Rumah 7 Turunan

Rumah 7 Turunan
27. Mati


__ADS_3

Entahlah, aku terjatuh dan tak bisa bangkit lagi... itu hanya lagu yang ku nyanyikan dalam hati, karna badanku rasanya sakit semua apakah ini karna aku jatuh dari pohon. Aku melihat sekelilingku yang ada hanyalah orang lalu lalang dan samar pergerakan nya, ini aku dimana kenapa aku bisa melihat Amini, aku kan Amini. Aku tak bisa bangun dan aku tak bisa melihat dengan jelas, seakan pandanganku kabur dan banyak orang berjalan sangat cepat dan lambat.


Pandanganku bagaikan hologram, apakah ini duniaku atau dunia lain aku sama sekali tak bisa membedakan. Kepalaku terasa pusing dan semua badan ku sakit dan kram. Aku berusaha bangun tapi tak bisa, bahkan saat ku lihat tanganku, terasa seperti transparan, apakah aku ini arwah, atau aku tak bisa kembali ke tubuh asliku tapi bagaimana aku bisa kembali ke tubuh asli sedangkan aku tak mengerti ini ada dimana.


"Kamu bisanya meninggalkan kakakmu Batara? ini semua ulahmu, kakakmu itu perempuan, tidak boleh manjat-manjat seperti itu". Terdengar suara bu Asmirah samar-samar tapi terkadang melengking seperti kaset rusak.


" Maaf ibu, Batara tak tahu ini akan terjadi, hanya ditinggal sebentar" Jawab Batara lirih.


Banyak suara yang masuk kedalam telinggaku sampai aku tak kuat lagi mendengar banyak suara. Lalu aku terbangun, aku sebagai Amini bukan Aca. Mengecewakan sekali.


"Amini... Amini sayang, kamu sudah siuman nak" Ucap bu Asmirah sambil memegang pipiku.


"Kakak... maafin Batara yaaa" Ucap Batara sambil mengenggam tangan ku.


"Iyaa... " Jawab ku lirih.

__ADS_1


"Sudah.. sekarang tak ada yang boleh naik pohon lagi yaaa" Kata bu Asmirah memperingati. Sontak kami langsung mengiyakan.


Bu Asmirah menyuruhku kembali istirahat dan memberikan susu. Mereka yang ada dikamar itu keluar tapi entah mengapa seakan melihat banyak orang di kamar ini. Sangat aneh apakah ini efek aku jatuh, padahal jatuh juga tidak tinggi pohon nya. Saat aku memejamkan mata, tiba-tiba perasaanku tak enak, seperti ada hawa dingin menyeruak. Tubuhku terasa berat dan merinding.


Ketika aku membuka mata, aku kaget dan berteriak tanpa suara. Ada wanita di depan ku dan menatap penuh rasa dendam, wanita berpakaian lusuh, dengan rambut panjang yang berantakan, tiba-tiba menjulurkan lidah dengan mata melotot keatas, dia memegang lehernya dengan napas tercekik. Lalu tubuhnya melayang tetap dalam posisi itu dengan kaki seakan mencari pijakan, apa yang aku lihat ini sangat menakutkan. Aku ketakutan tubuhku tak bergerak dan mata tak bisa memejam seakan dia ingin memperlihatkan kematian terakhirnya.


Aku seakan merasakan sakit pada leher dan susah bernapas, aku tercekik dan susah mengeluarkan suara. Sakit sangat sakit sampai aku menitihkan air mata, bukan menitihkan lagi tapi aku menangis dalam diam, sangat deras dan amarah memuncak sampai ke ubun-ubun.


"Non... non kenapa non... bu... ibuu.... tolong kemari buu". Terdengar teriakan mbok Darmi.


" Kenapa? kenapa? " Jawab bu Asmirah menjawab sambil berlari masuk kamar.


Mata ku melotot seakan mau keluar dan kulihat wajah bu Asmirah tertegun shock seakan dia pernah melihat kejadian ini.


"Mati.... mati... matiii.... kauuuuu" Suara lantang tapi lirih dan serak bergema entah dari mana.

__ADS_1


"Matiii.... Asmirah! " Bentakan keras sampai kaca jendela pecah.


Pak Broto dan Batara langsung masuk ke kamar, menyaksikan kamar yang sudah kacau berantakan. Seakan melihatku dan kaget, bahkan Batara berteriak ketakutan.


Aku... aku..


Badanku seakan terangkat oleh angin, kakiku ku gerakkan karna mencari pijakan, seakan leherku semakin tercekek, aku memberontak sekaligus kesakitan, apakah aku akan mati?


apakah aku mati saat ini, kenapa semua orang hanya melihatku sambil ketakutan, kenapa tak ada yang menolongku. Aku menatap mata pak Broto dan...


"Broto... Anakku" Suara yang terdengkar dari mulutku.


Entah mangapa tatapan pak Broto menjadi sedih dan meneteskan air mata. Tapi bu Asmirah tiba-tiba merangkul kaki ku, dan ditariknya.


"Cepat.. bantu turunkan Amini! " Teriakan bu Asmirah.

__ADS_1


Tetapi bukanya aku turun, aku semakin terpelanting ke tembok. Brak!! Suara tubuhku menghantam tembok.


Gelap.


__ADS_2