
Arghhhhhhhh!!!
Terlalu lama disini membuatku terlalu marah dan gila, apakah aku akan berubah menjadi gila seperti ketidakwarasan Asmirah yang kadang baik dan jahat?
Dimana sebenarnya Amini, astaga Amini kamu ada dimana? teriakanku dalam hati.
Aku menatap jendela dan melihat keluar, taman yang indah dengan banyak tanaman, mengapa aku baru menyadari ini, jika banyak tanaman rimbun diluar rumah, lebih rimbun dari pada rumah ini dimasa depan. Mungkin banyak renovasi dari generasi ke generasi, tapi yang paling estetik adalah dimasa ini.
Jika aku amati dan telusuri rumah ini memang sangat vintage dan indah, tanaman di luar maupun di taman belakang sangat cantik, sepertinya aku juga harus menelusuri lebih detail lagi tentang sekitar rumah ini, dimasa depan ini adalah kompleks elit perumahan orang-orang berada, bangunan model belanda yang masih terjaga. Aku harus jalan-jalan kesekitar rumah ini untuk merefresh pikiranku.
"Bu, bolehkah Amini jalan-jalan di sekitar rumah? " Tanya ku pada Asmirah yang sedang membuat teh.
"Boleh, hati-hati. Pakai lah topi mu, " jawabnya tenang.
"Baik bu. " Jawab ku singkat dan menuruti permintaanya untuk memakai topi.
"Bolehkah aku juga ikut? " Tanya Batara.
"Tidak, badanmu masih hangat gara-gara berkelana dengan bapakmu. " Jawab Asmirah tegas.
"Tapi bu, " bantah Batara.
"Sudah, minum teh nya dan kembali ke kamarmu. " Ucap Asmirah.
Aku keluar dari rumah dengan hawa yang sangat sejuk dan menenangkan, taman depan rumah sangat rimbun dengan banyak tanaman, kalau dimasa depan tertata rapi tak serimbun ini, tapi jika rimbun seperti ini sangat teduh dan enak sekali. Masa ini belum memiliki pagar rumah, hanya patung harimau sebagai penanda batas. Sebelah rumah adalah rumah bu Hartanti, dimasa ini hanyalah tanah dengan banyak ilalang dan pepohonan sangat luas baru diujung ada rumah lagi yang seingatku masih sama dengan masa depan hanya berbeda pada cat tembok saja.
Aku mencari pos satpam tak ada, di masa ini tak ada bangunan pos, bahkan tempatnya pun aku tak tahu ada dimana, tanah nya sangat berbeda dengan yang dimasa depan. Jika pohon kenanga masih ada dan sama persis hanya yang ini masih kecil, banyak sekali pohon yang aku tak tahu namanya. Tapi bukankah bapaknya pak Widyo seingatku juga tinggal disini. Mungkin eyang kakung atau keturunan yang lebih dulu tinggal disini juga.
Tapi bagaimana aku bisa mencarinya, ini kan 7 generasi, aku aja bahkan ibu dari nenek ku tidak tahu. Orang dulu memang membuat pohon keturunan, tapi di masa ku mungkin hanya sedikit dan keluarga tertentu saja, memang silaturahmi itu perlu dan mendekat kepada yang masih memiliki darah keluarga juga perlu.
Lama-lama aku berjalan yang entah ada dimana, aku menemukan sumur, entah mengapa banyak bisikan untuk menyuruhku mendekat, tapi karna aku sudah parno duluan aku memilih menjauh karna aku sadar diri aku sedang dalam kondisi yang tidak baik, bisa saja aku ketarik dalam sumur atau aku hilang entah kemana, lebih baik aku belajar dari pengalaman. Niat drive thru rumah hantu bisa nyasar ke dimensi lain kan sudah sangat horror bagiku.
Matahari semakin terik, aku memilih kembali kerumah, walau aku lupa jalan untuk kembali, aku tetap niat dalam otak dan jiwaku, aku harus kembali, kembali, kembali sampai berteriak. Tetapi memang sepanjang jalan aku tak bertemu manusia sama sekali, entah kenapa apakah memang sesepi ini kompleks yang aku tak tahu namanya.
Sampai akhirnya aku berhasil kembali kerumah pak Broto dengan selamat. Ternyata situasi rumah sedang tak baik-baik saja, terdengar suara Asmirah sedang bertengkar dengan pak Broto. Aku memilih tiduran di taman depan sampai aku tertidur.
"Aca... Acaaaa". Ada suara wanita memanggilku.
__ADS_1
"Bangun .. Aca bangunn! " Seru wanita itu dengan suara yang lembut.
Aku masih sangat mengantuk karna hawanya sangat sejuk dan tiduran dirumput sangat menyenangkan.
"Bangunlah.... " Suara itu sedang berusaha membangunkan ku.
Saat ku buka mataku, aku kaget yang aku lihat di depan mataku adalah Amini, Amini asli yang sangat cantik dengan rupa Indonesia yang khas, dan kudapati diriku adalah Aca. Aku sangat senang karna aku kembali kedalam tubuhku.
"Amini.. kamu Amini yang asli? " Tanya ku kegirangan.
"Iya Aca, " jawabnya singkat.
"Dimana dan kemana saja kamu? " Tanyaku sembari memeluknya.
"Aku ada disini, tak kemana-mana. " Jawab nya sambil membalas pelukanku.
"Dimana? " Tanya ku lagi.
"Disini." Jawabnya.
"Disini, dimana? " Tanya ku heran.
Aku kesal dengan jawaban Amini yang terkesan santai dan tidak jelas.
"Amini, kembali lah kerumahmu, aku harus kembali ke duniaku, " ungkapku dengan putus asa.
"Tidak, " jawabnya singkat.
"Kenapa? jangan mengurungku disini Amini, aku mohon. " Jawabku sambil memohon kepadanya.
"Ada maksud aku memanggil mu kesini. " Jawabnya tanpa ragu.
"Apa? sudah cukup lama aku berada disini. " Jawabku kesal.
"Tunggulah sebentar lagi, " jawabnya tenang.
"Sampai kapan? " Tanya ku.
__ADS_1
"Sabarlah sebentar lagi. " Jawabnya.
"Bagaimana aku bisa tahu maksudmu? " Tanyaku dengan amarah.
Amini hanya diam lalu menunduk sedih, sedangkan aku banyak sekali kata-kata kalimat yang aku lontarkan tapi tak di gubris sama sekali oleh Amini, dia hanya diam dan mendengarkan ku tanpa bantahan, seakan dia membiarkan ku untuk melepas segala kepenatan dan kegilaanku, aku marah, aku membentaknya sampai aku menangis tak kunjung berhenti.
Sampai...
Sampai aku dibangun kan oleh pak Broto.
"Amini... bangun nak, mengapa kamu tertidur di rerumputan? " Ucapnya sembari menepuk lembut lenganku.
Aku terbangun dengan sedih, ternyata aku mimpi di dalam mimpi, aku sedih karna aku bangun masih menjadi Amini, aku menangis, menangis sampai sesengukan. Sedangkan pak Broto heran dan mengendongku masuk kedalam rumah.
"Kenapa Amini mas? kenapa? " Tanya Asmirah yang tahu aku di gendong dalam keadaan menangis.
"Buatkan minum dulu. " Jawab pak Broto dan menurunkan ku dikursi makan.
Asmirah membawakan teh hangat kepadaku dengan tatapan yang khawatir, aku masih menangis dan meminumnya, entah mengapa aku tangisan ku ini tak bisa berhenti. Membuatku semakin kacau saja dan bingung juga kalau ditanya mengapa aku menangis.
"Tadi aku melihat Amini tertidur di taman depan, tanpa alas, sebab itu pakaianya kotor banyak rumput dan tanah. " Ucap pak Broto seakan menjelaskan kondisiku agar tak dimarahi Asmirah kalau pakaianku kotor.
"Bukanya tadi kamu izin untuk jalan-jalan di sekitar rumah? " Tanya Asmirah.
"Iya bu, lalu saat aku pulang, aku mendengar bapak dan ibu bertengkar, aku berniat menunggu, tetapi malah ketiduran. " Jawabku.
"Lalu kenapa kamu menangis? apakah kamu terjatuh? " tanya pak Broto sambil memeriksa kakiku dan tangganku.
"Tidak... aku hanya.. hanya.. hanya takut kalau bapak dan ibu bertengkar lalu meninggalkan ku. " Jawabku terbata-bata.
"Astaga.. itu tidak betul Amini, kami hanya bertengkar hal kecil saja, kamu tidak perlu takut. " Jawab Asmirah dengan tenang dan terlihat sekali berusaha untuk baik-baik saja.
"Iya.. " jawabku singkat, karna tidak tahu harus merespon apa.
"Mandilah, badanmu kotor, takut gatal-gatal tidur di rumput. " Ucap Asmirah.
Aku langsung mandi dan memikirkan apa kata Amini yang sangat biasa saja dan tidak menemukan jawaban dari mimpiku ini. Kenapa dia tak bilang saja secara langsung, mengapa dia membuatku masuk kedalam tubuhnya dan membuatku kebingungan. Ini sangat menbuatku marah dan ingin berteriak.
__ADS_1
Sampai kapan aku disini?!