
Duarrr.... Djedarrrrr...
Suara gemuruh petir menyambar dalam gelap disertai berisiknya hujan. Aku bangun dalam mimpiku mendapati diriku sedang ditatap makhuk tak kasat mata, bagaimana aku bisa tau kalau itu hantu? aku mengetahuinya dari rupa yang tak normal seperti tembus pandang namun seperti hologram yang tak bisa terlihat jelas.
Dan lagi, aku merasa ragu dan marah. Ada di alam mana lagi aku hanyut? sudah cukup lama aku terjebak dalam tubuh Amini, dan sekarang aku ada dimana dan apalagi ini. Rasanya semakin lama semakin tersesat dalam kerinduanku kepada bapakku dan teman-temanku. Lalu aku berteriak sekencang-kencangnya berharap aku bisa keluar dari dimensi ini, tapi nyatanya malah banyak sekali bisikan-bisikan yang sangat banyak sampai aku tak bisa mencerna apa yang mereka mereka katakan.
Tak sengaja aku bertatapan dengan salah satunya, wanita berbaju putih, seorang pribumi, dengan rambut panjang berantakan, rambut itu sangat panjang, dan yang aku lihat aku seperti mempunyai indra keenam untuk melihat dia dimasa lalu. Sri... namanya Sri, dia tinggal berdekatan dengan rumah pak Broto, berjarak kebun pepohonan yang rindang, dan dia melihat keributan di dapur antara bu Diajeng dan bu Asmirah. Sri adalah saksi, dia adalah saksi. Seketika itu aku membuka mata dan merasa bahagia karna ada saksi mata. Tetapi ini saksi mati, bagaimana bisa aku membongkar kedok bu Asmirah jika saksinya saja sudah tiada.
__ADS_1
Aku kembali menutup mata, aku menangis sesengukan merasakan kekejaman itu sebagai saksi, lalu Sri berlari kembali kerumahnya dan melapor kepada neneknya, saat mereka berdua datang kerumah bu Diajeng pelan-pelan karna neneknya Sri sudah cukup tua dan berjalan pelan menunduk. Belum sampai rumahnya sudah ada teriakan histeris, pertanda pak Broto sudah melihat bu Diajeng yang digantung oleh menantunya, tapi yang dilihat orang lain adalah gantung diri. Sri berusaha menjelaskan dan bilang pada pak Broto tapi bu Asmirah menariknya keluar dari rumah itu dan seperti mengancam.
Sri hidup tak tenang dan hanya bisa menangis penuh amarah, karna bu Diajeng sangat baik, bahkan Sri sudah dianggap anak dan pernah dijodohkan dengan pak Broto, tapi pak Broto sudah menganggapnya sebagai adik dan tetap memilih Asmirah sebagai istrinya, Sri menyesali pilihan pak Broto tapi dikuatkan oleh neneknya. Sampai suatu ketika Sri seperti melihat bu Diajeng menangis kepadanya, sering sekali tanda-tanda kehadiranya yang menuntut Sri untuk bilang yang sebenarnya kepada pak Broto.
Di suatu waktu, Sri mencoba mencari cara dan waktu untuk menemui pak Broto, tapi tak disangka Asmirah selalu mengamati gerak-gerik Sri, sampai akhirnya Asmirah menyuruh orang yang bekerja dirumah orangtua Asmirah untuk memberi pelajaran kepada Sri. Lantas sungguh biadab, lelaki itu memperkosa Sri begitu brutalnya tepat di halaman belakang rumah pak Broto, Sri pulang sangat lemas dan kesakitan, merasakan hancur yang teramat dalam dan entah bagaimana dia harus bercerita kepada neneknya.
"Siapa yang mau dengan wanita yang ternoda sepertimu? jangan-jangan kamu hamil anakku. Pikirkanlah tawaranku Sri" Ucapnya sambil berlalu pergi.
__ADS_1
Sri menangis terisak merasakan sakit didada, Sri tidak tahu apakah dia langsung hamil, harus kemana Sri mencari tahu, disaat baca tulis saja dia hanya bisa sedikit. Nenek berucap, kalau Sri tidak suka tidak mengapa, tapi ada baiknya tolaklah baik-baik agar tak menjadi dendam. Sri masuk ke kamarnya dan meratapi nasibnya yang hancur karna ulah Asmirah, amarah dan dendam sudah membakar dirinya, dan tak tahu dia harus berbuat apa kedepan nya.
"Asmirah.. kamu pembunuh Asmirah!! " Teriakan Sri di depan rumahnya.
"Keluar kamu pembunuh! jahanam kamu" Teriakan semakin brutal.
Tepat sekali yang keluar adalah pak Broto dan bingung dengan tingkah Sri. Sri langsung memeluk pak Broto dalam tangisan panjang sampai dijambak nya rambut Sri dan di dorong menjauh oleh Asmirah.
__ADS_1