
Ketika aku bangun aku langsung memberitahu Ana tentang mimpiku biar dia sampaikan pada ibunya barang kali ada maksud dalam mimpi itu. Karna ini hari libur memang aku hanya ingin baring-baring aja tanpa melakukan apapun, rupanya bapak sudah masak.
“Masak apa pak?” tanyaku.
“Masak semur kentang, mandi terus sarapan sana, bapak janjian sama tetangga mau mancing.” Jawab bapak yang tiap hari minggu selalu ada saja acaranya.
“Bapak nih, ada aja acaranya,” jawabku yang merasa bapak terlalu sibuk.
“Kenapa emang nduk? Kamu mau jalan sama bapak?” Tanya bapak.
“Ya kita kan jarang pergi keluar pak,” jawabku.
“Orang kamu aja udah isi kulkas dengan banyak camilan ya berarti kamu cuma mau santai dirumah,” jawab bapak dengan menunjuk kulkas.
“Iya Sih, tapi hari minggu malas dirumah sendirian pak,” jawabku.
“Suruh aja Toby nemenin, yaudah bapak berangkat dulu yaa…” jawab bapak dengan santai dan langsung berangkat.
“Iyaa pak, hati-hati dijalan, mudahan dapat banyak ikan.” Jawabku.
Akhirnya aku mandi lalu sarapan dengan lahap karna enak banget semurnya bapak, kalau beli di luar berbeda banget rasanya. Lalu aku telepon Toby.
“Bi, ngapain?” tanyaku yang langsung to the point.
“Di rumah aja ca, habis bantuin mama siram tanaman,” jawabnya dengan nada rada ngantuk.
“Dah mandi belum?” tanyaku lagi.
“Belum, kenapa ? tiba-tiba nanyain mandi?” tanyanya.
__ADS_1
“Ya gapapa, lagian kamu ditelepon gak ada semangat-semangatnya.” Jawabku kesal.
“Bukan gitu, aku ngantuk tapi dipaksa bangun,” jawabnya.
“Yaudah kalau gitu, kamu setelah bantuin tante Maren, kamu ke rumah yaa… titip beliin es doger di seberang jalan depan situ ya.” Ujarku dan langsung mematikan telepon seakan percaya dia akan langsung kesini.
Lalu dia langsung meneleponku balik.
“Halo ca, kamu nih main mati-matiin telepon aja sih!” Ujarnya dengan nada kesal.
“Ya maaf, kenapa emang?” tanyaku santai.
“Kamu mau aku kesana? Mau ngapain?” tanyanya.
“Oh jadi kamu gak mau kesini, ya gapapa, cuma bapak nih lagi mancing sama tetangga, aku malas dirumah sendiri takut dan malas, ngerti gak? Kalau gak mau kesini ya gapapa, biar aku main ke tempat Ana aja.” Jawabku dengan tegas.
“Thanks bi, ditunggu ya, hati-hati.” Jawabku dan kali ini menunggu dia yang matiin telepon.
“Iya, daa….” Jawabnya.
Sekali-sekali aku bersikap manja karna aku sama sekali jarang bermanja ria dengan lelaki terlebih dia kan calon suamiku jadi tidak ada salahnya aku bermanja-manja dengannya. Sambil nunggu Toby aku jalan pakai sepeda gayuh ke warung belakang kompleks karna mau beli cilok dan tahu isi, disitu enak banget soalnya yang jual bapak-bapak yang sudah cukup tua tapi nemenin istrinya jualan, cuma yang bagian bikin itu si bapaknya, ibunya bagian warung bahan pokok sama sayuran gitu. Lalu ketemu sama temen sekompleks dan dia cerita kalau di belakang rumah dia itu kan rumah kosong karna yang punya rumah itu gak pernah balik ke rumah itu, pak RT juga sudah mencari pemilik rumahnya katanya di luar pulau dan rumah itukan tidak terurus dan masih banyak barang-barang pribadi, takut di curi juga karna ada tembok jebol, dan yang punya rumah malah menitipkan rumah itu agar dijadikan pos aja biar terisi dan temanku ini menemukan sebuah cermin yang nampak usang dan kuno dan setiap dia ngaca dia merasa cantik.
Oh iya dan temanku ini juga anaknya pak RT itu, dan kami beda RT di kompleks ini, aku pun penasaran dan ingin kesana untuk melihat tetapi Toby telepon katanya udah ada di depan rumah dan rumah dikunci, aku jadi pamit dan akan ke rumahnya kapan-kapan untuk melihat-lihat yang dia ceritakan itu. Lalu aku bergegas pulang dan melihat motor Toby sudah terparkir dan juga membawa es doger dan seketika aku tersenyum karna tumben banget Toby gak pakai mobil dan motor ini cukup jarang terpakai.
“Kamu dari mana ca?” tanyanya.
“Dari beli cilok sama tahu isi, ini masih panas dan enak banget cocok sama es doger di cuaca ini.” Jawabku sambil masuk ke rumah dan menyiapkan jajanan ini.
“Iyaaa…. Terserah kamu deh,” jawab Toby mengikutiku dari belakang.
__ADS_1
“Kenapa terpaksa kek gitu?” tanyaku.
“Gapapa, kamu beli dimana ini?” tanyanya sambil mencoba tahu isi yang masih panas itu.
“Di blok G,” jawabku.
“Emang ini blok apa?” tanyanya.
“Ini kan C, G di pojokan belakang sana, terus tadi aku ketemu temenku dan dia cerita kalau ada rumah di belakang rumahnya mau dialih fungsikan jadi pos gitu, gegara yang punya rumah belum bisa kembali dan pengen gaada rumah terbengkalai di blok G, lalu temanku ini nemuin kaca yang usang dan tiap dia ngaca dia selalu merasa cantik gitu, aku mau liat tadi tapi keburu kamu dah telepon jadi gak jadi.” Jawabku dan lanjut bercerita dengan excited.
“Hati-hati aja, terkadang kaca itu bisa menyerap energi di masa lalu saat dia digunakan oleh siapa, jadi jangan sembarangan lebih baik disimpan aja.” Jawab Toby dengan serius.
“Hah? Bahaya dong?” tanyaku.
“Bisa bahaya bisa tidak, karna cermin tuh kek menangkap cerita di masa dia berada, jadi kadang yang bercermin bisa aja tambah cantik atau bisa juga bukan dirinya yang bercermin.” Jawab Toby sambil makan cilok dengan lahap.
“Gitu ya, yaudah aku chat temenku tadi biar dia hati-hati gak banyak bercermin, keknya kalau usang berarti emang cermin kuno.” Jawabku sambil mengabari temanku tadi.
Kami lanjut ngobrol dan juga aku menceritakan mimpiku semalam, Toby merasa ada yang ganjal seakan-akan itu bisa ditafsirkan aku juga sudah bercerita ke Ana supaya Ana cerita ke ibunya dan ada suatu pertanda. Tak lama Ana menelepon.
“Halo ca, kamu dimana?” tanyanya.
“Dirumah ini sama Toby,” jawabku.
“Pacaran terus ya kalian ini,” jawabnya sambil tertawa.
“Ya gak pacaran sih cuma jadi temen makan dan jajan aja,” jawabku dan langsung liat muka Toby yang bete banget denger jawabanku dan lalu aku juga tertawa ngakak dengan Ana, karna Ana tau kalau aku suka godain Toby.
Lalu Ana menceritakan hasil dan maksud dari mimpi itu yang sudah dibicarakan dengan ibunya dan ternyata itu adalah termasuk sebuah kunci meskipun samar. Aku dan Toby mendengarkannya dengan sangat serius dan mencoba menghubung-hubungkan dan menerka-nerka apakah bisa meluruskan benang merah yang sangat ruwet ini, kami bahkan berubah menjadi video call juga dengan ibunya Ana dan juga tantenya, dan hal ini menjadi semakin terjawab kenapa pak Broto tak bisa muncul ke permukaan dan sulit sekali untuk ditemui.
__ADS_1