
Memang ya, dunia ini kejam, menjalani hidup itu sesusah itu dan sebanyak itu cobaan dan rintangan, baik manusia ataupun makhluk lain di semesta ini, sampe rumah jadi kepikiran ceritanya Arin dan Febri tentang gonjang-ganjing keluarga mereka padahal baru juga kenal tapi udah diceritain masalah keluarga yang cukup dalam, memang di keluarga masalah utama adalah kabar dan komunikasi, keluarga lain mungkin tentang hutang, perselingkuhan dan tak adanya kasih sayang. Aku cukup sedih dan beranggan akan membangun rumah tangga sesuai dengan harapanku, tapi aku juga takut kalau harapanku hanya menjadi angan, mengingat bagaimana susahnya mengerti dua kepala dan dijadikan satu.
Apakah ini pilihan yang tepat dengan membuat Toby pergi dan berencana membuka hati Aca? Atau ini memang salah karna merebut kekasih orang lain? Semakin hari aku semakin kacau dan galau, pekerjaanku juga menguras energi dan membuatku lemah, sampai tiba saatnya Ambar membuat pesta perpisahan di rooftop sebuah hotel dengan makanan yang cukup menguras kantong dan muka Ambar yang sedih dan merasa sayang dengan uang, sedangkan teman-teman lain sangat menikmati malam perpisahan ini karna Toby lusa akan berangkat. Aku hanya duduk di pojokan mendengarkan musik dan menikmati suasana kota dari atas dan entah mengapa pesta ini terasa hambar atau memang aku yang tak bersemangat.
“Kenapa Roy?” tanya Ana.
“Gak kenapa-kenapa,” jawabku lesu.
“Masih sakit?” tanyanya.
“Lumayan,” jawabku.
“Kenapa Sih?” tanya nya kesal.
“Apa Sih?” jawabku lebih kesal lagi.
Lalu kita hanya saling bertatapan dan diam karna Ana tau aku lagi gak mood untuk berbicara dan kami hanya minum dan makan, sedangkan yang lain asik berdansa dan entah ngobrol apa mereka, Ana menepi karna aku tau energi dia cukup terkuras, gak mungkin ditempat ini gak ada setan, jadinya dia juga diam aja. Lalu tiba saatnya untuk Toby mengucapkan kata-kata sambutan dan akhiran dengan pidato yang sangat panjang dan suasana berubah menjadi haru dan sedih, sedangkan tiba-tiba Ana pingsan dan semua panik karna kalau Ana pingsan berarti dia dari tadi jagain kita dari sesuatu.
“Ada apa ini biiiiii?” tanya Aca berteriak karna Aca tau Ana sedang menjadi tameng, lalu Toby melihat ke sekitar dengan raut wajah yang pucat dan seakan kaget, dan semakin membuat semua orang juga panik.
“Gak kenapa-kenapa, mungkin Ana kecapekan, berikan ruang buat Ana, ada yang bawa minyak kayu putih?” tanya Toby seakan tidak terjadi apapun padahal jelas saja dia memberi kode karna ada anak intern pada Aca agar tidak berlebihan.
“Ini aku bawa,” jawab Ambar.
“Yang lain lanjut makan aja, Ana cuma kecapekan, udah biasa kok ini hahaha…… santai ajaaa ya, kasih ruang,” jawabku dengan tertawa garing.
__ADS_1
“Ca ngapain sih ca lebay banget tau gak?” bisik Kris.
“Ya aku kaget Kris,” jawab Aca.
“Udah kalian sono ikut gabung anak-anak lain jangan disini, biar Toby sama Ambar aja,” ujarku dan menyuruh mereka membaur.
Tak lama Ana sadar dan dia berkeringat sangat deras lalu memintaku untuk mengantarnya pulang, sedangkan Toby wajib menemani anak-anak lain sampai selesai, aku pun mengantar Ana, di mobil dia tetap diam hanya menarik napas dalam-dalam dan mengeluarkannya, ini membuatku pusing juga karna memang aku juga belum enak badan sepenuhnya. Sesampainya dirumah Ana aku langsung memapahnya karna dia masih lemas dan bu Wulan langsung memberikan air putih agar Ana tenang dan selepas itu Ana menangis sejadi-jadinya, yang membuatku dengan bu Wulan bertatap-tatapan dan kebingungan kenapa dengan Ana.
Lalu aku disuruh pulang sama bu Wulan karna sudah malam dan biarkan Ana tenang dulu, dan aku yang penasaran ini menjadi bingung, saat aku masuk mobil dan bu Wulan menghampiriku, beliau memintaku untuk tenang dan langsung tidur aja dan aku dibawakannya botol air mineral buat diminum dirumah, dan aku hanya iya-iya saja nurut. Sesampainya dirumah aku harus benar-benar nurut dan aku tidur dengan nyenyak sekali tanpa tau bagaimana dengan teman-teman yang lain apakah sudah pulang atau belum.
Paginya aku bangun dengan tubuhku yang segar, mandi dan langsung berangkat karna mau mampir sarapan dulu nasi pecel langganan lalu lanjut ke kantor dan belum pada datang, melihat story mereka rupanya pada bersenang-senang sampe datang pun molor, dan Ana izin gak masuk karna bilangnya lagi masuk angin. Aku beres-beres kantor ngerapiin meja, nyapu dan ngepel biar nyaman barulah si Tiar dan Ambar kebetulan datang bersamaan dan Tiar minta maaf karna telat dia langsung membantuku ngepel. Sedangkan mata Ambar nampak sembab seperti baru bangun tidur langsung ngantor, dilanjut para intern lain yang nampak belum mandi sama sekali, pemandangan yang membuat tidak cerah kalau melihat orang suntuk gini.
Aku langsung ke ruanganku dan bekerja dengan giat karna banyak sekali pekerjaan yang bertumpuk karna aku sakit kemarin, lalu terdengar suara ramai anak-anak yang pada baru datang dan aku tak menghiraukannya, seharian ini aku hanya di ruanganku dan Ambar yang masuk keruangan membawakan kopi dan sedikit diskusi, dia juga mengajak untuk menengok Ana dan aku menyuruhnya untuk biarkan Ana sendirian dulu, karna orang sakit tuh butuh istirahat bukan malah keramaian didatangi, baru juga hari pertama gak masuk, itupun juga masuk angin jadi gak usah berlebihan.
“Ya ngertiin aja lah mbar, lagian empatinya mana sih,” jawabku dengan kesal juga.
Lalu dia langsung keluar dari ruanganku dan nampak berbicara kalau bos hari ini moodnya jelek jadi hati-hati bisa gak approved kalau nyerahin hari ini, suaranya seakan sengaja keras agar aku mendengarnya. Aku jadi kepikiran Ana tuh kenapa ada apa kemarin dan bagaimana dia bisa pingsan tuh ngelawan apa atau melindungi kami dari apa.
Aku telepon Toby padahal dia juga dekat sebenarnya dan menyuruhnya untuk keruanganku.
“Kemarin apa yang kamu lihat?” tanyaku.
“Aku sih kurang paham ya, lebih tepatnya gak tau itu wujud apa, karna memang samar dan Ana berusaha kek ngelingkarin kita agar wujud itu gak ganggu,” jawab Toby
“Emang ngapain dia ganggu?” tanyaku.
__ADS_1
“Nah itu aku juga kurang tau, keknya ini berhubungan sama Asmirah,” jawabnya.
“Kok bisa?” tanyaku penasaran.
“Bisa, karna memang dia gak suka kita party mungkin, kek gak suka kita ngerasa bahagia, jadi ya dikawal terus,” jawab Toby serius.
“Bahaya dong kalau Kris nikah bisa-bisa hal buruk terjadi.” jawabku dengan seksama.
“Bahaya dan sangat bahaya, bisa jadi kesurupan atau benar-benar banyak gangguan,” jawabnya.
“Terus harus kek apa? Astaga ngeselin kali sih nih Asmirah.” jawabku mulai emosi.
“Caranya ya ngikutin bu Wulan tentang bulan full itu, dan itu harus berhasil biar semua aman.” jawabnya.
“Berarti kemungkinan kamu juga diikuti Roy?” tanyaku.
“Nah itu aku juga gak tau,” jawabnya bingung.
“Bahaya bener sih, ikut aku!” jawabku sambil mengambil tas.
“Kemana?” tanyanya.
“Dah ikut aja,” jawabku.
Aku mengajak Toby untuk datang ke kampung asri dan menemui mas Teguh karna mau komplen berkedok curhat agar bisa sedikit tenang pikiranku, Toby pun kaget aku tiba-tiba mengajaknya kesana karna memang ini sangat bahaya, dan kami pun juga gak bilang siapa-siapa jadi aku menyuruh Toby untuk bersiap juga, kali aja ada sesuatu atau bagaimana gitu mengingat situasi sekarang sedikit genting dan Toby besok sudah pergi. Perjalanan begitu mencengangkan karna kami diam dengan pikiran masing-masing, apakah kami akan bertemu mas Teguh atau bagaimana juga gak tau, padahal rumah itu memang cukup layak ditinggali tapi sudah terlalu kuno dan tidak direnovasi dengan layak padahal kaya ngapain juga kan tinggal dirumah itu, kalau dipikir dengan logika ini terasa aneh, kalau memang dia gak boleh tinggal dirumah pak Broto kan bisa beli rumah lain atau sewa, ini ngapain juga dirumah ini, sangat penuh tanda tanya.
__ADS_1