
Semenjak kejadian itu aku mengurung diri dirumah karna perasaanku semakin kacau, bukan hanya trauma tapi juga shock yang berlebihan seakan mereka yang disana mempermainkanku secara berkala, aku rasanya marah dan tak tahan dengan permainan mereka ini, mana yang baik dan mana yang jahat seakan abu-abu, sudah seminggu aku hanya dirumah dan pekerjaan kantor semuanya aku suruh Tiar dan Ilmi yang mengatur serta Roy yang bagian nge accept, aku gak mau berkomunikasi dengan siapapun dan aku minta tolong banget sama Ana untuk sementara waktu aku hanya ingin sendiri dengan diriku sendiri, sosok ku sendiri, aku sebagai Aca, bukan aku sebagai orang lain atau aku yang bagian dari para makhluk astral itu.
Aku hanya ngobrol dengan bapak, bahkan Toby pun aku gak ingin berbicara dengannya, semenjak terakhir kali dia asik dugem dengan rekan-rekan wanitanya, rasanya aku gak peduli dengan masalah percintaanku, yang aku pedulikan adalah setengah dari diriku hilang, seakan setengah lagi ada yang dengan nyaman menempatinya dan aku tak tahu siapa yang nyaman dengan diriku ini, apakah Amini atau aku gak tau karna aku sama sekali gak bisa berpikir. Terkadang saat aku menutup mata entah mengapa aku berimajinasi seolah aku hidup di jaman dulu dan seolah aku yang sekarang ini gak pernah ada, sering kali aku menjalani dunia yang aku bayangkan secara acak, aku memang sering berimajinasi dan normal bagi seorang desainer untuk berimajinasi membuat project cerita atau bahkan apapun itu, tetapi malah aku gusar dan seakan aku ini bukan aku.
Bapak menyuruhku untuk ke psikolog karna khawatir dengan mentalku atau aku yang sedang down, tapi aku hanya tak ingin berbicara dengan siapapun dan melakukan apapun, seminggu ini aku hanya bangun siang, masak pun jarang dan lebih sering bapak yang masak atau beli, bapak sangat mengerti anaknya yang tidak remaja lagi seperti abg yang lagi labil, padahal aku dulu tidak seperti itu. Aku juga tak ingin tau tentang kehidupan kantor dan anak-anak kantor, aku memang memblokir diriku dengan dunia luar, aku hanya senang sendirian dan memang sendirian ini menenangkan yang hanya aku takutkan adalah diriku dengan imajinasiku yang random dan kadang di luar imajinasiku biasanya. Aku jadi takut menutup mata menjelang tidur, rasanya sangat menyesakkan dan takut sangat menakutkan sangat-sangat entahlah tak bisa aku deskripsikan dengan kata-kata. Aku juga melarang siapapun untuk menjengukku, barang siapapun kudapati berada di rumahku akan langsung aku musuhi. Aku hanya mendengarkan lagu-lagu yang sudah lama tidak aku putar dan menonton film komedi yang bisa membuat aku lupa akan kekosongan yang aku rasakan. Sehari-hari melamun bahkan aku sama sekali tidak membuka HP ku, hanya buka laptop aja untuk nonton atau ngegame.
Lalu tiba-tiba bapak pulang bersama temannya, ternyata temannya adalah psikolog dan bapak ingin aku berbicara dengannya, aku marah dan aku gak mau tapi bapak memaksa dan memintaku untuk menurutinya agar bapak menjadi tenang akhirnya aku menyetujuinya, beliau wanita dan di minta bapak untuk ngobrol di kamarku saja.
“Halo Aca, nama saya Damayanti, mungkin saya bisa mendengarkan keluh kesah dan rasa sakit didada, bukan karna apa-apa yaa… cuma biar merasa lega.” ujarnya memperkenalkan diri.
“Iya, terimakasih, tapi ini berhubungan dengan supranatural, ibu gak akan paham dan gak akan mengerti karna tidak bisa dibuktikan dan pasti saya yang dianggap gila!” jawabku langsung mempertegas.
“Iya, jangan salah, saya jadi psikiater tentu saja ada sebabnya, waktu kecil saya punya banyak teman yang tak kasat mata, tentu saja saya bisa memahamimu.” jawabnya santai.
“Serius dok? Saya harus memanggil dokter atau ibu?” tanyaku.
__ADS_1
“Itu bebas saja, iya serius, saya dulu gak punya temen dan bermain sendiri sampai saya punya beberapa teman dan dianggap gila.” jawabnya sambil membenarkan sanggulnya yang sedikit merosot, wanita paruh baya ini memang nampak keibuan dan seumuran dengan bapak.
“Maaf dok, dokter teman bapak?” tanyaku penasaran.
“Iya, kebetulan kakek kamu adalah sahabat ayah saya, jadinya kami kenal karna sering berkunjung dan acara persahabatan jaman dulu,” jawabnya teduh.
“Oh iya, saya ingat sepertinya dokter pernah muncul saat kakek meninggal, dulu waktu saya kecil seperti melihat foto dokter dan kata bapak itu saudara jauh.” jawabku mulai tenang dan gak menutup diri lagi.
“Iya saya berkunjung, kamu dari pada dokter-dokter mulu, panggil saya tante Dama aja.” jawabnya senyum.
“Jauh dong, tante sampai naik kereta kesini karna diminta bapakmu buat dateng,” jawabnya.
“Makasih ya tante, maaf juga sedikit kasar di awal,” jawabku.
“Gak papa kok, jadi enaknya kamu mau cerita sambil rebahan? Biar nyaman.” jawabnya menyarankan.
__ADS_1
“Boleh, aku sambil baring ya tan? Tante gak hipnotis atau apapun kan?” tanyaku.
“Tidak kok, tante hanya ingin membuatmu nyaman dan kita bisa berkomunikasi untuk seterusnya meskipun online, tante harus tau permasalahanya dulu dan bisa resepin obat biar kamu bisa tenang dan gak susah untuk tidur, katanya jantungmu selalu berdebar dan susah tidur kan?” tanya tante.
“Lebih tepatnya takut menutup mata dan selalu ngayal yang aneh-aneh, jadinya entah mengapa jadi terjaga dan lebih baik terjaga.” jawabku.
“Karna itu bapak jadi beliin kamu cat tembok biar ada kegiatan yakan?” tanya tante Dama.
“Hahaha… iya lagi, bapak yang stress karna anaknya gak jelas, jadi bapak beli cat dan disuruh ngecat rumah, hasilnya ya itu tante lihat di ruang tamu yang awalnya putih sekarang warna biru,” jawabku sambil tertawa malu.
“Tante ngerti kok, dan setelah itu apakah kamu merasa lega?” tanya tante Dama.
“Lega sih, jadinya kek kecapekan dan bisa tidur, jadi semenjak itu ada aja yang dikerjain.” jawabku sambil mengingat-ingat.
Setelah itu entah mengapa tante Dama menyuruhku menutup mata dan menceritakan semuanya yang ingin diceritakan, kalau ada yang tante Dama gak perlu tau maka beliau tidak memaksa, dan tanpa sadar aku hanyut dengan cerita-ceritaku sambil rebahan dan rasanya nyaman sekali, sangat nyaman dan entah mengapa aku jadi ketiduran dengan nyenyak.
__ADS_1