
Jam waktu pulang sudah tiba, yang lainnya siap-siap untuk pulang sementara aku masih berkutat dengan mempelajari berkas-berkas yang bikin pusing, lalu Roy menghampiri dan bilang pengen makan mie aceh abah Adi, Ana sama Ambar juga pengen, sementara Kris langsung pulang karna ada urusan dengan keluarganya dan aku juga ikut aja, sampai sana jadi inget Toby biasanya aku ajak ke warung abah Adi sekarang dia ngapain ya, makan apa dia kira-kira, aku coba chat dan belum dibalas, sedangkan aku kirim foto mie acehnya ke dia. Sementara terdengar suara Roy yang sedang ngobrol dengan abah Adi, Roy sangat memuja mie acehnya, dan abah juga dari Aceh, lalu kami makan dengan lahap sampai kenyang, terus minum teh susu tarik yang enak banget racikan istrinya abah, terbaik memang pasangan satu ini.
“Si abah bagi resepnya gak sih Roy tadi?” tanya Ambar.
“Ya gak lah mbar, bisa aja pertanyaanmu,” jawab Roy ngakak.
“Ya bisa aja lah, kamu kan suka tanya-tanya, energimu kek jarang habis,” jawab Ambar.
“Aku cuma tanya berapa harga kalau mau pesen untuk paketan acara yang banyak,” jawab Roy.
“Emang ya, pebisnis gitu ya tanyanya,” jawab Ambar.
“Ya kan kita tanya aja peluangnya yakan, kali aja kedepan bisa kerja sama,” jawab Roy.
“Foto yuk, mau bikin story.” ujar Ambar lalu kami semua menurutinya.
“Kenyang banget gilak,” ujarku.
“Kenyang, entar sampai rumah pengen nyemil,” jawab Roy.
“Emang, bisa gitu yaa… hahaha” jawabku.
“Ya apal kali caa, dah berteman berapa taun kita,” jawab Roy.
“Eh tapi kalian bertiga kan temenan lama nih, emang gak ada yang jatuh cinta gitu? Kan pertemanan antara wanita dan lelaki itu mustahil kalau salah satunya gak ada rasa,” tanya Ambar tiba-tiba.
“Gak lah, gila aja!” saut Ana sensi.
“Ya biasa aja kali na, kan mungkin terjadi, kan Roy sama Ana itu mantan primadona SMA,” jawab Ambar.
“Gak lah mbar, cewek sekeren aku gak bakal mau sama play boy,” jawab Ana ketus.
“Iya, iya, biasanya emang gak cocok kalau sama-sama tampil,” jawab Ambar.
“Terus cocoknya yang kek apa?” tanya Roy.
__ADS_1
“Ya Ana cocoknya sama laki-laki yang tenang dan tak terlalu narsis, mengayomi, kalau Roy cocok sama cewek yang pengertian jadi aman deh gak uring-uringan,” jawab Ambar.
“Jadi menurutmu aku gak cocok sama Toby karna selalu uring-uringan?” tanyaku.
“Gak gitu ca, kan kamu emosian sedangkan Toby penyabar, jadi ya cocok aja, saling pahamlah ya, bukan sama-sama emosi baru tuh serem,” jawab Ambar.
“Iya tuh, lagian gak perlulah marah-marah mulu ca, lihat tuh Toby berusaha keras kelak bangun rumah tangga sama kamu juga, udah pasti jadi gak perlulah berlebihan,” jawab Ana.
“Ya wajarsih, orang LDR, aku sebagai mantan yang mantannya banyak juga paham, gimana kalau berjauhan.” imbuh Roy.
“Emang aku berlebihan?” tanyaku.
“Iyalah, kamu tuh terlalu kasar sama orang yang lembut,” jawab Ana.
“Tapi bukannya Aca emang kek gitu ya sifatnya, jadi ya pihak sana harus ngerti sih,” jawab Roy.
“Ya sama-sama harusnya ngertinya itu,” jawab Ambar.
“Iyalah harus sama-sama, kalau cuma satu yang berjuang ya percuma, makanya kek gini nih capek tau berhubungan.” jawab Ana dan kami semua jadi tertawa karna Ana selalu memberikan efek ke kami seakan jangan pacaran karna pacaran itu ribet.
“Aku jadi males pacaran juga deh,” jawab Ambar.
“Iya nih, dah lama banget, kek males gitu memulai suatu hubungan,” jawab Ambar.
“Tuh kan, bener kataku.” jawab Ana.
Kami masih berkutat dengan hubungan antar dua manusia yang susah bersatu karna beda kepribadian, jadinya ya sampai malam gak sadar tiba-tiba Toby telepon.
“Halo ca,” ujar Toby.
“Iya, aku belum pulang masih sama anak-anak,” jawabku.
“Pulang aja, udah malam, kamu nih kalau kangen aku bilang, malah makan ditempat kita biasanya,” jawab Toby.
“Ya kan lagi pengen makan, yaudah ini juga mau pulang, nanti sampai rumah aku telpon,” jawabku dan kami bergegas pulang karna sudah petir dan seakan mau hujan.
__ADS_1
Diperjalanan Ana bilang kalau aku jangan sampai lupa dengan perasaan Toby yang selama ini sudah berupaya dengan giat untuk mendapatkanku, jika ada orang ketiga jangan makin menjauh berantem-berantem gak jelas, harusnya makin mempererat, kalau semuanya sudah aman, Ana bilang kalau aku juga harus cerita ke Toby tentang perasaannya Roy, karna dengan begitu Toby jadi tau situasi yang dihadapinya, jangan sampai karna ada cinta yang lain datang, cinta sesungguhnya musnah. Karna memang banyak ujian bagi kita semua, banyak setan-setan berkumpul berusaha menghancurkan kebahagiaan, jadi aku diingatkan bener-bener sama Ana dan aku mengiyakan dan berusaha untuk percaya dengan Toby disana.
Sesampainya dirumah aku memberikan oleh-oleh mie aceh buat bapak yang lagi sibuk menggambar di ruang kerjanya, dan aku mandi lalu ke kamar telepon Toby.
“Udah sampai rumah?” tanya Toby.
“Iya udah, udah mandi juga, kamu tadi makan apa?” tanyaku.
“Makan nasi goreng dideket kos sini, kamu jangan kebiasaan pulang malam-malam ya kalau gak ada aku,” ujarnya khawatir.
“Kan sama anak-anak juga,” jawabku.
“Meskipun gitu aku gak suka kamu pulang malam caa.” jawabnya.
“Oke, aku gak sering-sering.” jawabku yang seakan terpaksa mengikutinya.
“Aku disini masih struggle dengan pekerjaan yang banyak sekali tanggung jawabnya, jadi aku juga belajar bisa handle dan bagi waktu,” ujarnya bercerita.
“Iya aku paham, maaf ya kalau beberapa hari aku agak emosian.” jawabku meminta maaf.
“Iya sayang, aku ngerti kok, kamu khawatir dan juga takut, kamu tenang aja, bulan depan sehabis aku gajian kamu main kesini ya, nanti aku belikan tiket pp dan apapun keperluanmu disini,” jawabnya dengan nada yang teduh.
“Hah, gak perlu lah, gaji pertamamu dengan jabatan baru buat mama sama mbah putri aja,” jawabku.
“Mama maunya kamu kesini, biar tau kehidupanku disini, jadi kelak kamu bisa paham,” jawab Toby.
“Iya oke kalau gitu,” jawabku tak bisa menolak karna calon ibu mertua yang bilang.
“Keadaan di kantor aman aja kan?” Tanya Toby.
“Gak usah bahas kantor deh, capek kepalaku dengan berkas-berkas mu,” jawabku.
“Iya sayangku, maaf yaa… kamu juga disana baik-baik jangan sampai buka hati buat orang lain ya, apalagi anak di studio itu mengkhawatirkan,” jawabnya khawatir.
“Siapa? Anak studio kan kebanyakan bercanda gak jelas.” jawabku.
__ADS_1
“Ya pokoknya hati-hati,” jawabnya.
Lalu kami lanjut ngobrol tentang rencanaku menemuinya, sampai pamit karna sudah ngantuk sekali, dan dia memintaku untuk tak mematikan telepon karna dia rindu katanya, biarkan sleep call sampai pagi.