampai pekerjaanku selesai ternyata sudah jam 11 malam, aku pun bersiap pulang, dan mematikan semua lampu dan ternyata aku tak sendirian malam ini.