
Sampai depan rumah Roy langsung pamit pulang karna dia ada urusan sama orang kantor dan ketika aku masuk rumah aku kaget ternyata ada mamanya Toby sedang berkunjung dan aku tau arah pembicaraan ini kemana. Rasanya aku pengen banget balik badan dan pergi dari rumah ini karna suasana hatiku sudah baik melihat ini jadi kembali rusuh.
“Sudah pulang nduk,” ujar bapak seakan memberi kode untuk tetap ramah dan jaga muka agar tidak nampak tidak suka seperti saat ini.
“Iya pak, halo tante.” ujarku sambil salim ke mamanya Toby.
“Iya Aca, mama kesini mau ngobrol sesuatu sama Aca, boleh yaa?” tanyanya dengan lembut.
“Aku permisi mandi dulu ya tante, habis dari luar juga,” jawabku yang seakan tak ingin memanggilnya mama tapi selalu dibiasain panggil mama.
Aku mandi sambil berpikir kalau aku tak boleh goyah, memang aku menyayangi mamanya Toby bahkan keluarganya yang aku kenal, tapi mengingat perlakuan Toby padaku yang tidak mengenakkan aku pokoknya harus kuat dengan keputusanku dan sama sekali gak boleh goyah sedikitpun. Lalu aku ke depan menemui beliau dengan tetap senyum ramah terpaksa.
“Maaf ya lama tande, jadi gimana?” tanyaku langsung to the point.
“Nak Aca seriusan mau putus dari Toby?” tanya nya lembut.
__ADS_1
“Dengan keyakinan tinggi tante, sangat serius.” jawabku berusaha tidak berekspresi berat hati atau dongkol tapi lebih ke ikhlas.
“Mama minta maaf atas perilaku Toby yang menyakiti Aca, tapi mohon banget dipikirkan dengan kepala dingin jangan memutuskan saat emosi nak,” ujarnya sambil menarik napas panjang.
“Gimana ya tante, sudah berkali-kali saya ini bilang ke Toby tapi sama sekali gak digubris, bahkan Toby semakin liar dan lincah dalam berbohong, lalu saya disuruh mengerti dan mengikutinya terus? Yang ada saya stress.” jawabku dengan sopan.
“Memang Toby sangat keterlaluan, padahal mama selalu beri tau jangan sampai menyakiti wanita, tapi memang pergaulan disana seperti itu jadi mama sendiri juga bingung kalau Toby gak bisa menjaga dirinya dan hubungannya, makanya mama sangat marah besar.” ujar tante dengan muka penuh kecemasan yang membuatku sedih melihatnya.
“Maaf tante, tapi seriusan Aca sudah memutuskannya dengan kepala dingin, bahkan Aca juga meminta maaf sama Toby karna tak bisa seperti yang Toby mau, andaikan kalau Toby memang serius dia pasti bisa menyempatkan waktu untuk datang dan berbicara langsung, tapi dia seperti cuek dan marah-marah dan semakin menyalahkan Aca.” jawabku.
“Terima kasih kamu sudah mau sabar menghadapi anak mama ya nak, mama rasanya malu melihat Toby seperti ini bahkan biasanya yang tidak pernah bantah sekarang dia seperti orang lain, lingkungan memang seberpengaruh itu.” jawab tante dengan sedih.
“Maaf kan Toby nak, bisakah kamu beri kesempatan yang kesekian kali? “ tanyanya.
“Maaf tante, maafin Aca, Aca bakal tetap main kerumah tante seperti yang sudah-sudah. Aca mohon maaf.” ujarku dan memeluknya sambil menangis sedikit-sedikit dan lama-lama pecah, dan bapak hanya memberikan kami ruang untuk menangis.
__ADS_1
Setelah itu mamanya Toby pamit pulang, ternyata tadi naik ojol karna suasana mendung akhirnya bapak yang mau mengantarkan beliau sedangkan aku melihat Sunny yang asik tidur dan mengganggunya agar bangun dan aku gendong ke kamarku, lalu tak lama ternyata Ana datang dan langsung masuk kamarku dan membuat aku kaget, dia datang dan langsung memelukku dengan erat dan sangat erat.
“Apa Sih na? Bikin kaget aja!” ujarku kesal.
“Maaf ya ca, maaf banget aku salah menilai Toby si brengsek itu, apa mau aku samperin dia dan meludah di mukanya?” tanyanya marah dan wajahku langsung semringah tertawa terbahak-bahak melihat Ana yang gemesin ini.
“Ngapain na? Udah biarin aja, ngapain jadi minta maaf sih?” tanyaku sambil tertawa.
“Kenapa ketawa? Kok bisa? Kamu harusnya menangis dengan merdunya.” jawabnya yang heran.
“Capek tau na nangis itu, habis-habisin tenaga aja, capek banget pokoknya, kalau Toby gitu jadinya dia yang bikin surat terbuka untuk selesai kan ya?” tanyaku.
“Iya, karna dia pengecut yang gak berani muncul ke permukaan, aku udah denger soalnya Roy tadi ngerekam percakapan sama Toby, dan dia emang bener-bener anjing, gimana dia bisa nyalahin kamu tuh dimana, secara logika aja gak masuk akal!” ujar Ana marah-marah.
“Hah? Roy ngerekam telepon tadi? Buset dah Roy niat amat, ya gimana orang dia cuci tangan habis cekik orang, jadi yaudah deh, aku males pusing berlama-lama, stress tau, dah lama gak kerja juga tangan gesit ngegambar ini sampai dah kaku,” jawabku yang mengalihkan pengen kembali kerja.
__ADS_1
“Emang duh pengen ludahin sumpah, gak tau bersyukur juga, emang laki-laki ujiannya kalau punya apapun bakal tau dia akan gimana,” jawab Ana.
Akhirnya aku menceritakan tadi kedatangan mamanya Toby dari awal sampai akhir, dia mendengarkannya dengan seksama dan sedih juga karna mamanya Toby emang udah terlanjur sayang sama aku bahkan jadi anak mantu kesayangannya walaupun masih calon dan sekarang menjadi kandas, memang sangat ironis tapi namanya hidup gak mungkin berjalan mulus-mulus aja, aku berusaha ikhlas dan menjalaninya dengan tenang, karna sakitku sekarang aku percaya bahwa Tuhan sudah menyiapkan obat ketenangan dari rasa sakit pasti ada kebahagiaan yang menanti.